One Shoot!
Kisah nyata yang lebih saya kembangkan lagi. Perpisahan akan menghancurkan segala kebahagiaan, namun itu belum berakhir bukan? Inilah yang kami rasakan. Memiliki seorang teman yang hanya bertatap muka seratus hari. Tanitha seorang pelajar...
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
"Ah sial! Terlambat di hari pertama," ucap Tanitha setelah melihat jam weker diatas nakas dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Menata rias wajah putih mulusnya dengan sedikit bedak dan lip-gloss tidak ketinggalan menyisir rambut lurus sepinggang. Perfect! Tanitha siap!
***
"Dicatatan kamu, kamu sudah pindah sekolah lima kali, dan hari ini yang keenam. Ada apa Anda pindah kesekolah ini?" tanya seorang guru BP, Tanitha hanya menundukkan kepalanya. "Orang tua kamu dimana? Kenapa hanya sendirian? Kalau ditanya itu dijawab biar saya tau kenapa Anda pindah kemari," lanjutnya kesal karena Tanitha tidak menjawab segala pertanyaannya. Memang benar, Tanitha sudah hampir memasuki seluruh sekolah daerah Jakarta. Seragam sekolah saja sudah sangat banyak dalam lemarinya. Tanitha tau ia tidak mungkin melakukan ini jika saja orang tuanya bisa menetap pada satu wilayah.
"Baiklah, Pak Ridwan!" Ibu Susi menolehkan kepalanya kearah belakang "Beri dia baju sekolah dan antarkan dia menuju kelasnya," lanjutnya sambil meninggalkan ruangan tersebut.
Dengan langkah gontai Tanitha mengikuti perjalanan Pak Ridwan. Melewati koridor sekolah dan melihat segerombolan cowok-cowok tampan namun suka bolos.
"Heh!" teriak Pak Ridwan membuat kepala Tanitha ikut menoleh ke arah tatapan Pak Ridwan "Sudah tau ini masih jam KBM, malah diluar. Masuk kelas cepat! Atau saya panggilkan guru kesenangan kalian," lanjutnya sambil menggerakan tangan untuk menyuruh pergi.
"Yaelah, Pak! Sejam doang!"
"Jangan, Pak! Mending kenalin kita sama tuh murid baru," ucap salah satu cowok dari empat orang itu dengan mengedipkan matanya. Tanitha hanya menatapnya kosong dan menundukkan wajahnya.
"Masuk ke kelas cepat!" perintah Pak Ridwan berhasil membuat seluruhnya pergi dari tempatnyadan, Pak Ridwan dan Tanitha melanjutkan perjalanannya.
"Baiklah, ini kelasmu dan bersikaplah dengan baik. Murid disini kadang kurang ajar. Anda sudah besar jadi saya tidak perlu mengantarkanmu sampai perkenalan di dalam, saya permisi," ucap Pak Ridwan tepat didepan pintu masuk kelas kepada Tanitha. "Baiklah Pak, terimakasih," balas Tanitha dengan senyuman manis dan mengetuk pintu kayu tersebut.
"Permisi, apa ini kelas 10 Ipa 7?" ucap Tanitha setelah mengetuk pintu kayu dan membukanya. Seluruh tatapan para siswa tertuju padanya. Tanitha meneguk salivanya dengan susah. Berjalan menuju arah guru berdiri dan berbicara sedikit dengan guru yang sedang mengajar.
"Oke anak-anak, sekarang kita kedatangan siswi baru yang cantik," ucap Pak Jiwo sebagai guru yang mengajar sekaligus wali kelas 10 Ipa 7. Pak Jiwo memegang pundak Tanitha yang sedang menggenggam tali tasnya.