Di luar sana, para wartawan berdesakan sambil meneriakkan kata kata yang tidak bisa di tangkap jelas. terdengar seperti sekumpulan lebah terbang. Shahnaz mengintip melalui tirai jendelanya. sangat ramai. Hhhh.... desah Shahnaz. ia lelah, lelah dengan para wartawan dan paparazzi yang selalu mengejar ataupun mengambil gambarnya tiap kali ia berada di luar.
Shahnaz meraih telepon genggamnya, menekan nomor yang sudah di hafalnya di luar kepala. kemudian menunggu orang yang di hubunginya menjawab. 'haloo..' jawab suara di seberang sana. "Cait, datanglah ke rumahku segera. jangan lupa bawa pengawal pengawalmu. tak perlu banyak banyak." ucap Shahnaz. 'ck,,, nanti saja naz, ini masih pagi.' ucap orang yang di hubungi Shahnaz, Caitlyn. "oh ayolah cait. banyak wartawan di depan rumahku. aku tak bisa kemana mana jika begini terus. kau tau sendiri kan, seperti apa para wartawan tersebut. mereka tak akan pulang hingga sore sekalipun.." mohon Shahnaz. 'kalau begitu, kau tak usah keluar. diam saja di rumahmu itu.' kata Cait. "tak bisa, aku harus belanja. kebutuhan bulananku sudah habis." 'ck,ck.. baiklah, sebentar lagi akan kubereskan. daah..' "thanks cait, kau memang yang terbaik" 'haha, ada maunya saja kau....' tut tut... Shahnaz segera menutup teleponnya sebelum Caitlyn menyelesaikan kalimatnya. kemudian, Shahnaz masuk ke kamar mandi.
*######*
Astha melonggarkan dasinya, membuka kancing teratas kemejanya. keringat dingin membanjiri tubuhnya. ia menatap tumpukan berkas berkas yang baru diantar sekretarisnya. hhhh.... keluhnya dalam hati. 'yang tadi aja belum selesai, udah datang lagi' gerutunya dalam hati. Astha kemudian memencet tombol di telepon kantornya yang menghubungkannya dengan orang kepercayaannya sekaligus sepupunya, Ron. "ron, saya serahkan tugas pembangunan mall di bandung ke kamu. pokoknya, selama pembangunan kamu yang pantau. sampai selesai." setelahnya Astha langsung menutup panggilan tanpa mau mendengar jawaban sepupunya tersebut. kemudian dia menghubungi sekretarisnya, Zara. 'ada apa pak?' tanya sekretarisnya lebih dulu. "gini, berkas yang kamu kasih tadi kamu yang tangani. dan tolong kosongkan jadwal sama selama 5 hari kedepan. saya akan tangani klien kita yang dari L.A itu." jelas Astha. 'siap pak. oh ya pak, apa bapak mau tiket dan hotelnya saya pesankan sekalian?' "oh ya. tolong pesankan ya." 'baik pak. selamat bekerja'. dan sambungan pun terputus. Astha menghembuskan nafas lega. setidaknya tidak banyak yang perlu ia tangani langsung. Astha menatap bingkai foto yang terpajang di mejanya. diraihnya bingkai tersebut dan ditatapnya dalam dalam foto di dalamnya. diperhatikannya perempuan yang ada dalam foto itu. lama kelamaan, tatapannya berubah sendu. di ciumnya foto tersebut lama. ' kamu menghilang kemana? terlalu lama kamu pergi Ry, aku rindu kamu Ry.' ucapnya dalam hati.
setelah 16 jam penerbangan, akhirnya tibalah Astha di L.A. saat keluar, seseorang telah menunggunya. berdiri tegap dengan setelan jas hitam dan kacamata hitam. pria tersebut menghampiri Astha. "anda adhiyastha adinan dari adinant's group?" tanya pria tersebut. "ya, saya adhiyastha. anda?" ujar Astha sambil mengulurkan tangannya. "ah, saya josh. saya diutus oleh atasan saya untuk menjemput anda. dari Armaghan Inc." josh menjabat tangan Astha. kemudian josh mengantar Astha ke hotel yang sudah di bookingnya.
