MEET THE HAND GUY
"Caramel Machiatto nya satu, mas."
"Ada yang mau dipesan lagi, mbak?"
"Gak ada, itu aja."
"Totalnya tiga puluh ribu."
"Silahkan minumannya, terimakasih atas kunjungannya."
Aku melangkahkan kakiku ke tempat dimana meja dan bangku favoritku berada untuk menikmati segelas Caramel Machiatto sambil ditemani dengan novel roman picisan digenggamanku.
Langkahku terhenti tepat di samping sebuah pasangan—Okay,anggap saja bahwa mereka adalah sebuah pasangan.
Mereka menduduki tempat favoritku!
"Halo"
"Halooo"
Apa reaksimu jika tiba-tiba ada sebuah tangan putih,mulus dan wang—'Apa aku memujanya?'berada tepat di depan wajahmu?
"Ish,apaan sih!Jauhkan tangan busukmu itu dari wajahku."
Ya tuhan, maafkan hambamu yang satu ini. Jelas-jelas tadi aku memuja-muja telapak tangannya dan sekarang? Aku mengatakan hal sebaliknya.
"Lah, kok gua yang ditanya lagi ngapain sih."
Aku merengut kesal.
"Muka nya biasa aja dong mba, jangan dijelek-jelekin kan udah jelek."
"Ga, udah deh jangan mulai."
Demi Neptunus! Jangan karena aku berdiri di hadapan dia menggunakan kaus oblong hitam, ripped jeans belel serta kacamata minus yang sedikit oversize aku dibilang jelek?
Sekali lagi,a k u d i b i l a n g j e l e k .
Walaupun mama sering memanggilku jelek dan sebagainya,itu bercanda bukan?
"Udah jelek, hobinya bengong pula."
"Agaaaa, udah ah kamu tuh jail banget sih."
Cih,aku tak butuh bantuan darimu perempuan bermake-up tebal.
"Maaf ya laki-laki bertangan buruk rupa dan berbau tujuh rupa. Pertama, aku berhenti di samping mu dan pacarmu yang sungguh sangat baik ini karena tempat yang kalian duduki sudah menjadi hak milik atas nama saya sejak cafe ini pertama kali buka."
Aku menunjukkan senyum manisku dan setelah itu memutar kedua bola mataku.
"Kedua, anda sangat salah menyebut saya perempuan yang jelek dan mempunyai hobi bengong karena yang saya tadi lakukan adalah efek menghirup bau-bau tak sedap dari laki laki yang sampai saat ini berada di hadapan saya."
Laki-laki itu mendecak dan membalas perkataan demi perkataanku dengan nada satu oktaf lebih tinggi dari sebelumnya sehingga semua mata pengunjung cafe ini mengarah kepadaku.
"Halu kali ya ini orang, yang? Sejak kapan coba di sebuah cafe kaya gini bisa jual beli hak milik tempat duduk?"
Sialan.
"Udah deh mba yang nggak mau dibilang jelek, jangan gangguin saya pacaran dong."
ARGH, sungguh aku takut sekarang aku sedang mendapatkan kutukan, hari ini aku bertemu dengan seorang yang sangat-sangat menjengkelkan sih?
"Lah lah lah, saya yang halu atau anda yang halu? Tanya managernya aja siapa Adinda Sarah, bhay."
Aku memilih untuk meninggalkan cafe yang hampir semua pengunjungnya sudah melihat ke arah ku seolah-olah akan menerkam jika aku berbicara lagi, tak lupa dengan sebuah hentakan pada langkah pertamaku.
A/N pertamaaa~
Hai kalian semua para readers,ini bener-bener cerita pertama gue di dunia orange. Sebelumnya gue udah sering buat cerita tapi nggak pede dipublish ke wattpad.
Cerita ini gue sebenernya udah ada 4 part yang di publish, cuma karena satu dan lain hal akhirnya gue unpublish dulu abis itu revisi deh
So,gue bener-bener begging ur vomments
Comment aja kalau ada yang aneh atau yang mesti diperbaiki, pasti gue terima dengan senang hati :)
love, love, love
Dank je-KathelijnLoo
STAI LEGGENDO
MORE THAN A FRIEND
Teen FictionI believed it couldn't be That I loved you, it doesn't make sense That it was idle jealousy, That I was lonely I tried to lie to myself, but I cannot hide it no longer I think I love you, I think that's what it is 'Cause I miss you, whenever you're...
