Bencana Anak Kecil

469 23 37
                                        

Gaessss!
Aku nggak panggil kalian 'Mblo' karena itu udah pasaran atau mainsetir alias mainstream.

Karena aku gak bisa maen setir makanya aku gak manggil kalian 'mblo'. Lagian aku tahu kok kalau banyak yg masih pada jomblo. (Don't do tabok to me! Tapi kalau tabokan gambar proklamator warna merah sih hayuuuk)

Lebih enakan panggilan yang mana?

Jeung jeung (manggil ala umireturn01)
Ada saran nih buat yang seneng belanja.

JANGAN NGAJAK ANAK KECIL!

Noh pake capslock, italic, underline, sama bold biar kelihatan jelas.

Baru aja belanja ke swalayan, eh ponakan katanya pengen ikut. Karena tante-tanpa GIRANG ya, catet itu!-nya baik hati, jadilah aku ngajak dia. Tapi hati ketar-ketir karena nih anak seingatku yang paliiiiing bandel. Kan udah ada catetan, mana anak yang gampang diurus, mana yang jaim, mana aja yang bisa diajak kondangan biar kaga sungkan jalan bawa 2 piring sekaligus.

Dan anak ke-3 dari istri ke-2-nya abangku yang pertama inilah, yang paling jaim. Tapi super nyebelin. Nih anak kayak bunglon. Gak paham? Coba deh baca baik-baik.

Siang-siang kan yang paling enak minum es sirup. Benerkan? Meskipun lebih enak es buah, iyain ajalah ya. (Aku enggak puasa loh hari ini yeay!)

Karena sirup vanila demenanku habis, tercetuslah ide buat belanja sekalian juga bahan lainnya yang mulai habis. Sasaranku mau beli di minimarket deket rumah istri ke-2 abangku karena mau sekalian mau ambil sendal gunungku yang udah setahun dipinjem.

Langsung deh capcuzz ke sana. Ambil sendal, mau langsung pergi belanja. Eh gak tahunya ada tuyul minta ikut.
Hehe.
Nggak sih, anaknya yang nomer 3 mau ikut. Tapi aku serius, anaknya yang bernama Sandy ini wujudnya kayak tuyul loh. Kepala semi botak, perut buncit, kalo lari semua yang montok di tubuhnya bergetar.

Dan sebagai tante yang baik dan berdikari. Ya pasti aku ajaklah, emaknya aja melotot gitu pas aku mau nolak. Jadinya berangkat dah diriku dengan si tuyul di boncengan belakang.

Awal belanja sih lancar ajalah ya. Comot shampo, minyak goreng, gula, beras, kecap, sama satu pack kopi merk 'hari baik', tahukan(?). Semuanya diambil dengan ukuran paling besar, kecuali beras cuma berani ambil yang 5 kiloan aja.

Karena aku pikir ponakanku hari ini bersikap baik, aku hadiahin dia eskrim. Aku ambilin deh yang merk-nya mirip sejenis senjata, 2 bungkus. Kurang baik apa coba aku ini?

Pas ke kasir, aku dengan santai ngasih belanjaan mbak-mbaknya kasir. Perkiraan sih totalnya enggak sampai 300-ribuan. Lumayan nih, ama suami dikasih 500 ribu. Bisa buat order ice cream cake di cakekia nih sisanya.

Sampai ketika mbak-mbak kasirnya selesai menotal semua belanjaan dan bilang, "Semuanya empat ratus delapan puluh tujuh ribu enam ratus lima puluh rupiah. Mau pakai kartu kredit atau debitnya mbak?"

Dan aku cuma bisa, "Hah?"

Dalam hati mikir, buset nih embaknya mau korupsi ya, kok mahal amat ya.

Waktu mau komplain, padahal masih mulai mangap, ada ibu-ibu yang antri di belakangku ngomel, "Dik cepetan dong tinggal bayar aja, apa enggak punya duit ya. Jangan sok-sokan belanja disini dong. Kalau nggak bisa bayar, cepet minggir! Saya juga udah keburu ngompol ini."

Kulihat ibu-ibu itu berjalan sambil mengapit bagian dalam pahanya dengan telapak tangan. Karena gengsi dan kasihan sama itu ibu-ibu, akhirnya aku bayar aja belanjaanku. Walaupun dengan hati enggak ikhlas. Dan buru-buru keluar dari sana.

Pas di parkiran cobaan-pun datang lagi. Motor matic yang aku naikin nggak mau nyala.

Aku sebel, pengen nangis. Terpaksa pulang ngedorong. Uang kembalian belanja cuma ada dua ribu sama 2 buah permen. Itupun uangnya harus aku relakan abang tukang parkir. Ini beneran enggak bagus buat dipendam, ini harus diceritakan ke Mas Ali tentang nasib isterinya yang dinistakan harinya hanya karena berniat beli jajanan enak.

Setelah ngedorong motor -dengan posisi ponakan naik ke jok motor- sekitar 10 meteran, ada tukang becak tanya, "Mbak, motor masih plat putih kok udah main dorong aja? Bannya kayaknya kagak bocor deh. Bensinnya abis ya Mbak?"

"Hehe ... enggak Pak. Motornya kayaknya rusak. Nggak mau nyala." kataku sambil berhenti, mengambil napas dan sedikit istirahat. Sebenarnya juga berharap ditolongin sih.

Dan si abang becaknya mendekat, "Coba abang liat, nanti kalau emang bener-bener enggak bisa, motornya taruh di bengkel deket perempatan situ, terus Mbaknya saya antar aja gimana?"

Karena pikiran putus asa, ya udah pasti aku nurut ajalah. Yang penting cepet sampe rumah. Enggak perduli ponakan belum pulang ke kandangnya.

Tapi ternyata setelah si abangnya mendekat..

Brurhrhrhrh!
(Oke ini emang aneh, karena motor matic suaranya kan halus banget, walaupun enggak sehalus perasaanku)

Si abangnya noleh, "Bisa nih Mbak. Kayaknya juga enggak ada masalah."

Aku terdiam, membisu. *plak
Antara seneng sama malu, aku bilang ke abang becaknya, "Maaf Bang, kayaknya tadi saya kelupaan naikin penyangganya." dan kupasang senyuman maksa sebisaku agar terlihat manis.

Langsung deh, ngebut nganterin tuyul ke rumahnya. Tapi ternyata ada yang lebih menyebalkan waktu mengambilkan eskrim punya ponakan.

Ada pembalut kemasan jumbo, shampo yang merk-nya enggak aku pakai, minyak goreng merk yang biasa buat diet dan masih banyak lagi barang lainnya yang enggak aku harapkan bersanding dengan barang belanjaanku.

Aku dekati si tuyul, "Shan, kamu ya yang ngambil ini, ini, ini?" kutunjuk barang-barang yang kuanggap asing.

Dan dengan polosnya dia ngangguk, "Iya, itu yang biasa dibeli mamah kalau lagi belanja Tan."

Langit runtuh seketika.









Mau ngingetin, disini enggak ada acara edit-mengedit loh ya. Jangan harap kegajean disini sudah edited. Haha

Muach

Satujuliduaribuenambelas


It's MeStories to obsess over. Discover now