Prolog

41 1 6
                                        


Di malam yang tenang bagaikan air telaga. Tampak seberkas cahaya turun dari langit, membelah angkasa yang kelabu. Jatuh dengan sangat cepat, bagaikan petir disaat badai. Terhempas ketanah dengan kuat, tanpa menggetarkan alam semesta. Dan memantulkan cahaya yang berwarna-warni, yang kumudian terpencar kesegala penjuru. Tesebar dalam bentuk batu, lalu terdampar di beberapa tempat.

***

Pagi itu. Terlihat beberapa anak remaja, sedang melakukan gotong royong. Membersihkan sebuah taman, yang terdapat di halaman sekolah. Dari atribut yang terdapat di seragam mereka, bisa diketahui bahwa mereka murid di Sma Kampung Baru.

"Li, tolong kamu buang sampah ini ke tempat sampah utama, sekalian menyimpan peralatan ini ke gudang." Seorang Murid berwajah tampan menyuruh Murid lain yang tidak kalah tampan, untuk membuang gundukan sampah di dalam tong yang memang sudah terisi penuh ke tempat sampah utama.

Murid yang disuruh pun mengangguk paham tanpa ada protes sedikit pun. Dia mengambil tong penuh sampah dan membawanya ke gerbang, karena tempat sampah utama memang berada di sana.

Sesampainya di gerbang, sang Murid itu pun menuangkan tong yang berisi sampah agar isinya berpindah tempat. Dan tanpa Dia sadari, Tangannya menyentuh sebuah batu berwarna ungu. Tak lama kemudian, tubuhnya mengalami kejang-kejang lalu pingsan.

Elementkinesis?Where stories live. Discover now