Bunyi nyaring tanda siswa-siswi untuk menuntut ilmu pun berkumandang. Semua siswa tak lekang berlarian mengejar pintu gerbang yang hampir ditutup oleh sang penjaga lawang. Berbagai cara para siswa-siswi itu pun berusaha menyambut suka cita berbagai macam pelajaran yang memabukkan. Hingga tak sadar jika ada salah satu siswa yang sedikit tergopoh-gopoh mengejar waktu yang semakin sempit menyambutnya.
Dengan langkah panjang, lelaki itu berusaha mempercepat lajunya sedemikian rupa. Sembari menatap jam tangan hitam yang melekat pada lengan kirinya, ia tetap berlari kencang menuju sekolahnya yang mungkin tak mampu ia gapai secepatnya.
Ia pun mendengus kesal ketika pintu gerbang mewah berwarna perak itu tertutup rapat. Seakan-akan sang pintu begitu marah padanya hingga tak diperbolehkan untuk singgah ke dalamnya. Ia pun hanya bisa menyeringai kesal merutuki tingkahnya sendiri. Sedikit berusaha, ia pun mengetuk pagar sekolahnya, berharap sang penjaga masih terjaga di tempatnya. Namun sayang, ia sama sekali tidak dihiraukan. Ia pun hanya mampu mendecak kesal sekilas sembari menatap sekolahnya di balik pagar mewah itu.
"Telat lagi telat lagi." gumamnya.
Ia pun mulai membalikkan badan dan berniat untuk kembali pulang. Namun, segera ia berbalik ketika samar-samar sedetik sebelum ia berbalik, ia memandang dari luar pintu pagar ada seorang siswa yang berjalan di lobi sekolah.
"Yaa..!"
Ia pun sedikit berteriak lirih kearah lelaki yang memelankan laju langkahnya, yang hendak ke suatu tempat. Merasa terpanggil, lelaki itu pun perlahan menghentikan langkahnya dan berbalik arah. Ia memandang siswa tersebut yang sedang menatapnya di balik pagar sekolah yang tertutup.
"Ah! Yunho! Kau Jung Yunho? Benar kan? Ah jebal.. Bukakan pintu gerbang ini.." pinta lelaki tersebut memelas. Ia pun membubuhi dengan sedikit menggoyang-goyangkan pagar sekolah yang sangat kokoh tertutup itu. Jung Yunho, lelaki tersebut hanya memandang siswa yang terlihat tak serius untuk sekolah itu di balik pintu pagar.
"Jebal..! Bukakan pintu ini. Aku ada ulangan pada jam pertama. Aku mohon." melas lelaki itu kemudian. Jung Yunho hanya memandangnya datar. Berbisik dalam hati, 'Hhh.. Kim Jaejoong, kau selalu terlambat'
"Yunho-yah.. Jeball.." kali ini, Kim Jaejoong, nama lengkap siswa tersebut sedikit berteriak lirih sembari mengatupkan kedua telapak tangannya, seraya berdoa pada teman sekolahnya. Yunho pun hanya menghela nafas pelan. Ia pun berjalan pelan menghampiri pintu gerbang yang tertutup itu. Tampak paras Jaejoong pun berseri-seri seindah mentari pagi yang bersinar menerangi bumi. Ia pun tetap tersenyum sembari memperhatikan Yunho yang berjalan mendekat padanya. Dengan sigap Yunho pun masuk ke ruang jaga, tempat dimana sang penjaga gerbang terbiasa menyimpan kunci istimewa itu. Setelah dapat, Yunho pun mulai membuka gembok besar pada gerbang sekolah itu.
"Ya! Apa yang kalian berdua lakukan??"
Segera Yunho menghentikan kegiatannya ketika terdengar ada sebuah suara paruh baya di belakangnya. Ia tersentak hebat dan secara cepat menyembunyikan kunci di samping tubuhnya yang ideal. Sementara itu di sisi lain, Kim Jaejoong, dia hanya menggerutu kesal kepada sang penjaga yang sangat tidak tepat terjaga sekarang.
"Ah.. Ahjussi.. Apa kabar?" basa-basi Jaejoong garing sembari tersenyum ramah. Sang penjaga yang sangat mengenal Jaejoong itu pun hanya memandang Jaejoong datar kejam sembari menyilangkan kedua lengannya di dada tegapnya.
"Kau. Terlambat. Tidak boleh masuk." ulas sang penjaga sembari menggoyang-goyangkan salah satu telunjuknya kearah Jaejoong yang berada di seberang sana.
"Ah.. Ahjussi jebal.. Kali ini saja.. Aku ada ulangan matematika. Bisa mati aku jika aku tidak mengerjakan ulangan itu."
"Itu bukan urusanku. Ini sudah peraturan sekolah."
