Part 1
Bayangan
Hiduplah seperti bayangan. Jangan selalu berada didepan dan kesulitan menoleh. Hidup dan berjalanlah dibelakang. Melihat bagaimana didepan sedang kesulitan.
- Dyana
Bagaimana membagi kebahagian jika hati tak mampu merasakan. Bagaimana membagi kebersamaan jika sesuatu hal membuat dirinya merasa sendiri. Begitulah wanita bernama Dyana. Wajahnya yang penuh dengan topeng. Tersenyum seakan kedua kehidupannya bahagia. Tidak mengenal kata bawah hanya melihat dan mengerti satu kata yaitu 'atas'
Dyana berbohong kembali. Tidak dirinya tidak hanya melihat ke atas. Kenyataan sebaliknya, dia selalu melihat ke bawah. Menoleh dan merangkul beberapa orang yang berada di bawah. Dyana hanya mengenakan topengnya. Meski dirinya tahu bahwa tidak ada kehidupan jika dia mengenakan topeng.
Seseorang meneriakinya pagi ini, membuat dada wanita bernama Dyana selalu mengembang lebih besar dan besar setiap hari. Namun hanya topeng yang digunakan saat itu. Tersenyum dan menunduk sopan.
"Ya, aku benar-benar minta maaf. Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya."
"Begitukah? Lalu bagaimana dengan beberapa hari yang lalu?"
"Itu hanya salah paham. Hanya kesalahan komunikasi. Aku akan sampaikan kepada staffku. Maafkan aku." ucap Dyana sambil membungkukan kepala ketika wanita yang berusia tiga tahun lebih tua melewatinya dengan angkuh.
Lalu beberapa staff muncul. Menghampiri Dyana, bahkan mendekati tubuh Dyana. Mengusap dada Dyana dengan lembut.
"Hei! Bisakah kamu tidak bersikap seperti itu Dyana? Apakah kami beban kamu hinggga kamu sulit membagi bersama." ucap salah seorang rekan kerja dan teman dekat Dyana.
Namun Dyana hanya menggelengkan kepala dan tersenyum kemudian.
"Benar, jangan selalu membantu kami. Aku seperti orang yang lupa diri."
"Benar, seperti orang tidak tahu malu." ucap wanita yang sudah mendekati usia paruh baya. Dia bernama nyonya Lin. Begitulah semua orang memanggilnya. Dyana yang mengusulkan untuk memanggilnya dengan sebutan nyonya.
"Nyonya Lin, aku hanya membantu. Teguran seperti tadi sudah terlalu biasa aku terima. Lagipula jika nyonya mendapatkan teguran. Aku sungguh yang tidak tahu malu."
Dyana seketika mengingat kejadian beberapa hari lalu. Mendengar dan melihat nyonya Lin tengah bertengkar dengan salah satu putrinya. Menyebutkan beberapa hal tentang uang sekolah. Bahkan Dyana melihat gadis itu menghentakan kakinya kepada nyonya Lin saat hendak pergi.
Dyana tanpa sadar, menajamkan mata dan menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Terkejut tentu. Melihat nyonya Lin menangis begitu histeris. Meski menyembunyikan diri dibalik dinding. Isakan nyonya Lin diam-diam membuat Dyana merasakan sedih. Merasa hatinya menyusut.
"Bisakah gantikan tempatku sebentar? Aku membutuhkan udara segar, aku akan kembali dengan cepat. Aku mohon, Okta."
Okta hanya berdeham. Menganggukkan kepala untuk mengiyakan yang diminta Dyana.
Lorong panjang yang masih terlihat sepi membuat Dyana semakin ingin berlari. Merasa ketakutan melihat beberapa panekin (patung orang) seperti memperhatikan. Menunjuk wajahnya dengan menyebutkan kata-kata. "Buka topengmu!" merasa semua patung itu menyudutkannya.
Dyana berlari dengan sepatu bertumit sembilan senti. Tubuhnya sedikit terguncang ketika menabrak ranjang pakaian yang besar. Kemudian berjalan kembali menyusuri lorong untuk menuju atap gedung. Dyana merasakan kepengapan yang mengelegak dadanya. Tangannya dingin seperti udara dikutub utara, wajah berkeringat meski diruangan yang memiliki suhu dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Shadow
RomanceNovel ini aku persembahkan untuk alm. Ibuku. Orang yang sangat percaya bahwa aku mampu menjadi seorang penulis. Orang yang memberikan uang saku lebih untuk membeli buku dan beberapa pensil. Yang sangat senang melihat aku bercerita dan menilai apa ya...