*######*
ting tong.. ting tong.. ting tong..
Shahnaz yang sedang mandi mengacuhkan bel tersebut. Shahnaz tak juga keluar dari bathup nya. ia sengaja memperlama mandinya. biarlah, pasti itu caitlyn. ia sudah tau, dari caranya memencet bel dan hilangnya suara suara ribut di luar rumahnya. dan tak lama lagi caitlyn akan menelponnya. 1 2 3.. kriiingg..... telepon di dekatnya berbunyi. haha, benarkan... diangkatnya telepon dan caitlyn sudah berteriak di sana. 'hei naz, cepat buka pintumu. aku sudah mengusir para wartawan itu. sekarang biarkan aku masuk!' teriak caitlyn. shahnaz tak menjawabnya. ia keluar dari bathup dan membilas sisa sisa gelembung yang masih menempel di tubuhnya. kemudian berpakaian ala kadarnya saja.
di bukanya pintu, dan terpampanglah wajah kesal caitlyn. haha, shahnaz tak mampu menahan tawanya. seketika meledaklah tawanya saat dilihatnya Caitlyn yang akan mulai mengoceh lagi. caitlyn masuk begitu saja tanpa peduli dengan shahnaz yang sudah terbahak di depan pintu. "hei naz, kamu tau kan alasannya para wartawan itu selalu memburumu?" tanya caitlyn. "tentu saja aku tau. tidak mungkin aku tidak tau" jawab shahnaz. "lalu, kenapa kau tak mau kembali ke dunia permodelan?" tanya caitlyn lagi. "aku tak mau. sudah cukup. waktunya untuk berhenti sekarang." jawab Shahnaz. "tapi mengapa kau keluar begitu saja? tanpa memberi alasan yang logis. banyak orang penasaran kau tau. kalau kau begini terus, wartawan tak akan berhenti mengejarmu." jelas Caitlyn. kemudian menenggak air hingga kandas. "asal kau tau saja, kamu mungkin tak kerepotan naz. tapi aku yang kerepotan. belum lagi kontrakmu yang terakhir belum kamu selesaikan. mereka masih menunggumu naz." sambungnya lagi. "aku tak mau." ucap shahnaz. "ck, aku punya usul. begini saja, kontrakmu yang terakhir kau selesaikan. setelah itu, kau adakan konferensi pers. tentang alasanmu keluar yang sebenarnya. agar para wartawan berhenti mengejarmu. bagaimana?" "hmm.. ya boleh. kau yang urus." "oke.. sip."
*######*
"halo om. begini om, aku menolak kerjasama kita dengan Armaghan Inc. alasannya akan kujelaskan nanti saat aku kembali" ucap Astha pada orang di seberang. 'ya, terserahmu lah As' pasrah orang yang di hubunginya. tuut tuut.. Astha menutup sambungan telepon. dilemparnya ponselnya ke kasurnya asal. di raihnya majalah di meja dengan malas. ia tak tau lagi bagaimana menjelaskannya nanti, yang jelas urusannya sudah selesai dalam 1 hari. di bukanya majalah asal, tak berminat. namun tatapannya berhenti di salah satu halaman yang menampilkan foto seorang laki-laki dengan mobil dibelakangnya. ia fokuskan penglihatannya. laki laki itu, terlihat familiar bagi Astha. 'tunggu... wajahnya seperti dery. tapi tak mungkin ini dery. ah, tapi aku harus bertemu dengannya.' batin Astha. di carinya profil model tersebut. setelah mendapat alamat agency yang menangani model tersebut, Astha memberhentikan taksi dan pergi ke alamat tersebut.
