Matahari pagi selalu bersemangat menyinari, tak kenal lelah dan tak jua mengeluh. Amanda merasakan peluh sudah membasahi baju barunya. Baju yang akan ia pakai selama 2 tahun kedepan. Karena ia telah memutuskan untuk menanggalkan baju lamanya, sekaligus menanggalkan kenangannya disana. Di sekolah itu. Dikota itu.
Ajang basa-basi perkenalan pasti dilakukan untuk setiap murid pindahan seperti Amanda. Mengenalkan diri, pindahan darimana, dan yang paling penting mengapa pindah. Tentu saja untuk bagian mengapa pindah Amanda berbohong. Karena menurutnya, orang lain tidak perlu tahu mengapa ia pindah.
Amanda duduk dibelakang dengan dua kursi yang kebetulan kosong. Entah karena memang kosong, atau orang yang duduk dikursi itu terlambat. Dan benar saja, orang yang duduk dikursi itu terlambat. Karena tidak ada lagi bangku kosong selain disana.
Jangan bilang ini pentolan sekolah. Baju dikeluarkan, tidak ada nama maupun badge sekolah, celana kuncup, sepatu putih. Dan catat, ia nyelonong masuk tanpa permisi. Dia menatap Amanda dengan tatapan heran.
"Minggir lo, ini kursi gue," usirnya pada Amanda. Amanda tidak bergeming tetap mencatat apa yang sedang dituliskan Bu Friska.
"Lo budek ya? Gue bilang minggir!" usirnya lagi.
"Maaf ya, siapapun elo gue gak akan minggir. Gue anak baru dan gue gak ada kursi." tegas Amanda yang sedikit terusik oleh kelakukan cowok itu.
"Gue Azka, gue pentolan sekolah ini," ucapnya penuh penekanan. "Dan lo siapa berani ngebantah gue?"
"Gue Amanda Disa ---" 3 kata yang baru terucap dan tak terselesaikan itu membuat Azka berteriak.
"Lo gakusah bohong!" terlihat matanya penuh dengan api yang menyala-nyala.
"Azka! Kamu ini, sudah terlambat, bikin ribut lagi! Keluar kamu! Tidak usah ikut pelajaran saya!" bentak Bu Friska pada anak muridnya yang paling nakal disekolah ini. Bu Friska termasuk salah satu guru yang masih sabar menghadapi Azka. Namun kali ini, ia sudah tidak tahan dengan kelakukan Azka.
"Urusan kita belum selesai!" bisiknya sebelum melenggang pergi keluar kelas.
"Mungkin otaknya rada miring, Man, udahlah" ucap Amanda dalam hati.
"Kembali fokus anak-anak, siapa yang membuat keributan lagi, kali ini Ibu tidak akan segan-segan membuat kalian keluar juga seperti Azka." tegas Bu Friska.
****
Kantin sudah padat padahal bel istirahat baru saja berbunyi. Amanda berusaha menyelinap diantara kerumunan untuk memesan makanan favoritnya yaitu bakso. Ia mencari salah satu tempat duduk yang kosong di kantin yang cukup luas itu. Setelah mendapat tempat duduk, Amanda memainkan handphonenya sambil menunggu pesanannya.
"Anak baru, ya? Gue Reyhan. Lo siapa?" ucapnya sembari mengulurkan tangan. Amanda mendongak untuk melihat.
"Gue Amanda" jawab Amanda tanpa membalas uluran tangan Reyhan dan kembali memainkan handphonenya.
Bakso pesanan Amanda pun datang. Ia mulai memakan baksonya tanpa peduli Reyhan yang menatapnya intens.
"Manda!" seru seorang cewek yang sedang menuju kearahnya. "Jadi, anak baru sekolah ini tuh elo?" lanjutnya.
"Tira," Amanda sedikit kaget melihatnya, "lo sekolah disini juga? Yaampun gue kira gue gak akan ketemu siapapun disini." terlihat muka Amanda sangat girang.
"Yaelah, Man, lo kenapa gak bilang sih kalo mau pindah kesini. Kan lo tau gue tinggal didaerah sini. "
"Gimana mau bilang, nomor lo aja gak pernah aktif." tandas Amanda.
"Sorry, sorry, handphone gue waktu itu ilang. Jadi, contact temen-temen di Bandung udah ilang semua, Man" ucapnya menyesal.
"Eh betewe, lo ngapain sama Reyhan? Lo kenal?" tanyanya pada Amanda.
"Yakali gue kenal baru aja pindah"
"Ye kan siapa tau. Eh Reyhan, lo tau aja kalo ada murid baru. Pasti mau lo incer, ya?" tanya Tira penuh selidik.
"Paan sih lo, Tir. Gosip mulu! Tuh urusin bebeb Azka lo" tunjuk Reyhan ke Azka yang sedang mengusir anak-anak yang sedang makan karena ia ingin duduk disana.
"Azka" panggil Tira sangat keras agar sang pacar bisa mendengar suaranya. Azka mencari asal suara dan mendapati Tira yang sedang menatapnya. Ia berjalan menuju ke meja yang ditempati Tira.
"Ka, kenalin nih temen SD gue. Udah lama gue gak ketemu, eh malah ketemu disini."
Azka melihat Amanda, dan secara bersamaan mereka mengucapkan, "Elo?"
"Kalian udah kenal?" tanya Tira bingung.
"Gue peringatin sama lo, lo gakusah temenan sama dia!" ucap Azka.
"Tapi kenapa?"
"Dia itu pembohong!"jawab Azka penuh penekanan
"Lo apaan, sih, Ka. Maksud lo apa? Dia itu temen gue" Tira hampir menangis karena Azka yang terlihat sangat marah. Azka tidak pernah seperti ini.
"Dan lo," tunjuk Azka pada Amanda, "jauhin Tira!" lanjutnya.
"Denger, ya, Azka. Gue bukan pembohong, catet itu! Karena nama gue emang Amanda Disa--"
"JANGAN PERNAH LAGI LO NYEBUT NAMA ITU!" bentak Azka keras. Membuat orang-orang dikantin memerhatikan mereka. Tira kaget dengan apa yang dilakukan dengan Azka. Dia langsung berlari dari tempat itu, menerobos penonton yang sedang asyik memperhatikan mereka.
"Tir," panggil Azka namun tak digubris oleh Tira, "ini semua gara-gara lo!" tunjuknya pada Amanda. Ia pun berlari mengejar Tira yang sudah hilang entah kemana. Dan penonton pun buyar seketika.
"Udahlah, Man, gak usah didengerin orang kayak dia. Emang suka cari masalah tuh anak. Gih abisin bakso lo tuh, keburu dingin" Reyhan menenangkan Amanda yang masih nyalang.
"Gue jadi gak mood!" Amanda pergi dari kantin. Ia mencari tempat untuk menenangkan diri.
