We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

PROLOG

128 26 13
                                        

Saat ini aku tengah duduk di dalam sebuah perpustakaan di kawasan Ibukota mengawasi seorang laki laki blasteran Indonesia - German - Timur Tengah. Bisa dibayangkan betapa tampannya dia dan betapa mencoloknya dia diantara orang Indonesia. Tubuhnya yang jangkung dan padat terlihat begitu proposional dan tak berlebihan, rahangnya yang tegas, hidungnya yang mancung, dia tidak punya kulit putih seperti orang German atau kulit sawo matang seperti orang Indonesia, dia berada di tengah tengah keduanya, seperti kulit orang Timur Tengah.

Rambutnya.. jujur aku sangat suka rambutnya yang hitam bergelombang sayangnya dia membiarkannya acak-acakan. Sejauh ini tak ada aktivitas yang mencolok darinya, dia juga terlihat seperti remaja laki-laki pada umumnya, tapi gayanya.. entahlah gayanya terlihat sedikit berbeda tapi keren. Uhm juga dia terlihat sedikit cuek dengan sekitarnya, mungkin karena dia sedang sibuk dengan yang dia cari dan juga ada headset putih yang menyumpal telinganya sedari tadi.

Setidaknya itulah hasil yang kudapat setelah mengamatinya selama satu jam dari jarak sekitar 10 meter. Aku tidak mengerti mengapa Mrs Mira memberiku tugas aneh untuk mengawasi seorang remaja super tampan itu, aku saja bisa betah hanya dengan memandangi wajah itu meski sudah satu jam lamanya.

Laki-laki yang tak kuketahui namanya itu akhirnya meraih sebuah buku dari rak paling pojok setelah satu jam ia hanya berkeliling dan melihat lihat, tubuhku terkesiap. Ia berjalan menuju kasir untuk membayar buku itu, aku berdiri dari dudukku dan meraih beberapa buku di rak buku dekatku lalu berjalan tergesa menyusulnya ke kasir sebagai kamuflase agar bisa tetap mengawasi laki laki itu.

Aku berdiri sekitar dua meter di belakangnya, ada seorang wanita paruh baya yang menjadi pembatas ruang antara aku dan dia.

Si tampan blasteran itu menyodorkan selembar uang seratusribu-an lalu pergi begitu saja bahkan sebelum si Mbak kasir memberikan kembalian uangnya. Wah, dia pasti anak orang kaya. Aduh, aku harus cepat kalau tidak aku bisa kehilangan jejaknya.

Setelah membayar buku yang tak tahu buku apa itu karena aku mengambilnya secara asal, aku segera berlari mengejar laki-laki itu. Aku mengatur langkahku sedikit demi sedikit untuk berubah pelan karena aku kini sudah berada tepat di belakang laki laki itu, aku menjaga jarakku dua meter di belakangnya.

Dia meraih pintu kaca dihadapannya mendorongnya dan ia keluar, saat aku akan lewat dia melepaskan pegangannya pada handle pintu.

'Bukk!'
Aduh. Tega sekali dia melepaskan handle pintu itu saat aku baru akan melangkah di belakangnya, hingga pintu itu berayun kembali dan menghantam dahiku dengan keras.

Aduh, sakit sekali dahiku, tega sekali sih. Aku mendorong pintu dengan cepat lalu beranjak mengejar laki laki itu sebelum dia terlalu jauh untuk minta pertanggung jawaban atas dahiku. Kemungkinan dahiku akan memar dalam waktu 24 jam kedepan.

Aku mengambil langkah lebar untuk mengejar laki laki tega itu, ketika aku hampir menyamai langkahnya, kuraih lengannya dan kutarik untuk memaksanya berbalik. Berhasil dia berbalik.

Mulutku sudah membuka, bersiap untuk marah dan protes atas tindakannya itu tapi sedetik kemudian mulutku mengatup lagi.

Aku membeku di tempatku, dia jauh lebih tampan jika dari dekat, sungguh aku tak berbohong sama sekali. Dia melepas headset-nya lalu menatapku tajam, sementara aku terpaku di tempatku, kehilangan kata-kata.

Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia menunjukku dengan dagu seolah memberikan makna tersirat 'Ada apa?'.

Aduh, aku lupa tadi apa yang ingin kusampaikan padanya, oh iya aku akan marah padanya ya?

Aku mencoba mengatur nafasku, "Kau tidak lihat--"

"Riley!" pekik seorang gadis sangat keras hingga memotong kata kataku.

RileyStories to obsess over. Discover now