.....
Leah benar-benar nggak habis pikir sama Keenan. Tadi sewaktu jam istirahat, cowok itu sendiri yang mendatangi Leah dan bilang kalau dia nggak bisa mengantar Leah ke tempat les piano-nya karena harus mengikuti pertandingan basket.
Dan sekarang Keenan tanpa mempedulikan situasi dan kondisi langsung menarik tangan Leah menjauh dari teman-temannya, menjauh dari kafe Libra.
"Apaan itu barusan?!" bentak Keenan langsung dengan wajah menahan amarah begitu sampai di parkiran.
Tidak terima dengan perlakuan aneh Keenan, Leah mengangkat kepala tanpa mengabaikan ringisan kecilnya akibat cengkeraman Keenan yang melukai tangannya. "Kamu yang apaan?! Narik-narik aku didepan teman-teman aku. Maksud kamu apa?!"
Keenan melotot tajam, bukan hal baru memang ketika ia meneriaki Leah dan Leah balas berteriak padanya. Tetapi tetap saja, hal itu selalu mengejutkannya.
"Argh!" Keenan melepaskan cengkeramannya dengan kasar dan mengacak rambutnya dengan frustasi. "Stop yelling at me!"
"But you first!"
Keenan menatap tajam Leah yang sedang mengelus pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkeramannya tadi. "Sekarang kamu jujur sama aku sebelum aku habis sabar sama kamu."
Leah mengernyit bingung.
"Nggak usah pura-pura nggak tahu, Leah. You already know what i mean." nah, sekarang suara Keenan berubah dingin dan datar. Sifat menyeramkannya mulai mengintimidasi Leah.
Mencerna apa yang diucapkan Keenan, Leah mencoba memutar ulang rangkaian kegiatannya hari ini. Apa ada sesuatu yang salah yang telah ia perbuat sampai membangunkan sosok singa dari seorang Keenan yang temperamental.
But she's got nothing!
Tidak ada satupun kesalahan yang menurutnya telah ia lakukan.
Menyerah, Leah kembali menatap mata tajam Keenan yang ternyata sedari tadi menatapnya. "Keen, please, i don't know what are you talking about."
Dan sedetik setelahnya, Leah menyesal telah mengatakan itu. Keenan makin melotot padanya seakan hendak memakannya mentah-mentah. "What?!" pekik cowok itu tidak percaya dengan apa yang barusan Leah lontarkan.
"Oh God! What the hell are you thinking about, Emilia?! Kamu pulang sekolah diantar sama Prima, les piano juga diantar sama dia, dan sekarang kamu berlagak nggak tau apa-apa! Atau kamu sengaja menyembunyikan fakta itu dari aku?!" Keenan menghela napas, "i don't know what the hell is going on in your mind, for God's sake!"
Selanjutnya Leah hanya bisa menunduk dalam. Menelan ludah pahit karena Keenan berhasil membuatnya bungkam, lagi dan lagi, dengan alasan yang sama. Ia bersama Prima dan Keenan yang cemburu.
Leah tidak tahu apa kesalahan Prima sampai Keenan begitu sensitif dengan cowok yang notabene nya adalah kembarannya itu. Yaa, walaupun tidak identik tapi tetap saja mereka terlahir dari rahim yang sama dengan darah daging yang sama juga. Bukan kali pertama Keenan bersikap seperti ini saat mengetahui Leah dijemput atau diantar pulang oleh Prima, dan bahkan sekedar bercakap-cakap di perpustakaan sekolah pun, Keenan akan menyemprot Leah ini-itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Keens
Fiksi RemajaKeenan yang begini dan Prima yang begitu. Lalu Leah harus bagaimana? Dan tiba-tiba sebuah fakta yang telah lama terpendam membuat Leah menelan ludah berat. Tidak pernah sekalipun ia berpikir bahwa dua orang tersebut akan membohonginya. Melukainya...
