Part 1 - Starbucks

433 27 10
                                        

. 1.

Flora

Yang teman-temanku lakukan di hari minggu:

Selena sedang siap-siap pergi ke SCC untuk Yoga mingguannya bersama Aunt.Clara. Setelah itu dia akan merada di supermarket membantu Aunt Clara belanja, melamunkan barang-barang lucu di Forever 21 sambil melewati rak-rak susu bayi.

Artery masih ditempat tidur, dengan dua kantung chips rasa keju di kanan kirinya. Oh mungkin adiknya juga ikut-ikutan nimbrung dengan menaburkan badan kakaknya dengan remah-remah roti bakar.

Ferro biasanya nonton acara National geographic, penasaran bagaimana Homo erectus berasal, Atau kenapa menara pizza bisa miring(seharusnya dia lebih bisa menerima kenyataan), sembari mengaduk secangkir cokelat panas buatan ibunya yang enak banget.

Atau Cody, pacar tiga bulanku untuk semester ini sedang menghabiskan masa liburan musim panasnya di Glen Canyon. Yang aku tidak terima: dia pergi bersama Bella mantan pacarnya yang cantik banget. Seharusnya aku tahu motif-motif cowok yang punya mantan cantik. Omong-omong soal Cody, sebenarnya aku tidak terlalu menganggapnya menjadi pacarku sih, tapi apa yang kau lakukan jika laki-laki populer disekolahmu meneleponmu tengah malam menanyakan apakah tidurmu nyenyak atau tidak? Seharusnya dia lebih pintar selangkah didepan otak kera. Jelas-jelas dia adalah mimpi buruk. Cody juga selalu mengirimkan tujuh tangkai bunga mawar setiap hari di tasku, katanya apakah aku mau menjadi pacarnya, atau tidak. Dia tipe cowok obsesi. Jadi, atas usulan kakakku yang paling ganteng, sebaiknya aku menerimanya untuk mempermudah semuanya.

Yang aku lakukan dihari minggu:

Menahan sakit hati karena kata ibuku aku anak tidak berguna, hanya gara-gara lupa menyirami bunga-bunganya setiap pagi. Atau karena lupa mengepel pipis anjing Siberian Husky milik Glenn.

Lalu berpikir untuk mengirim pesan singkat untuk siapapun yang bersedia menemaniku untuk nongkrong sore hari di Maple Leaf, atau di Cameron Market.

Membereskan kamar tercintaku yang kena cairan merah dimana-mana. Jadi kemarin malam Selena berkunjung, dan (seperti biasa) membuat kamarku menjadi seratus kali lebih berantakan. Aku membereskan cairan-cairan merah yang berceceran di rak buku-buku fantasi mahalku, dan diselimut putihku. Kamarku jadi seperti tempat pembunuhan.

Yang terakhir bagaimana caranya kabur lewat jendela menuju pekarangan tercintaku, menghindari Mom yang semakin tua semakin suka marah-marah. Atau kabur dari lingkungan anti social ke peradaban sebenarnya. Aku selalu memimpikan bermain dengan anak-anak tetangga yang seumuran di komplek-komplek perumahan mewah seperti Baverly Hills, atau Primrose. Shopping setiap minggu ke Topshop, atau menjamah makanan China di festival musim panas di jantung kota Seattle. Bukan terdampar selama bertahun-tahun di perumahan reot Camden Village di pinggir hutan Camden bersama kurang dari lima belas tetangga sesepuh di kiri kananku. Bukan mengepel pipis anjing setiap hari, atau kekurangan teman untuk diajak nongkrong.

Kadang aku bingung dimana pikiran Dadku. Dia punya segunung uang di Washington, dan sepuluh kilo emas di California. Dia lebih memilih dipinggir hutan dengan hutannya sendiri yang berada tepat dibelakang rumah kami dengan pohon-pohon Maple yang padat, dan sinar matahari yang kurang. Seharusnya aku bisa berjemur di Hawaii, atau menyewa apartementku sendiri. "Supaya kita lebih menyatu dengan alam" begitu katanya jika aku Tanya kenapa.

Sebagai gantinya, aku punya Bentley imut kesayanganku. Tapi jarak Camden Village ke Topshop sangat jauh, aku akan mengalami mual dijalan sebelum sempat belanja.

Ya pokoknya kau akan sangat menyesal kalau jadi aku. Kau akan mendengar teriakan Mom setiap lima menit sekali, seperti:

"FLORA! Matikan tape-nya!"

Mapple FallsStories to obsess over. Discover now