Aroma maskulin melingkupi sekitarku. Aroma khas seorang lelaki yang begitu kental hingga menggelitik rongga hidungku.
Dengan berat hati kubuka kedua mataku, dan terkesiap begitu mendapati suasana gelap mencekam di sekelilingku. Semuanya gelap; kecuali sebuah perapian di sudut ruangan yang menyala ganas seolah memberi pertanda.
Kuedarkan pandanganku ke sekeliling penjuru ruangan. Cahaya api memantulkan bayangan dari beberapa perabotan yang berada di tempatnya. Aku melangkah mundur dengan perlahan, berusaha mencari jalan keluar dari tempat ini hingga kakiku yang telanjang terasa menginjak sesuatu. Sesuatu yang basah dan terasa kental.
Aku menunduk untuk menatap apa yang tengah kuinjak, dan seketika itu juga kubungkam mulutku untuk tak mengeluarkan jeritan.
Yang ada dibawahku adalah darah segar yang mengalir dari seonggok kepala. Kepala yang tergeletak tak jauh dari tempatku berdiri. Kepala beserta badannya yang terluka parah hingga menimbulkan genangan darah dimana-dimana.
Aku panik. Kulangkahkan kakiku menjauh dan mulai berlari kecil untuk mencari pintu keluar. Namun aku tersadar bahwa semua sia-sia. Sekalipun aku berlari menjauh, aku akan berakhir di tempat yang sama.
Kedua kaki ku yang lemas tak mampu lebih lama menopang tubuhku hingga menyebabkan aku jatuh tersungkur. Seluruh tubuhku bergetar ketakutan setelah menyadari bahwa tak hanya satu mayat yang ada di situ. Dengan tangan yang terkulai lemas dan juga leher remuk tertimpa besi di bagian atas perapian membuatku hampir saja menjerit sejadi-jadinya. Mayat itu adalah ibuku.
Tubuhku lepas kendali. Semua terasa bergetar hebat sehingga rasanya kepalaku hampir pecah. Lalu kemudian, tubuhku masuk kedalam lingkupan pelukan seseorang yang tiba-tiba saja merengkuhku dari belakang.
Terasa sangat hangat dan aroma tubuhnya membuat tubuhku yang bergetar menjadi lebih tenang.
Aku terdiam. Entah mengapa tubuhku tak berusaha memberontak dalam pelukan seseorang yang bahkan aku tak tahu ia siapa. Namun yang jelas ini terasa menenanganku. Terasa pas.
Hening beberapa lamanya, hingga suara itu menyentakku dari lamunan.
"Aku sudah menunggumu sangat lama, Lisa. Kau milikku. Dan takdir telah menentukan."
Setelah itu, semuanya menjadi gelap.
.
.
.
.
.
Luv y'all.
-kimbseve-
YOU ARE READING
EUNOIA
Fantasy[SLOW UPDATE] . EUNOIA (pronounced: "yoo-NOY-ya") Satu hal yang kuketahui setelah aku terbangun pada saat itu, ialah aku terjebak pada dimensimu.
