Pertemuan awal

112 18 28
                                        

"You got nothing wrong with you killa
Thrilla in Manila
The lipstick stains on your boxing gloves
You know what I love, you know what I love
Whatcha gonna do when I fight for you?
Whatcha gonna do when I fight for you?
Thrilla in Manila, Thrilla in Manila
Whatcha gonna do when I fight for you?
Whatcha gonna do when I fight for you?
Thrilla in Manila, Thrilla in Manila"

"NADA! KUPING GUE SALAH APA SIH SAMA LO? NGGAK USAH NYANYI SEHARI BISA NGGAK?!"

Nada Sylaa, gadis berumur enam belas tahun dan sekarang sudah duduk di bangku SMA kelas dua. Gadis penyuka penyanyi asal Oklahoma bernama Greyson Chance ini selalu menyanyikan lagu penyanyi tampan itu setiap ada jam kosong dikelasnya. Gadis bermata hazel yang membuat siapa saja yang melihat matanya akan merasa damai, gadis ini berambut panjang berwarna coklat gelap yang menjuntai kebawah, bulu mata yang lentik yang menghiasi matanya membuat kecantikan gadis ini bertambah.

Dari semua keunggulan yang dimiliki Nada, gadis ini bergaya sangat jauh dari wajahnya yang cantik; terlalu cuek akan penampilannya dan gadis ini juga suka lupa diri kalau udah asik dengan urusannya seperti ngegila di tempat umum, misalnya.

"Hehh.. Seharusnya lo bersyukur karena bisa ngedengar suara merdu gue setiap hari, coba aja kalo gue udah terkenal, jam terbang gue bakalan banyak dan susah buat nyanyi didepan lo secara private!" ungkap Nada sembari menaruh sapu yang ia gunakan sebagai alat pengeras suara saat gadis itu bernyanyi.

"Najis! Gue malah pengen nyumpel mulut lo pake kaos kaki-nya si Gensa." oceh pria itu sembari menyentil kening Nada.

Pria itu bernama Flavian Keenan Atmojo atau biasa disapa Fian, salah satu sahabat Nada sejak gadis itu duduk dibangku putih abu-abu. Fian selalu protes ketika Nada mengeluarkan suara yang jauh dari kata merdu-nya itu.

Fian memiliki mata indah berwarna hazel seperti mata milik Nada, rambut hitam pekat yang selalu ia biarkan berantakan membuat pria itu terkesan badboy yang membuat kaum hawa terpesona dengan ketampanan pria tampan ini. Apalagi pria itu terkenal dengan julukan cowok murah senyum dan humoris yang membuat kaum hawa di sekolah-nya mengantri ingin menjadi kekasih Fian, tetapi ada juga beberapa gadis yang menganggap kalau Fian ini termasuk jejeran pria yang playboy karena sering tebar pesona setiap melewati koridor.

"Ck, woy! Latihan biologi gue mana?!" teriak Nada yang tidak menemukan buku tulisnya dimeja, tau-tau sudah raib saja ditelan bumi.

"Ini Nad, kita-kita minjem dulu yak!" balas si ketua geng alias ketua kelas yang sudah menjadi komando teman-temannya untuk bersikap normal dan tidak grusak-grusuk ketika menyalin pekerjaan rumah.

"Kampret si Nada gambar epidermis kayak gambar kardus." celetuk Gensa yang membuat teman-teman lainnya tertawa terpingkal-pingkal mendengar celetukan Gensa.

"Taik! Awas-awas, nggak usah nyontek punya gue lagi." Nada langsung bangkit dan langsung menarik paksa buku tulisnya yang berada dimeja.

"Yahh.. Nada ngambek, tuhkan! Lo sih, Gen." ucap gadis yang matanya memakai lensamata ; bukan untuk gaya-gayaan tetapi untuk membantunya melihat dengan jelas karena matanya minus dua, tapi gadis ini biasanya lebih sering memakai kacamata karena matanya sering kelelahan memakai lensamata. Gadis manis ini bernama Mira Lavionita.

"Lo juga kan ikut andil dalam masalah ini, Mir. Lo ketawa kan tadi?" Gensa memutar kedua bolamata-nya kesal.

"Banjrottt!! Udah lagi woy drama picisan-nya! Mana Nad bukunya? Ini masalah hidup dan mati, Nad. Masa lo tega sih sama gue?" gadis yang memakai cardigan abu-abu kini menghampiri Nada untuk meminta buku tulis milik Nada kembali. Gadis ini bernama Adriana Syakieb atau biasa disapa Rana.

FangirlingDonde viven las historias. Descúbrelo ahora