Hai, mungkin satu dari jutaan penduduk wattpad pernah baca ceritaku. Aku kembali!
Yang menduga akan dapat konflik berat di cerita ini, aku nggak jamin kalian akan dapat. Karena aku sendiri merasa konfliknya nanti akan biasa saja.
Oke, thanks before.
♥
11 Januari 2017
Sunyi senyap di malam tanpa bintang. Aku sangat terusik ketika suara ponsel mendominasi kamar bercat hijau toska ini.
Bukan salahku sepenuhnya. Ponsel itu berdering karena Nafis pasti salah mengaktifkan alarm. Di jam dua belas, ponsel berbunyi hanya untuk membangunkanku agar tidak lupa mengerjakan tugas, tapi karena tugasku telah selesai semua, untuk apa mengaktifkan alarm di tengah malam seperti ini. Lagi pula, aku sudah menyampaikan pesan kepada Nafis untuk mengaktifkan alarm di jam lima pagi, setelah bermain game di ponselku. Namun, anak itu terlalu pelupa jadi seperti ini.
Kebiasaan yang tidak pernah hilang.
Nafis semalaman main di kamarku dengan alasan kamar Kak Nara wangi. Padahal aku tahu kalau ia sedang berbohong, karena raut mukanya tidak bisa mengelabuiku. Nafis sebenarnya takut karena kamarnya baru saja kedatangan ibu tikus.
Kakiku menapak kepada benda dingin di bawah, namun terasa kotor. Nafis memang tidak pernah bisa memahami kakaknya ini. Ia tahu kalau aku tidak suka kamar berserakan camilan, tapi anak laki-laki itu selalu saja melakukannya. Porak-porandakan saja kamarku setiap malam, dan biarkan aku membalasmu di keesokan hari dengan wejangan hingga telingamu sulit mendengar, Nafis.
Nafis belum melihat murkanya aku seperti apa, jadi anak laki-laki itu selalu saja mengacaukan kamarku. Nafis memang sangat bebal.
Sepi dan kelam. Karena Nafis, malamku jadi buruk. Tidak bisa melanjutkan tidur dan terpaksa menghabiskan malam dengan buku gambar. Tunggu, bukan malam, melainkan dini hari. Sekarang sudah jam dua belas lebih lima menit, tepat di tanggal sebelas, tiga puluh hari sebelum aku ulang tahun.
Bunyi singkat dari ponsel membuat perhatianku kepada buku gambar A3, buyar. Buku gambar itu aku dapatkan dari dalam lemari kecil di samping ranjang.
Besok gue mau ngasih tau sesuatu.
Pesan singkat di jam dua belas malam? Dasar pengangguran, tidak ada kerjaan yang lebih penting daripada mengirim SMS di tengah malam memangnya?
Melempar ponselku ke sembarang tempat. Menggambar adalah salah satu cara untuk mengisi malam ini. Sebenarnya lebih asyik menulis, tapi karena laptopnya berada di atas lemari dan aku malas untuk menginjak kotoran di lantai, lebih baik tidak.
***
Kalau sudah ketangkap basah, Nafis akan kikuk seperti sekarang. Ibu tidak melarangku untuk mengomeli Nafis, karena anak laki-laki itu memang salah.
Rambutnya yang basah setelah keluar dari kamar mandi, langsung kukotori kembali dengan sisa camilan di kamar. Wajahnya tampak tidak terima, tapi selanjutnya ia hanya menghela napas berat. Nafis memang harus diperlakukan seperti itu, kalau hanya dengan ucapan akan percuma, karena Nafis memiliki jurus masuk kuping kanan, keluar kuping kiri.
"Kak Nara kok jahat, sih," keluhnya dengan wajah memelas. Aku tidak akan kasihan dengan adik semacam kamu, Nafis.
"Rambut kamu kena apaan, Fis?"
"Nggak usah nanya-nanya!"
