Sedotan

910 0 0
                                        

Panji, sudahlah, letakkan saja sedotan itu. Bukannya kamu sendiri yang bilang bahwa hidup harus berguna?
***

"Pertama, cari botol air mineral bekas. Tutupnya dilubangi. Dua lubang. Bisa pakai gunting atau paku, terserah. Yang penting jangan terlalu longgar untuk dimasuki pipet atau sedotan.
Kemudian, ambil dua batang sedotan air mineral gelasan. Bengkokkan. Caranya? Dibakar sebentar. Bukan dibakar sebenarnya, tapi dipanasi biar agak meleleh. Lalu biarkan bengkok sendiri dan mengeras lagi. Sedotan pertama bengkoknya di dekat ujung yang lancip. Sedotan kedua di dekat ujung satunya.
Kalau sudah, tusuk di lubang di tutup botol yang tadi. Dua-duanya. Pokoknya ujung yang lancip harus di dalam botol. Jadi nanti salah satu sedotannya ada yang lebih panjang keluar. Mengerti kan? Pasti mengerti, lah.
Nah, sekarang isi botolnya dengan air. Jangan penuh-penuh. Jangan sedikit juga. Seperempat volum botol lebih sedikit cukup, lah. Biar kalau dihisap dari sedotan yang panjang, airnya nggak ikut terhisap.
Kalau tabung kaca yang kecil itu kami sebut pirek. Itu sebenarnya alat untuk obat tetes telinga, katanya. Bakar ujungnya yang kerucut, kalau sudah cukup panas, tempelkan ke ujung sedotan yang pendek. Disambung. Nanti sedotannya merekat sendiri ke pirek karena panas. Nah, di pirek inilah nanti barangnya dibakar."
Aku masih hafal kalimat-kalimat itu. Saat itu sebegitu seriusnya kamu mendengar. Raut mukamu kamu pasang mirip anak kecil yang baru pertama kali belajar membuat layangan. Ini baru teorinya, kalau diberitahu prakteknya mungkin kamu bisa lebih cepat jago dari ini. Entah apa yang ada di benak kamu waktu itu. Mungkin hanya sekedar ingin tahu, mungkin juga kamu benar-benar ingin bisa.
"Memangnya kamu kepingin tahu cara bikin 'alat' buat apa, Ji?"
"Ya, nggak kenapa-kenapa," kamu tak mau jujur.
Harusnya kucegah saja kamu waktu itu. Begitu tahu caranya bikin alat, rasa penasaran kamu akan merambat lebih jauh lagi. Dan untuk urusan yang satu ini, sekali kamu terjerat, sulit untuk bisa meloloskan diri. Miris jika mengingat itu adalah kata-kata yang sering keluar dari kamu untuk menjauhkanku dari jeratan itu.

