'Cinta dalam diam itu seperti ingin meraba angin. Ga bisa diraba, cuma bisa dirasain
-A N
~~
Pagi hari menjelang dengan sigap anggie masuk menuju pekarangan sekolahnya seperti biasa ia akan melewati loker yang sudah menjadi sasarannya ketika memasuki sekolah tersebut
Pemilik loker tersebut adalah seorang laki laki tampan yang berperawakan tinggi dan tegap. Tak hanya itu ia telah memiliki prestasi yang cukup banyak di bidang atletik maupun pertunjukan science. Ia juga memiliki sikap yang dingin terhadap anggie, entah apa sebabnya yang membuatnya seperti itu . Yang jelas anggie akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapat perhatian dari laki laki tersebut
Anggie meletakkan cokelat dan bunga mawar seperti biasanya, membawa barang tersebut untuk dimasukkan kedalam loker sudah menjadi hal yang rutin semenjak 2 tahun yang lalu
Setelah selesai anggie kembali tersenyum dan jalan dengan kebahagiannya karna sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik
Kelasnya sudah mulai ramai walaupun mereka tidak seribut kemarin karna sibuk mengerjakan tugas yang tidak sempat mereka kerjakan kemarin
"Anggiee.. Gua liat pr fisika dong!! Soalnya gua ga ngerti" panggil karin dari sudut ruangan yang merupakan tempat duduknya dengan karin
"Ya rin" jawab anggie dengan tersenyum
"Shh sshh" desis karin yang mencoba untuk memanggil anggie sedang membaca novel
Saking terlarutnya anggie dalam membaca novel ia tidak sadar jika seseorang tengah berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan yang dingin
"Ekhm" dehaman itu cukup membuat anggie terlonjat dan menatap dengan penasaran apa yang terjadi
Seketika mata anggie membulat dengan sempurna, ia kaget kedatangan lelaki itu membuat ia tersipu malu dan lagi iya sudah memerah akibat lelaki itu sedari tadi tidak henti menatapnya dengan tatapan intens nan dingin seperti itu
"Gua ga butuh" ucap lelaki itu kemudian meletakkan bunga mawar dan cokelat tersebut dengan kasar ke meja anggie
"Tapi kenapa rakh?" Tanya anggie dengan kaget atas perlakuan rakha terhadapnya
Rakha hanya menaikkan bahunya kemudian berlenggang pergi dengan 3 sahabatnya, sahabatnya sedari tadi hanya memandang anggie dengan iba kemudian mereka tersenyum bermaksud untuk menyemangatinya bahwa masih ada hari lain untuk tetap bisa menaklukannya tetapi bukan hari ini
Anggie menatap kepergian rakha dengan sahabat sahabatnya dengan lesu dan tidak bersemangat. Sebenarnya sudah beberapa kali iya diperlakukan seperti ini, tetapi anggie tetap bersikuku untuk melakukan hal tersebut meski bagi orang akan membuang waktu dan percuma tapi baginya tak ada yang tak bisa jika belum mencoba sampai titik dimana rasa yang ia pendam akan terbalas bukan karena sia sia
"Lo gapapa kan?" Ucap karin dengan lembut kepada anggie yang disambut dengan gelengan serta senyuman tanda ia tidak apa apa
"Yang penting lo harus berusaha sekeras mungkin kalau lo mau memperjuangin dia, dan satu lagi lo harus bisa meruntuhkan dinding pembatas yang ada diantara lo dan dia" ujar karin menyemangati anggie
Mendengar ucapan karin, anggie menjadi bingung sendiri dengan apa yang karin ucapan barusan meruntuhkan dinding pembatas? Maksudnya?
Ucapan karin terus terngiang di telinga anggie karna dengan apa dia harus meruntuhkan dinding tersebut? Sedangkan yang didekati aja dia udah menjauh. Mungkin akan ada jawabannya kalau anggie akan berusaha
~~
"Ngie sini dehh" teriak karin dari luar kelas dengan heboh
"Apaansih rin? Gua lagi ngerjain tugas" gerutu anggie karna tugas yang diberikan pak jaya sangat banyak apalagi sedang di adakan rapat guru, pastilah tambah banyak
YOU ARE READING
Regret
Teen Fiction'Seseorang yang selalu berusaha mendapatkan cintanya walau hanya sedikit kemungkinan orang itu akan merasakan cintanya' Cerita ini berisikan tentang kumpulan kumpulan cerita dari berbagai versi. Jadi, disetiap cerita memiliki cerita yang berbeda dan...
