1

762 28 7
                                        

Pani's POV

"...hewan yang berasal dari Peru daerah pegunungan Andes di Amerika Selatan ini biasanya menjadi hewan peliharaan masyarakat. Beberapa malah menjadikan Marmut sebagai praktik pengobatan tradisional..."

Seorang sejarawan bercerita tentang hewan di belakangnya, dan lanjut ke hewan di samping marmut. Aku langsung menjepret Anoa yang sudah di awetkan dengan pemiliknya itu. Setelah itu membidik pemandangan di depanku; beberapa anak TK terlihat asik mendengar sejarawan di depannya berceloteh ria. Mereka bahkan terlihat menggemaskan dengan pose bibir terbuka dan mata fokus kedepan.

Aku berjalan ke tempat lain, bagian Harimau Sumatera, tak lupa memotretnya dengan kameraku yang sudah lebih dulu menonaktifkan blitz-nya. Itu peraturan disini, agar warna bulu atau kulit hewannya tidak berubah, kata seorang penjaga museum.

Sebelumnya, aku pernah kesini, ke salah satu Museum Hewan dan Fauna di pusat kota. Saat itu ada acara touring dari kru, yang membuatku bertemu dengan seseorang. Dibilang tempat spesial kami, tidak juga. Karena setelahnya, aku dan dia lebih sering bertemu di tempat bergedung lainnya.

"Pan, setengah jam lagi, ya."

"Oke."

Mengetahui sebagian kru sudah keluar dari Museum, aku langsung mempercepat langkah, menyempatkan diri untuk melihat beberapa hewan dan fauna yang lain. Sementara itu, handphone ku di tas sibuk bergetar beberapa kali. Aku tidak menggubrisnya, dan tetap mengabadikan momen disini.

Kurasa itu dari Bibin yang tidak sabar. Aku tahu dia paling tidak betah ditempat seperti ini.

"Berisik banget, sih. Gak bisa sabar, apa?" omelku ketika sampai di parkiran.

Bibin menoleh padaku dengan wajah dongkol. Satu tangannya berkibas di udara. "Panas, tau!" Seru laki-laki berkacamata itu. "Buruan naik." Perintahnya.

Aku bersungut, memilih tidak mengomel, dan naik ke mobil. Beberapa kru lain sudah pulang lebih dulu, meninggalkan mobil kami dan pengunjung lainnya di parkiran.

Aku mengecek tas-ku, takut peralatan make-up atau barang-barangku yang lain ada tertinggal. Kutolehkan wajahku ke Bibin.

"Peralatanku udah dinaikin?"

Bibin ikut menoleh ke belakang mobil, tempat bagasi. "Beres, udah semua."

Aku mengangguk legah, dan merenggakan punggungku yang terasa tegang di jok penumpang. Dari ekor mata, aku melihat jalanan dari kaca jendela, dan tak lama menginterupsi.

"Harusnya hasil yang pertama itu bagus, eh, malah di suruh ulang sama Pak Bondan lagi." Bibin memijit keningnya yang menurutku tak pusing. "Emang si Botak itu buat ngeselin aja, suka ngulur waktu lagi. Kayak gini, kan, makan siang jadi telat." Sambungnya, kemudian menghela nafas kasar.

Aku tidak tahu antara ingin tertawa melihat Bibin atau turut kesal juga dengannya.

"Yaudah, lah. Yang penting akhirnya nggak buruk." Kataku kalem.

"Untung aja ketua kru, kalau gak udah kujambakin giginya."

Dahiku berkerut. "Gimana jadinya gigi bisa dijambak?"

Bibin terdiam sendiri, sementara Pak Weni, supirku, tertawa ditengah kemudi. Aku bahkan ikut tertawa membayangkan ucapan managerku itu.

"Aneh, kamu. Ngomel-ngomel sama aku, kalau berani ya didepan Pak Bondan langsung." Tuturku.

"Mas Bibin-nya lagi PMS, Mbak." tutur Pak Weni membuatku lagi-lagi tertawa konyol.

"Dia mah tiap hari PMS-nya, Pak."

To już koniec opublikowanych części.

⏰ Ostatnio Aktualizowane: Nov 20, 2019 ⏰

Dodaj to dzieło do Biblioteki, aby dostawać powiadomienia o nowych częściach!

Rope FailureOpowieści tętniące życiem. Odkryj je teraz