1 - First Meet

69 10 7
                                        


Bel pertanda istirahat yang berdenting sudah selalu ada dan menjadi tradisi sekolah-sekolah, termasuk SMA Pelita. Keadaan yang sebelumnya sunyi senyap kembali perlahan hidup. Kesunyian telah berganti menjadi Kebisingan mulai berdatangan dari berbagai sumber seperti suara-suara berisik dari murid-murid yang sekedar mengucapkan 'Yes', 'Akhirnya' atau teriakan penuh suka cita lainnya. Ada yang menghela napas lega karena telah usainya pelajaran yang membuat mereka diam tak berkutik ditempat atau berhigh five bersama murid lainnya.

Kursi yang sedari tadi tetap bergeming ditempat mulai ditarik kesana-kemari para murid untuk membuat gerombolan layaknya rapat dimeja bundar. Hal yang dilakukan tak lain yaitu bergosip, bermain kartu, atau sedang menyelesaikan pr bersama yang tak sempat dikerjakan dirumah.

Di SMA Pelita, Dina masuk dikelas X-2 dekat ruang labor. Saat mendengar bel, Ia segera membereskan buku-buku yang masih berserakan diatas meja dan memasukkan peralatan tulisnya kekotak pensil. Ia menolehkan kepalanya kearah pintu begitu melihat temannya -Raya- sedang melangkahkan kakinya menuju kearah tempat duduknya dengan Sinta. Raya menarik salah satu kursi didepan Dina dan menghadapkannya berhadapan tepat didepan Dina dan Sinta.

"Hai guys? Gue kangen kalian berdua," Ucap Raya dramatis. "Coba kita sekelas, kan enak tuh bisa ngobrol terus."

Dina dan Sinta sekelas di X-2. Lain halnya dengan Raya, ia berada di X-4. Meski berbeda kelas, mereka bertiga tetap selalu berkumpul walau sering selalu Raya yang menghampiri Dina dan Sinta. Mereka sudah berteman saat MOS di hari ke 3. Saat itu, para anggota OSIS mengadakan sebuah game dan mereka membuat serta menentukan masing-masing kelompok untuk para anggota MOS. Dina, Raya, Sinta dan 2 anak cowok lainnya menjadi satu kelompok.

Raya nyengir begitu dilihatnya Dina dan Sinta memutar kedua bola mata mereka. "Gue mau ngasih tau suatu hal sama kalian," Raya mendekatkan wajahnya dengan mata yang sedikit membelo. "Pas kita lari-larian di hari MOS kemarin, gue bawa minuman. Sekali-kali gue minum kalo OSIS nya lagi gak liat. Untung gak ketauan, Jadi gak dihukum deh gue." Tambahnya seraya terkekeh geli.

Walau bagi Dina itu tidak terlalu penting, tapi hal itu justru membuat Sinta membulatkan kedua bola matanya terkejut. "Gila! Untung gak ketauan loh. Kalo gak, bukan hanya lo kali yang dihukum, tapi seluruh murid yang kena MOS dan itu juga termasuk gue." Balas Sinta telak.

"Iya deh sori. Gue kan gak kuat banget kalo sama yang namanya lari." Jawab Raya cengengesan dan hanya dibalas helaan napas berat dari Sinta.

Dina yang melihat temannya berdebat tak ambil pusing. Ia sedari tadi diam karena sedang menahan suara berisik diperutnya yang sedari tadi sudah demo. Ia lapar. Segera mungkin Dina menyela perdebatan kecil dari mulut kedua temannya.

"Sudah dong. Aku laper nih, kekantin yuk." Ucap Dina mengadu kepada dua temannya itu.

Dua orang cowok tiba-tiba datang menghampiri tempat Dina dan temannya yang membuat mereka bertiga menolehkan kepala kesamping dengan tatapan bingung. "Ayo kekantin Na, bareng Bang Deno. Nanti abang traktir sebanyak yang lo mau deh."

Salah satu cowok itu bersuara dan melontarkan penawaran kepada Dina. Suara tersebut milik Deno yang menurut informasi, si playboy kelas kakap. Ia mengerlingkan sebelah matanya kearah Dina sembari tersenyum lebar. Dina hanya menatapnya dengan cuek dan bingung karena ia memang belum terlalu mengenal teman-teman sekelasnya kecuali Sinta. "Gak usah deh, makasih." Jawab Dina menolak secara halus penawaran dari Deno.

"Bhak!! Lo udah ditolak Bro secara gak langsung," Ucap Gani, cowok yang berada disebelah Deno. Ia si tukang rusuh dari yang ter-rusuh di kelas X-2. "Sukurin Lo! Sok tebar pesona. Baru aja kenal, udah main nyosor aja." Tambah Gani lagi.

Deno mengabaikan ucapan Gani dan tetap menatap Dina dengan senyuman diwajahnya. "Yaudah sih kalo gak mau. Gue ajak yang lain aja. Padahal sayang lho udah nolak tawaran dari cowok seganteng gue."

ImpulsivelyWhere stories live. Discover now