Cindy begitulah orang memanggilnya, Cindy adalah sosok wanita yang cantik dan mempunyai senyuman yang manis.
Cindy besar di Los Angeles dan hidup bersama dengan ayah dan ibunya. Cindy tidak mempunyai seorang saudara kandung namun didalam lubuk hati Cindy ia ingin memiliki saudara kandung.
"Hei" lamunan Cindy terhenti oleh suara yang mengagetkannya. Cindy menolehkan kepalanya dan tersenyum hangat kepada Paul sang tangan kanan ayah nya. Sebenarnya Paul adalah anak pengganti dari seorang tangan kanan ayahnya.
"Ada apa?"
Paul berdiri di samping Cindy dan melihat keluar jendela. "Tidak, hanya saja aku ingin mengajak mu berkencan"
Paul memang tidak terlalu tua umur mereka hanya terpaut tiga tahun, Cindy yang baru memasuki umur 20 sedangkan Paul 23 dan Paul adalah anak dari pegawai ayahnya yang bernama Robi. Mereka sering menghabisakan waktu berdua.
"Cih, berkencan?" Dengus Cindy dan menatap Paul dengan alis di angkat sebelah. "Yang benar saja"
"Hei, bukankah kita sering berkencan?"
Cindy mendengus atas pernyataan Paul, "Anggap saja waktu itu aku sedang kesepian"
"Ayolah Cindy, aku ingin mengajakmu membeli boneka"
"Apa kau bodoh, Paul?" Paul hanya menggelengkan kepala. "Jika kau ingin membelikanku sebuah boneka seharusnya kau tidak perlu memberitahuku terlebih dahulu"
Paul memutarkan matanya dengan malas, "Astaga, mengapa kau mengguruiku? Kau tinggal jawab mau atau tidak?"
"Baiklah Paul, ijinkan aku pada Daddy"
"Sudah ku lakukan itu Nona"
Akhirnya Cindy dan Paul pergi untuk menghabiskan waktu bersama disebuah pusat perbelanjaan di kota.
"Apa kau haus?" Cindy hanya menganggukan kepalanya. "Baiklah tunggu disini"
Paul pergi meninggalkan Cindy untuk membelikan minuman untuk Cindy. Sedari tadi mereka berdua menghabiskan untuk bermain game.
Cindy memejamkan kedua matanya dan mengatur nafasnya. Cindy merasakan hawa dingin yang menyentuh pipinya.
"Kau" tunjuk Cindy pada Paul.
"Apa?" Tanya paul dengan memberikan minuman dingin pada Cindy.
Cindy mengambil minuman itu dan langsung di habiskan karena terlalu haus. "Kau menghabiskannya?" Ucap Paul tak percaya.
Cindy hanya menganggukan kepala dan bangkit berdiri. "Ayo, kita mulai lagi"
Mereka berdua mulai bermain kembali dan tiba lah mereka di tempat pusat boneka, Cindy segera menarik lengan Paul untuk masuk kedalam.
"Paul, kau berjanji bukan untuk membelikanku boneka?"
"Well, sebenarnya tidak"
"Kau membohongiku" ujarnya dan menghentakkan kakinya.
Paul tersenyum dan mengacak rambut Cindy dengan gemas. "Hei, tentu saja aku akan membelikanmu boneka"
Cindy yang mendengarnya pun langsung menubruk Paul dan memeluknya erat. "Terima kasih" ujarnya sembari mengecup pipi Paul.
YOU ARE READING
CINDY
RomanceCindy, begitulah namanya. Ia dari keluarga yang terhormat dan terpandang. Ia adalah sesosok wanita yang cantik dan mandiri. Ia memiliki sifat yang keras kepala seperti ibunya, ia selalu di manjakan oleh ayahnya. Namun, Cindy tidak ingin larut dala...
