Prolog

961 66 10
                                        

Aku memandangi kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang di depanku. Tidak ada angkutan umum, baik angkutan kota—yang biasanya selalu melimpah-ruah dengan berbagai macam jurusan—maupun bus (memangnya kamu pikir pukul berapa sekarang? Bus hanya beroperasi sampai pukul 5 sore, Gadis Pandai!). Sial, bahkan suara di dalam diriku sendiri mengataiku bodoh (aku tahu ungkapan "gadis pandai" itu hanya majas). Yang ada hanya kendaraan-kendaraan pribadi (lalu apa yang bisa kuharapkan dari kendaraan-kendaraan pribadi yang minim berseliweran itu? Berharap ada orang yang kukenal sedang kebetulan melewati daerah ini dan memberiku tumpangan sampai ke rumah?).

Sial. Aku kembali merutuk dalam hati. Aku baru tahu latihan paduan suara untuk persiapan welcoming party (semacam penyambutan anggota baru paduan suara di kampusku) bisa sampai pukul 10 malam. Kemarin-kemarin aku membolos latihan sih, dan dengan bodohnya aku menolak tawaran Sivia (temanku yang juga ikut UKM* paduan suara) untuk diantarkan pulang olehnya. Kalau tahu tidak ada angkutan umum begini, aku tidak akan sok menolak dengan alasan takut merepotkan!

Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Menginap di sekretariat paduan suara? Tidak, ruangan itu dingin. Menginap di ruang inventaris? Bersama partitur-partitur lagu, keyboard, amplifier, dan inventaris paduan suara lainnya? Gila, itu pilihan yang lebih buruk. Sial. Aku merutuk lagi.

"Lo anak PSM**?"

Aku menoleh dan mendapati seorang pemuda yang menyapaku dari atas motornya. "Iya. Kok tau?"

"A lucky guess," pemuda itu melihat sekeliling. "Jam segini udah nggak ada angkot. Dan di dalem udah nggak ada orang...," pemuda itu menatapku. "Gue anter lo pulang aja."

Apa katanya? Gue anter lo pulang aja? Itu bukan sebuah penawaran, tapi sebuah... pernyataan? Perintah?

"Kenapa bengong?"

Aku tidak mengenal orang ini, dan aku yakin dia juga tidak mengenalku. Bagaimana kalau mengantar pulang ini hanya kedoknya? Bagaimana kalau dia akan menculikku? Menjualku ke luar negeri dan aku akan dijadikan wanita...

"Gue juga anak PSM. Anak baru. Tenor 2. Gue liat lo tadi di sopran 2, bener?"

Sial, ternyata tadi bukan tebakannya yang beruntung, tapi memang dia sudah melihatku saat latihan.

"Ini KTP dan KTM gue. Gue tau lo takut sama gue." Ya ampun, pikiranku terbaca. "Lo boleh tahan itu dan lo balikin lagi setelah gue anter lo selamat sampai rumah."

Aku menerima KTP dan KTM yang disodorkan pemuda tersebut.

Mario Andika. Farmasi 2014.

Begitu kamu mengantarkan aku sampai ke rumah, begitu pula kisah kita bermula.



* UKM: Unit Kegiatan Mahasiswa, ekstrakurikuler tingkat universitas/perguruan tinggi

** PSM: Paduan Suara Mahasiswa

Endless MelodiesWhere stories live. Discover now