"Ahh.. Ahjussi.." sergah Jaejoong sedikit manja disana. Sang penjaga hanya menghela nafas lelah sembari memutar kedua bola matanya. Ia sangat hapal kelicikan Jaejoong dengan paras yang selalu dibuat memelas itu. Entah mengapa pandangan matanya mengarah pada kunci yang masih melekat pada genggaman Yunho disamping pinggang Yunho. Jaejoong pun sedikit memberikan kode kepada Yunho yang kali itu Yunho sedikit paham akan kode lirikan Jaejoong. Jaejoong pun perlahan malah mengajak ngobrol sang penjaga, hingga tak sadar jika Yunho pelan-pelan hampir memutar kunci gembok gerbang sekolah tersebut.
klak
Gembok gerbang pun terbuka. Dengan segera Jaejoong membuka gerbang sekolah cepat-cepat dan sedikit berlari ke dalam. Tak lupa ia pun segera menarik salah satu lengan Jung Yunho yang masih berdiri mematung di dekat pagar sekolah tersebut. Sang penjaga yang mengetahuinya pun hanya mampu berteriak sembari sedikit mengejar kedua siswa tersebut meskipun ia tak mampu menyeimbanginya.
"YA! Ya kalian berdua! Aish!" Sang penjaga hanya mampu menggerutu kesal akan kejahilan Jaejoong, salah satu siswa di Sekolah Menengah di kota terkemuka tersebut.
Jaejoong pun sedikit tertawa renyah setelah melakukan hal itu. Hingga tak sadar ia masih menggenggam cukup erat pergelangan tangan Yunho. Segera Yunho melepaskan genggaman tangan Jaejoong tersebut. Ia memandang Jaejoong geram.
"Appeona.." ujar Yunho kesal kearah Jaejoong yang masih sedikit tertawa di sampingnya.
"Ya! Jangan keras-keras tertawanya. Nanti kita ketahuan." Yunho sedikit menyenggol lengan Jaejoong yang berdiri di sampingnya. Mereka pun masih bersandar pada tembok di belakang kelas seniornya. Anjuran Yunho sepertinya terabaikan oleh Jaejoong. Jaejoong tetap tertawa lirih sembari memegang perutnya.
"Lucu. Lu-Lucu sekali." Ujar Jaejoong sedikit terbata-bata karena tawaannya. Yunho pun hanya mengerutkan keningnya memandang Jaejoong heran.
"Apanya yang lucu??"
"Kau."
"Eh? Aku??"
"Ye. Kau lucu. Mukamu lucu." Jaejoong kembali tertawa sembari membungkam mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Yunho pun semakin geram akan tawaan Jaejoong yang seperti menghinanya.
"YA! Apanya yang lucu?! Kau pikir aku badut, hah??" kegeraman Yunho sepertinya tak diperhatikan Jaejoong. Jaejoong kembali tertawa lirih. Entah mengapa pagi ini ia sangat terhibur dengan paras Yunho yang masih merasa tegang akan kelakuannya tadi.
Sedikit perkenalan, Jung Yunho merupakan siswa teladan di SMA tersebut. Tak ada satu siswa pun yang tak mengenalnya. Meskipun usianya masih belia, ia mampu mengalahkan kecerdasan anak kelas tiga SMA-meski ia masih duduk di bangku kelas dua. Bahkan pernah ia memenangkan lomba debat dengan mahasiswa. Kecerdasan otaknya tak mampu diragukan lagi. Penampilannya selalu rapi. Tegas. Dan bijaksana. Tak heran jika semua guru maupun murid di SMA tersebut mengaguminya. Dibalik kecerdasan otaknya yang brilian, ia pun memiliki paras yang tampan. Banyak siswi yang mendekatinya, namun entah mengapa ia selalu menghindar dengan kelihaian yang ia punya. Ia berpikir, bersekolah hanya untuk belajar. Apalagi dalam masa sekolah menengah seperti yang ia hadapi. Masa-masa tersulit di dalam hidup kebanyakan para remaja.
Lain halnya dengan Kim Jaejoong. Dia merupakan siswa yang terkenal juga. Namun sayangnya semua orang mengenal Jaejoong karena keburukannya, bukan kebrilian otak atau sikapnya. Jaejoong sering terlambat. Semua nilai mata pelajarannya tidak lebih dari angka enam. Terlebih dalam mata pelajaran eksak. Berkali-kali Jaejoong mendapat hukuman dikarenakan ia sering tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh para guru, atau ia asyik dengan dunianya sendiri ketika pelajaran sedang berlangsung. Semua guru sangat kualahan mengaturnya. Tak sedikit para guru di SMA itu yang menyayangkan akan tingah dan otak Jaejoong. Mereka sering mengumpat dalam hati, 'Ketampanan Jaejoong tak sebanding dengan otak dan tingkahnya. Buruk sekali.'
YOU ARE READING
Senior High School
Fanfiction[Warning! Adult sex in final story] Masa-masa SMA yang menyenangkan bagi Jung Yunho dan Kim Jaejoong, kedua lelaki muda itu pun tak sengaja bertemu dan menjalin hubungan pertemanan hingga lebih. Siapa yang menyangka perbedaan keduanya tak menyurutka...
