Bayi

1 1 1
                                        

Keringat bercucuran diwajah cantik itu. Matanya membulat sempurna, sesekali mulutnya mengatup rapat, otot-otot wajahnya laksana akar-akar pepohonan ditepian hutan hujan timbul berlekuk dibawah kulit mulus dan mudanya. Pipinya menggembung menahan udara yang ia tahan dalam dada dan perutnya, sekali lagi mengejang, keringatnya semakin bercucuran.
"Terus cah ayu... terus dorong... anak mu sudah kelihatan... terus dorong!"
"Huuukkk... uhhh... Huuukkk... ummmhhh..."
Pucat sudah wajah cantik yang biasa tersenyum indah penuh ketulusan itu. Tapi ketulusan itu semakin kuat terukir diwajahnya. Bahkan dengan mendengar suaranya sekarang ini, siapa pun yang mengenal Wulan biasanya, akan bertanya.
"Benarkah itu Wulan, yang lembut itu?"
Wajah Wulan berpaling ke samping kanan, ia cari wajah yang tak asing baginya. Wajah itu tersenyum dipaksakan, matanya berlinang air mata. Wajah ibunya, yang menemaninya setiap waktu. Disisinya kapapun ia membutuhkannya, seperti sekarang ini.
Bagaimana pun hanya dia yang ia punya sekarang ini.
Wulan kembali memejamkan matanya. Mengatur nafas seirama detak jantung nya, yang semakin melemah. Ia masih punya tenaga tersisa, agar apa yang ia harapkan dan cita-cita kan tetlahir ke dunia. Kakinya terasa kesemutan sudah. Matanya kabur. Samar ia dengar suara tangisan yang ia damba. Tapi dunia semakin terasa maya. Apakah yang ia rasa tadi nyata? Lelah, sakit, mulas yang meruncing menusuk setiap saraf perut. Sekarang seperti berputar saja dunia. Semakin jauh terasa ia jatuh. Semakin dalam, ia masuk dalam kehampaan. Tak tau apa yang ia akan pegang untuk bertumpu. Hanya gelap yang tak berujung yang ia rasa. Telinganya mati. Tak ada suara selain rasa cemas nya terhadap anaknya. Rindunya mendengar suara indah buah hatinya yang akan memecah langit, membelah bumi. Seakan semakin jauh ia berharap dapat mendengar nya.

Seperti terjatuh dimensi lain yang belum pernah ia lihat sebelumnya, hampa mulai berubah tenang. Samar tapi jelas terdengar dari kejauhan dalam gelap yang tak berujung itu, Wulan mendengar suara yang tak asing di telinganya ketika kecil dulu. Bapak.
Siluet wajah perlahan tergambar dalam gelap, wajah yang selalu membuatnya tenang diperlukanya.

"Wulan... Wulan..." Dari ujung kehampaanya ia dengar suara itu memanggilnya seperti dalam lorong yang jauh. Seperti yang ia rasa sekarang ini. Hanya gelap.
Ada suara lain yang ia dengar, tapi lebih jauh. Lebih samar, suara yang ia rindu. Yang ia Cinta. Yang ia ingin ada disampinya tadi, dalam kesakitanya. Tapi samar suara itu.
"Wulan... Wulan..." itu suara Maya shabatnya, panik yang dia dapat dengar dari suaranya. Masih seperti dalam lorong yang Wulan rasa. Lalu ada suara lain yang lebih dalam, lebih tenang, suara penuh kerinduan. Suara itu memanggilnya mesra, seperti waktu yang ia rindu. Waktu yang begitu lama ia rindu, seperti suara itu. Dalam, dan tulus.
"Sayang... sayang..." samar dan jauh...
"Sayangku... sayang..." timbul tenggelam suara yang ia rindu itu.

#heyy... ngomong ngomong ini ceritaku yang pertama, intinya si pengin bawa kamu ke kelembutan kata lewat aksaraku. Moga suka kamu ya, dan jadi suka aku deh kamunya...

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 17, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Wajah Where stories live. Discover now