Missing

24 1 0
                                        

"Oh tidak suara itu lagi" Aku menghela nafas panjang, sudah berhari-hari ketenanganku terusik, tiada malam yang kulewati tanpa terjaga. Aku tahu Ibuku sangat sayang anaknya, pekerjaanku yang membuatku terisolir dari dunia luar membuatnya khawatir aku tumbuh menjadi pribadi yang antisosial. Tapi inilah pekerjaanku, banyak orang diluaran sana yang tak seberuntung diriku, bukan ? Aku diterima di universitas terbaik di negara ini dan lulus dengan predikat cumlaude, ditambah lagi aku mendapat pekerjaan yang sudah kucita-citakan sejak lama, dan demi superman yang celana dalamnya terbalik aku sangat sangat mencintai pekerjaanku.
Aku bukan tipe anak pembakang yang bahagia di atas tangisan dan penderitaan orang tuanya tapi sungguh, aku tak bisa mentolerir ini lagi. Kata kesepian dalam pandangan Ibu sama sekali tak ada dalam kamus hidupku.

Mengirimkan bocah perkedel bau kencur itu sudah salah sejak awal. Aku sudah bahagia hidup sendiri dengan tenang dalam satu bulan terakhir, sampai anak itu datang dan membuat darahku mendidih sampai ke air panas hingga terasa hampir keriting rasanya rambutku. Ah tidak-tidak aku tidak perlu salon karena perlu kalian ketahui rambutku itu ikal alami sejak lahir,  walaupun Mala dengan kurang ajarnya menyuruhku meribonding rambutku karena Ia anggap rusak parah. Baiklah tidak usah membicarakannya, dia hanya seorang sahabat yang tidak kuanggap eksistensinya.

Back to the topic, suara itu tambah keras bahkan menggema ke seluruh ruangan. Bunyi tangisan, benturan keras pada tembok dan air keran di kamar mandi. Aku tidak yakin tapi sepertinya keadaan seperti ini pernah kulihat ini di dalam film horor kesukaan budy, dia pernah memutarnya  di tengah malam hingga membuatku terjaga sepanjang malam. Dan keadaan ini membuat tempat tinggalku terkesan angker seperti di film-film horor, well kuharap tidak ada penghuni dunia lain yang tinggal di apartemen ini.

Kulangkan kakiku menyusuri lorong kamar sedikit lebih hati-hati karena sebelumnya  hampir  terjerembab karena menginjak selimut.  Oke tagisannya sudah mulai reda, dia kedengaran seperti sedang tersedu sedu, hal itu membuatku ketakutan setengah hidup membayangkan kondisi terburuk yang bisa terjadi. Dia menangis hampir setiap hari tapi tak pernah terdengar seperti itu bunyinya. Bulu romaku berdiri membayangkan kalau kalau ia kemasukan penghuni lain apartemen ini, kudengar penghuni sebelumnya ditemukan tewas dengan keadaan setengah bugil. Keringat mulai mengalir melalui pelipisku, aku tidak sanggup lagi membayangkannya. Kutepis semua pikiran kotorku dan memberanikan diri mengetuk pintu kamar mandi berharap, Ia mau membukanya dan tidak beguling guling seperti tempo hari di lantai kamar mandi yang berujung dengan diriku yang tertawa lebar melihatnya mengepel lantai kamar mandi dengan badannya.

"Ann..kau tak apa apa? Kenapa kau menangis, Kakak sudah bilangkan akan membawamu pulang pada Ibumu besok. Kemarin aku memang benar-benar tak bisa, karena sibuk dan lagi Ibumu bilang dia tak berada di rumah, Ia pergi ke South Hampton dan baru akan kembali hari ini".
"Angghhh ibu..ibu" itu suaranya, oh tidak kenapa tangisannya tambah keras.
"Buka pintunya Ann berhentilah menangis! Aku akan memulangkanmu saat hari sudah terang". Tak ada jawaban hanya suaranya saja yang tambah melengking
"Baiklah kuanggap itu pernyataan setujumu, keluarlah dari sana sekarang juga dan pergilah tidur ini sudah tengah malam. Aku butuh tidur Ann dan kau menggangguku, aku tak bisa mengemudi dalam keadaan mengantuk besok, kita berdua bisa celaka! Kau tahu? Kumohon kali ini saja menurutlah!okey?" Lagi tak ada jawaban hanya tangisan yang terdengar tambah keras dan disertai suara rintihan-tunggu suara rintihan? Tidak! Ini tidak benar, kuketuk pintunya sekali lagi meskipun tak ada respon. " Baiklah setelah ini jangan bawa aku ke kantor polisi karena dugaan pelecehan kau yang memintanya!" Ku dorong pintu itu sekuat tenaga, dan ternyata tidak terkunci. Pemandangan yang aku lihat pertama kali saat pintu terbuka adalah pemuda 17 tahun yang shirtless dengan darah yang mengucur dari lubang hidungnya serta air mata yang berderai-derai seakan tak pernah habis bak pasokan air sam-sam.
"As.Ta.Ga! Tuhan! Apa yang terjadi padamu Anthonio Malloco?!" Perutku mual melihat darah yang berceceran di lantai, dia sudah terduduk lemas jidatnya terlihat biru keunguan,mungkin karena ia membentur kepalanya ke tembok dari tadi. Oh...jangan Maya! Jangan panik sekarang dia tidak akan mati gara-gara mimisan, ayo berpikirlah. Dan hal tercepat yang melintas dipiranku adalah menelpon seseorang.

