[1] :: Coretan Pertama

1.6K 71 18
                                        

Minggu, 1 Juli 2015

Bertempat di kamar sederhana, di antara puluhan jurnal dan buku-buku tua yang menyesaki rak-rak kecil, di mana cahaya matahari pukul delapan pagi menembus masuk lewat jendela. Aku di sini, sendirian di depan laptop putih kesayangan dengan secangkir susu cokelat dingin yang sengaja diberi es batu.

Sebenarnya aku tidak tahu apa yang ingin kutulis. Aku juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja ingin menyalakan benda di hadapanku ini, yang sekarang menampakkan halaman microsoft word dengan toolbar-nya yang berkedip-kedip tanpa henti.

Aku tersenyum. Kamu tahu, halaman kosong berwarna putih ini terlihat lucu karena mengingatkanku pada diriku sendiri. Mengingatkanku pada cerminan hatiku dahulu. Kosong, putih, tanpa warna. Tetapi jika dilihat baik-baik, toolbar yang berkedip-kedip itu membuat layar berwarna mentereng di hadapanku tidak nampak kosong lagi. Dia menjadi satu-satunya warna hitam yang menghiasi si halaman.

Seperti kamu, manusia yang tidak ingin kusebutkan namanya.

Kamu sama seperti dia, menjadi satu-satunya ornamen kecil yang menemani si halaman di tengah kekosongannya. Memang, gelapmu terlihat menodai apa yang awalnya tercipta putih bersih, tetapi bukankah takdir memang seperti itu? Hitam dan putih tidak dapat berdiri sendirian jika tidak ingin terlihat semu. Mereka nyaris selalu digariskan berdampingan. Nah, lihat? Sekarang aku sedang menyamakan diri kita dengan sebuah halaman dan toolbar-nya.

Kita memang serupa dengan mereka, bukan? Yang membedakan hanyalah ornamen hitam dalam halaman ini tidak pernah meninggalkan si putih sendirian, tak peduli apa pun yang terjadi. Tidak seperti kamu yang sekarang saja aku tidak tahu berada di mana.

Kamu bisa menghilang. Tidak permanen. Berkata tidak akan pernah meninggalkanku sendiri, namun nyatanya kamu jugalah yang pergi tanpa pernah kembali.

Kamu pasti senang mendengar bahwa sekarang aku mulai terbiasa menjalani hari-hariku tanpamu. Belajar, bersantai, makan siang, jalan-jalan, sesuatu yang awalnya selalu kita jalani bersama kini telah mampu kulalui dengan atau tanpa kehadiranmu di sisiku.

Aku sudah terbiasa berjalan di tengah hari tanpa sosokmu yang menyamakan langkah kakinya denganku. Aku sudah terbiasa mengerjakan matematika sendirian tanpa bantuanmu. Aku sudah terbiasa menonton film tanpa kamu duduk di sampingku, iseng-iseng mencomot popcorn dari cup milikkuㅡjangan salah, aku tahu itu kamu. Aku sudah terbiasa pulang pergi tanpa volvo hitam milikmu yang biasanya sudah terparkir di tepi jalan dekat rumahku. Aku bahkan sudah terbiasa duduk sendirian di kafe dekat sekolah yang dulu sering kita datangi, menikmati segelas americano tanpa kehadiran cangkir kopimu yang biasanya selalu kamu taruh tepat di depan milikku.

Bagus, bukan? Kini aku bisa melakukan segalanya tanpa kehadiranmu.

Kamu pasti gembira mengetahui bahwa 'Angela yang Payah' kini berkembang menjadi 'Angela yang Bisa Melakukan Segalanya Tanpa Alvion Reitama'. Oke, itu terlalu panjang. Dan ya, aku tahu aku sudah mengucapkan namamu. Tetapi itu bukan masalah, 'kan? Toh kamu saja belum tentu sempat membaca coretan ini.

Baiklah, ini sudah setengah jam dan susu cokelatku sudah tidak dingin lagi. Buih-buih es di permukaan luar gelasnya membasahi meja belajarku dan aku akan dimarahi jika ibuku tahu hal ini. Kamu tahu betul bagaimana cerewetnya beliau menyangkut kebersihan. Jadi, sampai jumpa.

Oh ya, karena aku sedang ingat kamu, aku jadi ingin mengucapkan sesuatu yang selalu kuucapkan setiap hari untukmu, Al.

Selamat pagi.

Salam hangat dari Angela (yang sedang mengenang momen-momen akhir pekan bersamamu).

~~~
[19-07-2016]

From Angela ✔️Where stories live. Discover now