Salahnya, kita tinggal di pemukiman orang-orang bejat. Meskipun semua tergantung individu masing-masing, tapi godaan disini sudah pasti sangat kuat. Kamu dulu pernah mengajakku kabur saja dari tempat ini. Kamu bilang, masa depan itu lebih penting. Kalau terus disini, kita hanya akan berakhir menjadi kriminal atau pecandu yang overdosis atau bahkan kedua-duanya. Bisa saja.
Katamu, kamu ingin jadi mahasiswa. Hidup lurus penuh wawasan. Memiliki lingkaran sosial yang biasa-biasa saja tapi menyenangkan. Berkumpul tidak tahu waktu, menceritakan kejadian-kejadian lucu sewaktu di kelas. Saling mengejek namun tidak ada yang marah. Jatuh cinta dengan wanita berkerudung, kemudian ditolak. Berusaha menjadi yang paling keren di kampus demi mengejar pengakuan. Kenakalan yang kamu tahu paling-paling hanya sebatas bolos dan bermain game online di warnet seberang kampus. Atau sesekali memainkan hati perempuan, berlagak jadi playboy.
Tapi untuk menaklukkan hati wanita kamu harus populer, kamu bilang. Minimal, jadilah musisi. Lalu khayalan kamu pindah haluan menuju panggung musik. Kamu awali dengan panggung yang kecil, lama-lama kamu mulai naik ke panggung besar. Dielu-elukan ribuan wanita, terkenal, otomatis menaikkan reputasimu di mata teman-teman seangkatan. Sementara mereka sibuk hidup sebagai karyawan biasa, kamu sibuk menjelajah dari panggung ke panggung. Kemudian dengan bangganya pulang lantas menyombongkan pengalamanmu demi kepuasan ego.
Kamu juga ingin kaya raya, itu mimpimu. Hidup sehat dengan uang banyak. Rumah besar dengan istri yang cantik. Anak-anak yang ceria setiap harinya. Yah, kalau bicaramu sudah ngalor-ngidul begitu, paling-paling aku nikmati saja. Aku selalu suka mendengar isi khayalanmu. Detil dan manis. Kadang membuat iri walaupun itu cuma khayalan. Karena aku tidak pernah sekalipun berfikir dan bermimpi seperti itu.

Sayang sekali sekarang otakmu rusak. Panggung-panggung itu kamu lupakan. Anak-anak itu, teman-teman seangkatan itu, satu-satu kamu kubur dalam benak. Kamu lebih fokus untuk menggigit sedotan. Bagaimana caranya hisapan sedikit bisa menghasilkan asap yang banyak, kamu tahu caranya. Karena kamu tahu harga 'barang' mahal, sedang dompetmu isinya seringkali pas-pasan, maka pandai-pandailah kamu menakar. Kamu paham betul bagaimana caranya membakar. Sekarang lihatlah anak-anak didikmu yang sekolahnya berantakan itu selalu sabar menantikan tanganmu yang mengatur apinya. Hanya tanganmu yang mereka percayai. Lebih terampil dari gurumu sebelumnya, kata mereka. Puaslah mereka kalau tanganmu sudah bermain di hadapan mereka. Kamu lakukan itu dengan sering, bahkan kadang tak tidur tiga hari tiga malam.

Lingkaran sosialmu jauh dari yang pernah kamu khayalkan. Bandar, penjudi, pencuri, pemabuk, pecandu, PSK yang kesemuanya mampu bersembunyi dengan baik dibalik kehidupan normal yang mereka tetap jalani. Meskipun terjerumus, mereka tetap ingin dipandang baik di pergaulan mereka, itu sudah menjadi rahasia umum. Kamu bisa jadi benar sewaktu kamu menginspirasiku untuk tidak menilai seseorang dari latar belakang. Bagaimana mereka memperlakukan kita, seperti itulah seharusnya kita memperlakukan mereka. Tapi benarkah mereka sudah memperlakukan kamu dengan baik? Mereka menjauhkan kamu dari khayalan-khayalan kamu itu. Dari kampus. Dari panggung. Kamu senang mereka merangkul kamu, tapi kamu tidak sadar rangkulan itu membawa kamu ke lingkaran yang salah. Kamu justru sedang berjalan menjauhi kampus apalagi panggung.

