PROLOG

117 31 9
                                        


Pagi beranjak siang, langit cerah yang tadi memberikan kekuatan sudah berganti menjadi mendung kehitaman. Bukankah siang seharusnya panas, atau paling tidak cerah? Entahlah. Yang jelas semua orang yang sedang berlalu lalang saat ini ingin cepat sampai rumah.

Diantara ratusan orang itu, seorang gadis tampak tak peduli dengan sekitarnya. Dia tenggelam dalam dunianya sendiri, susasana hatinya sama dengan langit yang berada di atasnya saat ini.

Mendung.

Dia terus saja berjalan menyusuri jalanan tanpa memperdulikan apapun. Tak perduli sebentar lagi akan turun hujan, atau badai yang akan datang sekalipun. Yang ia fikirkan saat ini hanya satu, mengapa pria itu begitu tega terhadapnya?

"Apa salahku?" Lirihnya.

Dia berusaha untuk tegar. Namun tetap saja, suaranya terdengar begitu lirih dan menyedihkan, membuat siapa saja yang mendengar akan tahu tanpa melihat, bahwa saat ini gadis itu tengah menangis.
Sementara di seberang jalan, ada seseorang pria yang tengah memperhatikannya, tersenyum tipis memandangnya penuh cinta.

"Aku di sini.. tak bisakah kau memandangku sedikit saja, Fy?"

Pria itu berkata kepada dirinya sendiri yang ditujukan kepada sosok yang saat ini masih terisak di seberang sana.

Dia bernama Alfya. Gadis dengan penampilan menyedihkan, yang jika dia tidak memakai pakaian dan hels cantik saat ini maka orang-orang di sekitarnya akan mengira dia gila. Bagimana tidak, seorang gadis cantik berjalan gontai dengan tatapan kosong, rambut berantakan, serta mata bengkak. Yang pada akhirnya orang-orang itu mengira bahwa gadis yang mereka lihat itu hanyalah korban depresi berat.

Tapi apalagi yang bisa dia lakukan ketika seseorang yang amat dicintainya meninggalkannya begitu saja, meninggalkan begitu banyak kenangan bersamanya, meninggalkan janji yang tak pernah bisa ditepati?

Alfya menundukkan kepalanya sepanjang jalan. Berusaha menyembunyikan air matanya yang terus mengalir bagai hujan. Sungguh, dia tadi sudah berusaha menahan air mata sialan itu, tapi apa boleh buat, setiap kali mengingat prianya maka air matanya akan keluar tanpa disuruh.

Gadis itu bernama Alfya Ailrilyana.

MAYBEStories to obsess over. Discover now