Pagi ini terlihat begitu cerah dengan paparan sinar matahari, tetapi berbeda jauh dengan perasaanku saat ini yang sedang berduka. Ah mungkin terdengar berlebihan.Tapi ya beginilah kenyataannya ditinggal oleh seseorang yang sangat disayangi apalagi sudah hampir 2tahun bersama itu sangatlah menyakitkan.
Kenangan itu kembali mengganggu pikiranku ketika aku tidak sengaja duduk di pinggir lapangan basket dengan pandangan terarah tepat di depan kelasnya. Memang benar sebelum memutuskan untuk berpacaran kami bersahabat dan ketika mengakhiri hubunganpun kami sepakat untuk tetap menjalin persahabatan itu lagi. Bagaimana bisa lupa dengan semuanya? Sedangkan dia masih berada di sekitarku bukan lagi pacar tetapi sebagai seorang sahabat. Egoiskah aku jika aku masih menyayanginya? Sedangkan dia telah menemukan penggantiku?
Semuanya tampak mengecewakan.
"Hei!!" Aku langsung kembali dari dunia khayalku ketika seseorang mengejutkanku entah darimana datangnya.
"Apaan sih, Bang. Ngagetin" aku langsung melayangkan tonjokan kecil dilengannya.
Dia adalah Abangku, Dimas. Dia kakak kelasku. Ya meskipun bukan Abang kandung tapi aku sangat menyayanginya, bagiku dia sudah aku anggap seperti saudara. Bang Dimas juga sangat baik padaku, memperhatikanku dan menyayangiku. Itu sebabnya aku merasa nyaman berada di dekat Bang Dimas.
"Ngelamunin apaan sih hm?"
Bang Dimas langsung menghempaskan dirinya dikursi sebelahku dengan tangan yang merangkul bahuku.
"Siapa yang ngelamun sih? Orang lagi duduk aja."
"Jangan bohong deh, abang liat dari tadi Sasa mantengin kelas sosial 1, hm?" Bang Dimas mengangkat sebelah alisnya. Dia tidak bisa dibohongi apalagi jika itu menyangkut diriku.
"Enggak kok bang!" Elakku.
"Atau jangan bilang Sasa lagi merhatiin Zio?"
Tebakan abang benar. "Ih enggak bang!! Ngapain juga."
"Iyaiya udah. Gimana ntar sore pulang sekolah abang anter pulang? sekalian mampir ke caferia biar gak sedih sedihan lagi."
"Enggak ah capek. Aku pingin langsung pulang aja."
"Abang traktir deh. Gimana?" Bang Dimas tersenyum dan menaik turunkan alisnya. Ah bisa meleleh juga nih.
Bang Dimas memang masuk dalam deretan cowok terkeren di sekolah. Temenku bilang aku beruntung sekali bisa sedekat ini dengannya. Memang sih.
"Tapi caramel macchiato ya bang!" Pintaku pada Bang Dimas. Lumayanlah pembangkit mood.
"Oke. Caramel mocchiato untuk adik kecil abang!" Bang Dimas mecubit hidungku sebelum dia pergi dan mengacak rambutku "Abang pergi dulu!." Aku hanya mengangguk dan mengacungkan jempolku.
Autor Pov~
Selepas Dimas pergi, Sasa tidak sengaja melihat zio keluar dari kelasnya. Mereka sempat bertatapan hanya 3 detik, tetapi Sasa langsung memutuskan kontak mereka. Sasa mengalihkan pandangannya ke arah lain dan meninggalkan lapangan yang sedari tadi ia tempati.
Di tempat lain, zio memperhatikan kepergian sasa. Sebenarnya ada rasa menyesal dalam dirinya telah meninggalkan sasa demi orang baru dalam kehidupannya, tetapi dia tidak bisa menolak karena saat ini egonya lebih tinggi dibandingkan perasaannya.
------------------------------------------
-sasa-
YOU ARE READING
Alur Indah
Teen Fiction"Andai Allah telah memilih dirimu untukku, aku ridho dan akan terus bersamamu. Apapun yang ada padamu dan yang kamu miliki aku juga akan terus menerima. " -sasa- Cerita ini aku tulis atas pengalaman sendiri, ku tambahin sedikit bumbu-bumbu pemanis...