Pintu kamar mandi kembali tertutup dengan nada yang keras. Kelakuan anak itu tidak pernah berubah sejak usia lima tahun sampai jakunnya mulai tumbuh. Membanting-banting sesuatu untuk melampiaskan kemarahan, itulah Nafis.
"Kamu apain?" tanya kakak laki-lakiku yang bernama Arlan. Ah, aku rindu sekali dengannya. Dua bulan berpisah karena menempuh pendidikan di Padang saja, sudah membuat aku dan Nafis merasa rindu. Entah bagaimana kalau Kak Arlan menikah nanti.
Berjalan beriringan ke meja makan. Di sana sudah ada ibu dan ayah. "Biasalah, Kak. Itu balesan buat dia yang udah berlaku semena-mena di kamar aku," sahutku ketika bokong ini mendarat mulus di kursi.
"Kak Nara ambilin sampo!" seruan Nafis dari kamar mandi terdengar hingga meja makan, membuat semua yang ada di sini tertawa, termasuk aku yang membuatnya seperti itu.
Mengangkat kembali bokongku yang baru menempel dengan kursi. Tanpa bantahan langsung kuambilkan sampo di laci kecil samping kulkas. "Mandinya cepetan, nanti aku tinggal," godaku saat Nafis meraih sampo dengan wajah masam.
"Gara-gara Kakak," ketus Nafis. Melihat Nafis seperti itu, rasanya ingin kucubit pipinya hingga merah.
Aku mendengus. Baru kubalas seperti itu saja sudah merajuk, apalagi kalau ia aku ikat di kamar lalu kulontarkan nasihat-nasihat orangtua zaman dulu. Nafis tidak pernah bisa mengendapkan kebiasaan buruknya sekalipun ibu yang menasihatinya. Katanya anak laki-laki memang bebal, tapi kurasa tidak semua anak laki-laki sebebal Nafis.
Meja makan terasa ramai setelah Nafis ikut berkumpul. Lontaran lelucon spontan dari Nafis begitu membahagiakan. Tampilan konservatifnya tidak pernah bisa hilang. Aku lirik ia dengan tatapan menggoda. Kukira ia masih marah, ternyata ia menanggapi dengan senyuman.
Lima belas menit sesudahnya, aku berangkat sekolah menaiki motor bebek bersama Nafis. Sekolah kita berdekatan, jadi tidak masalah untuk berangkat bersama.
"Lo liat ini."
Baru bernapas lega, Dara langsung menarik lenganku dan menyodorkan ponsel pintarnya. Tas ini saja masih ada di gendonganku, sebenarnya sepenting apa sih berita dari Dara?
Kalau dilihat dari raut wajahnya, sepertinya berita kali ini Justin Bieber pacaran sama Taylor, atau mungkin Nial punya gebetan orang Indonesia, oh bukan-bukan, sepertinya Dara telah mendapatkan pesan cinta dari Nafis. Loh? Lebih baik aku lihat dulu apa yang ditunjukkan Dara.
"Gue ikut!"
Sebelumnya aku tidak mengerti ada ikatan apa kespontanitasku ini dengan lomba menulis yang ditunjukkan Dara. Rasanya begitu antusias mendapat berita lomba menulis dengan hadiah menggiurkan, salivaku saja hampir keluar membayangkannya.
Menjadi novelis dadakan di salah satu cabang penerbit major. Dokumen yang menghuni laptop hingga bertahun-tahun akan berubah menjadi buku dan dapat dibaca oleh khalayak ramai, kalau aku dinobatkan menjadi pemenang. Itu mimpiku sejak duduk di bangku SMP. Pokoknya, aku harus memenangkan perlombaan itu.[]
YOU ARE READING
Eyeglass of Love
Teen FictionKamu datang bagai embusan angin. Tak bisa kutahan. Mengenalmu membuatku merasakan fase di mana tahap demi tahap melangkah untuk maju menelusuri bagaimana luasnya cinta. Lambat-laun aku mampu mengerti dunia fana ini lebih berarti jika terbumbui oleh...
