Suasana malam yang dingin diluar menemani perjalananku menuju rumah. Angin bertiup dengan santai menyentuh pipi lewat sebuah jendela. Oh, jendelanya terbuka sedikit. Tak berpikir lama, aku membuka jendela semakin lebar dan memejamkan mata seketika. Tanpa sadar aku tersenyum kemudian. Menurutku, itu adalah kebahagiaan sederhana.
Aku lebih nyaman berada di dalam kendaraan ini. Duduk dengan nyaman tanpa harus memberikan tenaga dan fokus melihat jalanan yang penuh dengan sorotan lampu kendaraan-kendaraan lain. Bersama orang-orang dari berbagai tujuan yang berbeda. Ada mahasiswa-mahasiswa pulang dari kampus, bapak/ibu pulang dari tempat mereka bekerja, nenek dan cucu dari tempat pembelanjaan, serta ibu dan 2 putrinya yang sedang tidur dengan lelap setelah seharian bermain. Melihat mereka saat ini adalah salah satu pemandanganku setiap hari pulang bekerja dalam kendaraan umum. Perut kosong, ingin tidur, secepatnya ingin sampai rumah, dan tentunya lelah. Lebih lelah melihat kendaraan-kendaraan lain mengepung dan menahan kami untuk pulang. Mataku sakit.
Ya, memang kebanyakan orang memilih untuk menggunakan transportasi pribadi untuk bepergian kemana-mana, contohnya berangkat kerja. Bukankah semakin banyak transportasi pribadi mengakibatkan kemacetan dimana-mana? Jalanan penuh dengan mobil-mobil mewah beragam yang hanya diisi dengan satu orang saja. Kendaraan roda dua pun sama, seperti semut-semut yang dapat masuk setiap celah jalan menambah kemacetan. Kapan semua ini berakhir?
Lupakan itu. Aku sedang menikmati pemandangan lampu-lampu jalan yang tegap bediri diatas pilar-pilar yang berbaris rapi menerangi jalanan tepat di kanan dan kiri dari tempatku berada.
Tinggal 4 orang lagi yang bertahan dan sabar dengan bergulirnya waktu yang berlalu begitu cepat namun menjengkelkan.
