Skripsiable

237 11 0
                                        

"Dan ketika sudah lelah sendirian, Menikahlah. Karena kemana-mana sendirian itu nggak enak, karena apa-apa sendirian itu nggak asik, dan karena hal-hal yang berkaitan dengan sendirian itu terlihat "mesakne". Ya, andai menikah semudah mendapatkan undangan pernikahan dari teman lama ini. Semua orang pasti sudah menikah hari ini. Begitupun kamu, meski bukan dengan ku. Atau aku, meskipun bukan dengan kamu.
*lalu skripsi berteriak marah-marah "mbok aku di jalani dulu".

Kira-kira itu caption foto yang akan ku post di instagram sore ini setelah aku menerima undangan pernikahan dari salah seorang teman SD ku. Sudah sekitar 10 orang dalam 5 bulan terakhir, aku di pojokkan dengan undangan pernikahan semacam ini. Bukan menikahnya yang membuatku iri, bukan sama sekali. Tapi, ada hal yang lebih sepele dari itu.
"Kira-kira aku berangkat dengan siapa kali ini? Apa aku kirim saja hadiahnya dengan bantuan mas-mas JNE yang biasa ku pakai jasanya untuk mengirim bumbu pecel ke jakarta?" tanyaku pada diri sendiri.
Lalu tumpukan revisian skripsi menertawakanku, "hahaha, baru kali ini ku lihat ada orang yang lebih mencemaskan pergi ke pernikahan teman lamanya dengan siapa ketimbang kapan bisa menyusul menikahnya?"
Ku lirik tajam tumpukan revisian yang duduk dengan angkuh di atas meja belajar itu yang sebenarnya lebih mirip meja makan karena lebih banyak bungkus snack, toples-toples kosong yang di tinggal pergi isinya, beserta cangkir-cangkir kopi dan sisa sesapan di pinggirannya. Untuk kali ini sepertinya tumpukan revisian itu benar, aku lebih sering mencemaskan hal-hal yang sangat sepele.
Dan lagi sepertinya kamar ini lebih mirip tong sampah ukuran 4x6 hitam putih, semua berserakan dan entahlah aku bahkan bingung menarasikannya. Karena sepertinya sudah sejak 3 bulan ini tak ku sentuh barang sedetikpun kertas yang berserak dibawah rak buku yang terlihat "marah" karena buku miliknya tak lagi berada diposisi yang seharusnya dan malah tergeletak didekat tempat tidurku.
Sepertinya kamar ku porak poranda sejak skripsi melanda kehidupanku satu semester ini. Aku pikir skripsi hanya perihal, proposal-Acc dosen-penelitian-laporan-Acc-Sidang lalu yang paling di tunggu wisuda. Namun ternyata lebih rumit dan fatal ketimbang mencari jodoh yang tak kunjung menampakkan sendal bakiaknya didepanku. Ku lirik lagi gumpalan kertas revisian yang ku remas karena tulisan dosen yang tak terjemahkan.
Dan tumpukan revisian lainnya masih terkekeh. Mereka selalu berhasil membuatku beringsut ke dalam selimut dan tak menyentuhnya sama sekali.
Hingga kemudian handphoneku berdering, Tama. Partner in crime yang selalu membuatku tak mengerjakan revisian dengan segera. Tapi sebulan ini jauh dari jangkauanku dan membuat ku kelimpungan setelah dari kampus mau kemana. Saat lapar bilang siapa, saat tak punya uang mengadu kemana. Dan saat sendirian harus apa.
"nay, titipanmu sudah aku terbangkan ke solo. Buku, jurnal, skripsi dari temanku buat referensimu, dan segala macam tetek-bengek demi kelancaran skripsimu sudah ku kirim." Suara di seberang sana penuh semangat, untuk kali ini sepertinya tama jadi tim sukses yang benar-benar sukses. Ahh aku rindu kamu tiba-tiba.
"jodohku nggak kamu kirim sekalian tam, itu juga termasuk dalam tetek-bengek demi kelancaran skripsiku lho" kalimatku cukup datar untuk membuatnya sadar sesuatu.
"ya, tunggu seminggu lagi aku pulang" kalimat tama justru lebih sederhana untuk membuatku sadar akan hal sepele yang berlangsung cukup lama.

SkripsiableTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang