p r o l o g

1K 45 15
                                        


Aya membuka pintu atap sekolahnya. Angin langsung menyambutnya, menerbangkan helai-helai rambut yang jatuh dari ikatannya.

Ia berjalan menuju pinggiran atap lalu duduk disana, melakukan hal yang sering ia lakukan akhir-akhir ini. Melamun.

Suara gesekan besi membuat Aya menoleh. Seorang laki-laki berambut cokelat datang dari arah pintu besi itu. Aya mendesah kesal melihat siapa yang datang.

"Yah lo lagi." Ujar Nata begitu melihatnya. Laki-laki itu duduk didekatnya, membuat Aya memutar bola matanya malas.

Nata mengambil sebatang rokok dari sakunya, membakarnya lalu menoleh pada Aya, "lo bolos lagi?"

Aya menatapnya tajam sebentar sebelum mengalihkan pandangannya kesal, "Bukan urusan lo."

"Galak banget. Pantesan banyak yang takut." Ujar Nata sambil mengedikkan bahu.

"Bacot."

Tak ada balasan dari Nata. Laki-laki itu sibuk menghisap rokoknya dalam-dalam lalu mengepulkan asapnya keudara.

Nata terlihat manis saat sedang diam. Aya tertawa dalam hati. Bodoh. Nata memang manis hanya saja tittle badboy itu membuatnya lebih sering tampil menyeramkan.

Tiba-tiba kepala itu berputar langsung menatap kearahnya, membuat Aya terkejut dan segera mengalihkan pandangannya.

"Lo gak usah sok malu-malu deh. Gue udah biasa dipandangin." Kata Nata sombong.

Aya hanya mendengus. Walaupun itu memang benar, ia tidak akan mengakui itu dan membuat laki-laki itu semakin sombong nantinya.

Angin kembali datang. Keduanya tanpa sadar menutup mata bersamaan. Menikmati hembusan angin diwajah mereka.

"Ay," panggil Nata.

Tak ada sahutan.

"Nama lo Aya, kan?" Ia kini menolehkan kepalanya menghadap kesamping.

Aya hanya menggumam tak jelas.

"Lo gak ada pacar kan, ya?"

Pertanyaan retoris.

"Gak ada gebetan kan?"

Kali ini Aya membuka matanya dan ikut menoleh pada Nata yang sudah mengalihkan pandangan kedepan.

Laki-laki itu menerawang sebentar. Menatap pada kejauhan. Lalu menoleh menatap Aya tepat dimata, "lo suka main game?"

"Game apa?"

Mendengar Aya yang tertarik, Nata langsung memperbaiki duduknya menghadap anak perempuan itu, "Gini..kan kita sama-sama jomblo, gak ada gebetan." Nata memberikan jeda untuk memperhatikan ekspresi Aya.

Namun Aya hanya memandangnya dengan wajah datar membuat Nata kembali melanjutkan, "Gimana kalo kita pacaran aja. Boongan. Sampe kita sama-sama ketemu cinta kita yang sebenarnya."

"Kalo salah satu dari kita udah ketemu orang yang kita cinta?" Tanya Aya semakin tertarik.

"Game over. Dia pemenangnya."

Aya terdiam sebentar. Ia sibuk memikirkan tawaran yang diajukan Nata. Ini adalah kesempatannya, jika ia berpacaran dengan Nata, maka kekuasaannya disekolah akan bertambah. Orang-orang akan takut padanya.

Juga tak akan ada laki-laki yang berani mengganggunya jika ia menjadi pacar Nata, sang preman sekolah.

"Oke. Gue mau." Katanya akhirnya membuat Nata tersenyum samar.

"Tapi, selama permainan berlangsung, You're mine and I'm yours. Ngerti?"

Aya mengangkat bahu ringan. Bukan masalah. "Oke. Deal."

"Deal, sayang."

_____

a.n. harvey cantwell as pranata julian

read more : aku, kamu, kita

20 desember 2016

NatayaStories to obsess over. Discover now