Maaf, bukan bermaksud menggurui. Kita sudah berteman lama. Ini hanya bentuk rasa peduli. Karena kamu yang paling sering berjuang bersamaku. Masalah apapun, kamu dukung bukan dari belakang, melainkan turun tangan langsung di depan. Kamu kakak, lebih dari sekedar kakak. Kerabat-kerabat kita yang entah kemana itu mungkin sudah lupa dengan wajah kita, begitu kamu bilang. Kamu sendiri yang mengajariku hidup dengan benar. Kamu ajari aku bekerja, menyetir, bermain gitar, tampil keren di depan Marina sampai aku jadian dengannya. Kamu suapi aku dengan wawasan-wawasanmu yang sebagian tak penting itu.
Kamu yang ajari aku agama, mengenalkan aku pada Tuhan. Kemudian mengajari aku lagi untuk melupakan-Nya. Katamu alam semesta ini isinya penuh rahasia. Yang mana yang benar-benar 'benar' selamanya akan tetap samar. Dan entah kenapa aku menurut saja. Aku juga tidak tahu apakah kata-katamu itu benar-benar 'benar' atau sama samarnya dengan yang benar-benar 'benar'. Aku hanya suka mengikutimu walaupun itu samar.
Maaf, kamu mau hidup seperti apa, itu memang hak kamu. Aku cuma kangen dengan Panji yang dulu. Yang masih gemuk, sehat dan ceria. Olahraga teratur, wajah cerah. Olahraga apa yang kamu tidak bisa? Futsal, badminton, renang, basket, voli, semua kamu bisa. Rekor kamu berlari delapan putaran di lapangan merah yang hanya sepuluh menit saja sampai sekarang belum terpecahkan. Sayang sekali kalau bakatmu itu harus kamu sia-siakan hanya karena butiran kristal.

Apa yang kamu cari? Gemeretak gerahamkah? Kecapan lidah? Kebahagiaan yang cuma semu itu? Memang, kristal setan itu daya tariknya kuat. Kamu boleh saja mulanya hanya mendengar cerita-cerita mereka. Petualangan-petualangan mereka menikmati warna malam. Kamu tahu, ada setan dibalik warna-warna itu. Lupa kamu, setan terlahir pandai membujuk. Kamu yang sudah punya ancang-ancang menghindar itu saja bisa dihasutnya. Hingga kamu berani mencicipi kristal-kristal itu langsung dari telapak tangan sang setan.
Kamu sendiri sudah menyadarinya, bukan? Bahwa 'hanya coba-coba' adalah kalimat yang berbahaya. Lihatlah, kamu sekarang terjebak dalam perputaran roda yang terus berulang-ulang. Layu, siram, layu lagi, siram lagi. Kamu dibuai dengan gairah palsu buatan setan, sementara jari-jarinya yang satu lagi sedang mengobrak-abrik kesehatanmu. Kasihan jiwamu, harus menanggung retakan demi retakan menggerogotinya. Karena bukanlah fisik yang menjadi kerugian paling besar dalam perjudianmu ini. Tapi, ya, jiwamu itu. Kamu yang seharusnya bisa meraih kebahagiaan yang sebenarnya malah dengan sengaja jadi pecandu. Bayangkan kalau idealismemu itu tak kamu jual. Bisa jadi kamu sudah kuliah sekarang. Mungkin saja kamu akan menginspirasi orang-orang. Bukannya malah menjadi bagian dari orang-orang yang butuh inspirasi. Orang-orang seperti itu sudah terlalu banyak di negeri ini, kamu malah menambahnya lagi.

Biar kuberitahu, yang ada di hadapan kamu nanti hanyalah jurang terjal. Di jurang itu nanti akan kamu buang harapan-harapan kamu dengan terpaksa. Kamu sisakan sepotong di genggaman sambil menahan sesal. Satu-satunya nanti yang kamu rindukan hanyalah waktu. Seandainya kamu bisa kembali ke masa lalu dan mengulang semuanya dari awal. Kamu tidak bisa menangis saking sedihnya. Juga tidak bisa kembali karena kamu sadar bahwa jalan satu-satunya tinggal jurang itu.

Panji, sudahlah, letakkan saja sedotan itu. Bukannya kamu sendiri yang bilang bahwa hidup harus berguna? Jangan seperti temanmu ini. Badan kurus, masa depan tak terurus. Yang tersisa cuma sepotong harapan di genggaman. Pinggir jurang ini bukan tempatmu, karena kamu bukan setan. Kembalilah jadi orang biasa seperti sebelum kamu mengenalku.

***

SedotanDonde viven las historias. Descúbrelo ahora