Alix Lewis, sejak umur 7 tahun, membenci semua boneka yang ada di dunia. Menurutnya, boneka itu menyeramkan (namun ia tidak takut, sama sekali tidak!) dan berkomplot dengan sesama boneka untuk menyebarkan teror dalam mimpi anak-anak. Lihat saja mata boneka berbentuk manusia yang bahannya kaca; berkilauan mengerikan, menatapmu dari balik kaca etalase seperti anak kucing terbuang. Lalu begitu kau bawa pulang ke rumah, ia akan dengan senang hati menghantuimu dalam mimpi tiap malam yang kau lalui.
Atau setidaknya, begitulah jawaban yang ia berikan saat ditanya oleh Ibunya.
Mendengar penjelasan Alix tentang kebenciannya terhadap boneka, sang Ayah hanya bisa tersenyum kaku penuh rasa bersalah. Mata biru tua melirik waswas sosok Istrinya yang berdiri di belakangnya, tangan dilipat di depan dada dan hawa-hawa membunuh terpancar kuat dari balik punggung. Mau tak mau, lelaki (yang saat itu) berusia 35 tahun itu merasa takut.
Lima menit kemudian, terdengar isak tangis merana sang Ayah melihat koleksi film horor yang sudah ia kumpulkan sejak zaman SMP sampai sekarang dibakar habis oleh Istrinya. Istrinya sendiri, mind you. Perempuan yang tingginya tidak sampai sebahunya, lebih muda lima tahun darinya, dan makhluk paling mengerikan serumah kalau sedang marah...
Itu duabelas tahun yang lalu. Alix, yang kini sudah berusia 19 tahun, mendengus mengingat kenangan hari itu. Ada rasa puas tersendiri mengingat bagaimana Bundanya langsung membakar seluruh koleksi film berbau horor tersebut. Namun bagian menyebalkannya ya...
.
"Nah, karena semua video yang berbau Chucky udah gak ada—" Terdengar isakan tangis dari sosok yang selama ini ia akui sebagai Ayahnya, seorang pria yang, kalau menurut dokumen resmi bertajuk kartu tanda penduduk, harusnya berumur 47 tahun bulan lalu. "—bisa tolong belikan boneka di toko ujung blok? Sepupumu yang masih kecil mau datang ke rumah, ngerayain ulang tahunnya di sini. Sekalian dibungkus kado, dipita juga ya!"
Wanita berambut merah panjang itu tersenyum. Manis, di mata orang yang tidak terlalu dekat dengannya. Di mata mereka yang sudah tinggal dengannya lebih dari dua dekade, sayangnya, senyum itu pertanda ucapan barusan bukan sekedar permintaan. Itu titah, perintah absolut dari pemimpin keluarga di balik layar. Alix menelan ludah ngeri dan otomatis menganggukkan kepala.
Satu pelukan dan tepukan lembut di kepala kemudian, Alix menemukan dirinya sudah berada di luar rumah.
Kekuatan ibu-ibu rumah tangga itu mengerikan.
.
Cough. Cukup sampai di sana kilas baliknya.
Alix menggerutu pelan sambil tetap berjalan menuju tempat tujuan: Toko Boneka Campbell yang terletak di ujung blok perumahan. Ia pernah mampir ke sana sekali sebelum tragedi pembakaran film horor Ayahnya terjadi, dan ending-nya amat sangat tidak enak untuk diingat.
(tetapi sumpah suer terkewer-kewer ia tidak takut dengan boneka; sama sekali tidak! Berhenti memandangnya penuh tuduhan begitu!)
Sambil menyapa beberapa orang yang ia kenal, Alix menahan diri untuk tidak balik badan dan kabur kembali ke rumah. Ia menggigit bibir agak keras mengingat sesuatu yang tidak ingin ia temui sekarang.
Sebenarnya bukan karena penampilan fisik boneka yang, er, berpotensi menyebabkan mimpi buruk saja yang membuatnya benci pada mereka.
.
"Selamat datang di—"
Ucapan itu terputus begitu si penjaga toko melihat sosok Alix masuk dengan wajah tertekuk. Sepasang alis dark auburn naik beberapa senti, tetapi masih terlihat dan belum tertutupi poni rambut yang agak panjang. Tangannya yang setengah jalan menata boneka di rak dekat meja kasir terhenti. Hening sejenak. Hanya suara dari kendaraan lalu lalang yang memenuhi indra pendengaran mereka. Tidak ada yang angkat suara sampai si penjaga toko mendengus—Alix bersumpah makhluk satu itu sedang menahan tawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
(Not So) Cliche
Teen FictionAlix Lewis, 19 tahun, menolak mentah-mentah anggapan bahwa hidup itu seperti shojo manga. Tidak dengan kenalan seorang penjaga toko boneka yang punya wajah sebelas-duabelas dengan boneka, tidak dengan kenalan lain berupa dokter hewan dari kota sebel...