Selang 10 menit akhirnya orang yang kutelpon datang dan memeriksa keadaan Ann ia membersihkan darah yang bersimbah di dada Anthony menariknya keluar lalu mendudukannya di kursi yang berada di pojok ruangan. Dia menutup hidung Ann dengan sapu tangannya dan menekan kepala bocah itu hingga menegadah ke atas. Ia mengisyaratkanku untuk mendekat dan menggantikannya,sesudahnya ia mengambil wadah dan menyuruh Ann untuk meludah. Uhh menjijikan,bocah ini bahkan lebih menjijikan dari ludahnya sendiri, lihatlah dia! Dia menjadi pendiam dan sangat penurut terhadap Mala. Dan hebatnya Ia sudah berhenti menangis dari tadi! Luar binasah...kalau tahu begini aku sudah meminta sang dokter untuk bermalam disini kemarin-kemarin. Anak ini benar-benar! Aku bahkan sampai tidak yakin Ia adalah penderita autis melihat tingkahnya tadi, dia seperti laki-laki kardus diluaran sana ketika melihat wanita cantik.

"Apa yang telah kau lakukan padanya? Kenapa bisa separah ini?" Tanya Mala menginterupsi pikiranku.
Hey kenapa aku yang jadi tersangka disini? Aku ini korban! Lihatlah, kantung mataku yang besar ini saksinya.

"Apa yang kulakukan?! Hey aku tak melakukan apapun! Kau tidak lihat? Aku korban disini! Aku tidak pernah memukulnya"

"Aku tidak bilang kau memukulnya, May mungkin dari luar dia tampak seperti pria dewasa tapi di dalam dia itu sangat rapuh..seperti anak kecil.."

"Tidak ada anak kecil yang membenturkan jidatnya di tembok sampai berdarah dan menangis sepanjang malam hanya karena rindu pada Ibunya"

"Hufffttt..dia itu tidak seperti anak pada umumnya, sebenarnya Ia anak yang baik..dia hanya belum terbiasa,lagipula hal apa yang kau harap dari seorang anak autis. Kutebak kau pasti tidak pernah membawanya keluar jalan-jalan selama disini"

"Aku sibuk"

"Ayolah! Kenapa kau menjadi egois seperti ini? Kau jadi seperti orang lain."

"Ini bukan salahku, lagipula yang salah disini itu Ibu. Dia,anak baik dan manis dia akan menemanimu agar kau tidak kesepian" ucapku meniru suara ibu

"Menampung seekor bocah tidak akan membuatmu sekarat. Kau hanya perlu mengajaknya bermain sesekali, saat lelah, dia akan langsung tertidur. Lihatlah!"

Menoleh ke arah sofa kudapati Anthony sudah tertidur pulas. Oh bocah setan bahkan sekarang dia bisa tersenyum bejat dalam tidurnya setelah membuatku insomnia berhari-hari. Baiklah, tidak apa-apa setidaknya wajahmu terlihat menawan saat tertidur, mau tidak mau sudut bibirku tertarik mengulas sebuah senyum..senyum jahat tentunya.

"Lihat,dia seperti malaikat saat sedang tertidur seperti ini"

"Mala, sebaiknya kau pulang, ini sudah larut"

"Aku juga baru datang udah kamu usir, kebiasaan. Ya sudah, aku pulang dulu kalau begitu"

Saat pintu tertutup senyum devil sudah terpatri lagi di wajahku. Tunggu dan lihat bocah tengik! Jangan terbuai di alam mimpimu dulu. Kau sudah membuatku kehilangan waktuku yang berharga, setidaknya aku akan membuatmu kehilangan jam tidur sepertiku. Haha aku tidak bisa lagi menahan seringaian jahatku, tunggu anak manis.

XD

AnnoyingWhere stories live. Discover now