hmmm... besar juga kantornya. Astha menghampiri meja resepsionis. "selamat malam tuan. ada yang bisa saya bantu?" tanya sang resepsionis. "ya, saya mau bertemu orang ini." Astha menunjukkan foto manajer dari model yang dicarinya. "apa sudah ada janji dengannya? karena dia sekarang sedang keluar." ujar si resepsionis. "bersama modelnya? kara kemal?" tanyanya. "ya, sedang ada pemotretan" "terima kasih". Astha keluar, mencari taksi. "hey tuan!" Astha berbalik merasa ada yang memanggilnya. seorang lelaki menghampirinya. "anda adhyastha adinan kan? apa yang kau lakukan disini?" tanya lelaki tersebut. Astha bingung, bagaimana orang ini bisa mengenalnya. "ah ya. darimana kau tau? aku mencari manager dari kara kemal" jawab Astha to the point. "aku salah satu kru dari film yang di sponsori Adinant's Group. Willy. kau mencari Caitlyn? ah dia sedang menemani Kara pemotretan. kalau kau benar benar perlu aku bisa mengantarkanmu" "ah ya. antar aku".
Astha dan Willy memasuki gedung yang penuh dengan mesin mesin. Willy berjalan lebih dulu, mengarah ke ruangan bertuliskan 'dressing room' di pintunya. cklek, "cait, ada yang mau bertemu denganmu." willy menunjuk Astha yang tak jauh darinya. "ah, ada apa?" tanya Caitlyn. "mencari Kara kemal. dimana dia?" ujar Astha langsung. "sebentar, naz! ada yang mencarimu!" teriak caitlyn. tak lama Shahnaz keluar, setelah mengganti bajunya dan melepas wignya. "siapa?" tanya shahnaz pada caitlyn. "dia" caitlyn menunjuk Astha, Shahnaz menoleh. kemudian tersenyum, "ah, Astha... kau menemukanku." ucapnya santai. Astha terpaku, tatapannya seolah olah tak percaya. "kau,, dery? ini benar dery? kenapa namamu kara kemal? astagaaa" Astha mendekat ke arah Shahnaz. "ya, ini aku. aku model pria disini. jadi aku mengganti namaku" "aku menemukanmu Ry.. setelah sekian lama, oh aku tak percaya ini.." Astha menatap muka Shahnaz. "ya, kau menemukanku" ucap Shahnaz santai. "jadi, jika aku melamarmu kali ini, apa kamu akan menerimaku dery?" tanya Astha ragu. "ah, kau akan melamarku tha? haha,, aku tidak tau" jawab Shahnaz santai. "dery, kamu gak mau balik ke indonesia? aku akan melamarmu di depan keluargamu nanti. ayolah" ajak Astha. "tidak tha, aku tidak mau. dan aku menolak lamaranmu. kamu tau kan, aku tidak mau menikah. aku punya kehidupan disini tha. jadi aku tidak mau kembali." jelas Shahnaz. raut muka Astha berubah sendu, "ah, kamu menolak lamaranku lagi? yaa.. baiklah. kemanapun kamu pergi aku akan menemukanmu Ry. dan aku tidak akan pernah berhenti sampai kau menerimaku." ujar Astha sambil berlalu. ia keluar dari gedung tersebut, Willy mengikutinya dan mengantarnya ke hotel. Astha berterima kasih pada Willy. yah meskipun ia ditolak, setidaknya kini dia tau Shahnaz baik baik saja. Astha berjanji pada dirinya bahwa dia tak akan menyerah begitu saja. ia yakin suatu saat Shahnaz akan menerimanya. banyak cara yang bisa dilakukannya. ya, Astha memiliki jutaan cara lain di fikirannya.
*################*
haloo... ini part awal loh bukan akhir. ini story pertama yang di publish. masi absurd, sori.
YOU ARE READING
My CHOICE
Short Storysiapa yang tau, jika orang yang selama ini dipandang rendah ternyata seorang yang sangat hebat dan di kagumi banyak orang? ................................... dan bagaimana rasanya mencintai seorang gadis tomboy? akankah cintanya akan berakhir baha...
