Remang-remang lilin. Disekitar mantra, soneta. Berpagut senyap, pualam gelap. Terseok-seok sisa tapak, jejak seorang asing. Bersemangat, gerak halus angin mengibas poni tipisnya. Menelusuri celah rembulan. Yang mengatup disisi tebing. Terjal berkerikil. Curam menyulam.
Aku berjalan, berkeliling. Mengikuti aturan angin. Yang menabrak Pinus tinggi. Cemara atapun lengkungan Akasia yang hampir menyerempet tanah. Memanjang meraih langit gelap. Ternyata tanganku hanyalah organ kecil, bahkan untuk menyentuh dedaunan. Dahan dan ranting begitu tinggi, hingga aku tak kesampaian. Sedang tempat itu hanya dipenuhi pohon pencakar langit. Kuharap aku tak hilang di Alaska atau Colorado. Bahkan jika itu adalah Kota Musim Semi Abadi. Berjajar pegunungan di Antioquia. Atau tengah kota metropolit. Banyak hal. Sudah lama sejak tersesat. Lupa, tak mengingat apapun. Aku terdiam menatap tanah yang kupijaki, tak jelas. Terlalu gelap. Hanya akar-akar gambut basah, nampak subur. Tanpa penabur. Membius pelan. Hypersomnia.
Katanya, mereka akan membawaku melihat Nebraska, yang penuh jerapah berleher panjang. Juga langit biru lazuardi. Ah, rupanya hanya omong kosong. Mereka bahkan tak tahu. Aku telah tersesat terlalu jauh.
Tertegun beberapa saat. Suara mengkerat mengendap-endap. Melewati semak dan rumput liar. Hari makin bersembunyi. Mendadak warna Bulan berubah, semakin dekat dan membesar. Pastinya bukan Betelgeuse. Karena ia akan lebih besar dari itu. Di sepanjang jalanan setapak hanya ada tanah lembab, Alder, Cemara, Spruce, dan Liana rambat. Sesuatu terasa mendekat. Entah sedang mengintai atau seseorang yang kukenal. Menyeret sepatu, saling bertubrukan dengan ranting yang jatuh. Makin jernih dan keras. Aku menoleh, terkesiap. Ini bukan seperti novel Lucid.
Sebilah belati keperakan. Mematung didepan wajahku. Ujungnya runcing dan tajam seperti duri di mawar merah.
“Jangan bergerak” pinta seseorang dengan suara berat. Mirip hembusan buritan yang hampir tak terdengar. Bisikan yang mematikan. Pikirku.
Pria itu maju selangkah. Wajahnya tertutup bias rembulan diantara daun-daun panjang berduri. Celah-celah batang tipis Akasia, menyorot mata merahnya. Pakaiannya serba hitam, termasuk sarung tangan. Matanya hampir tertutup poni rambutnya. Aku terkecoh, kehadirannya ditengah hilangnya diriku sendiri. Selangkah, lalu selangkah lagi. Belati itu masih dihadapan bola mataku yang melebar. Yang ujungnya mengkilap. Melengkapi cemas dan gelisah. Ia membisu.
Aku membisu.
Perlahan diangkat belati itu. Ancang-ancang kebelakang. Berkelit dirantai yang terselip diantara ikat pinggangnya. Nampak besi berkarat kecoklatan. Wajahnya berbinar tanpa air muka. Sinar kuning meneduhkan wajah. Datar. Tanpa teriakan aba-aba, belati itu terlempar dengan mudah. Lurus memotong sehelai rambutku. Bungkam memakan bahasa. Tiada cengkerama. Hanya lolongan serigala atau Grizzly disekitar lembah yang jauh. Atau Lynx di wilayah Siberia. Dan gagak hitam kedinginan. Aku memejamkan mata. Entah tertancap dimana belati perak itu sekarang.
“Kau membuat buruanku kabur” kudengar ia menghela nafas panjang. Aku menatapnya tak paham.
Seseorang pasti telah mencampur obat tidurku dengan sesuatu. Semacam Phenobarbital. Lagipula aku sedang melayang bebas sekarang. Sesaat aku membuka, tetap begitu sajalah. Tirai gelap, lampu penerang dimatikan. Desusan angin laut. Asin kukecap. Entah itu hipersomnia atau insomnia. Langai berjatuhan dari ilalang didepan rumah. Meminta darah, meminta nyawa. Sudut-sudut tanpa pena. Debu kerikil. Teringat. Mereka yang memaksaku menenggak semua Thorazine itu. Aku tidak tersesat.
Pria itu mendekat. Langkah kakinya masih bersuara serak ditengah senja. Belati itu terputus dari telapak tangannya. Tatapannya kecut. Entah bermakna bagaimana. Nafas mengepul. Suhu meningkat tiap detiknya. Mungkin -5 derajat Celcius. Sayu dikelopak mataku. Ia mengeratkan jaket tebalnya.
“Apa kau tuli?” tanyanya sinis. “Kau baru saja menggagalkan perburuanku”
Tersadar. Aku masih baik-baik saja. Kurasa suhu dingin ini hampir saja membekukanku. Seperti daerah Semenanjung Skandinavia. Nampak Juniper di sepanjang jalan setapak. Waktu berpacu, tidak ada kata berhenti. Poros yang melelahkan. Melemahkan tiap nadi. Deru nafas pria itu. Masih bersamaku sekarang. Entah dimana.
“Apa aku baik-baik saja?” tanyaku padanya.
Aku membungkuk, meneliti kaki, paha, telapak kaki. Juga tangan, perut dan kepala. Masih belum cukupkah pukulan yang kudapatkan? Semacam potongan mimpi yang dibatasi kegilaan. Pria itu menahan tawanya. Ia maju beberapa langkah. Tepat didepanku. Ia menunjuk kearah belakang. Aku mengikuti gerak lengannya.
Belati itu tertancap di batang tebal Spruce. Aku mendesah lega.
Dengungan bertubi menusuk gendang telinga diselingi jeritan. Mendadak pria asing itu membaur dengan sepoi dedaunan berduri. Bergerak tanpa poros 360 derajat. Terngiang tawa, racauan, pilu diotakku. Aku terjatuh. Limbung, menutup kedua telingaku yang tak berhenti mengoceh. Suara rantai bergerigi dipinggang pria itu. Menepis kesadaran. Hitam. Dimakan lelap bias sinar jingga. Pelangi gelap tak berwarna diujung cakrawala. Memudar. Menelan keberadaanku di sekitar Gobi subur.
Berdiri di waktu berbeda. Pinus dan Liana hilang mengawang. Pulas tanpa memori. Lagi-lagi begini.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Someone Who Walk The Midnight
FantasiaAleah. Gadis belia yang cukup rumit hidupnya. Tekanan fisik dan psikis dari kedua orang tuanya cukip membuatnya sering melakukan hal-hal gila. Termasuk hilang dan tersesat dalam dunianya sendiri. Pria psiko. Keluarga bahagia dan perasaan cinta. Dime...
