33. RENCANA ALLAH

3.9K 196 16
                                    

Setiap episode kehidupan yang kau lalui, semuanya adalah rencana Allah. Kau hanya butuh keyakinan bahwa semua akan berakhir dengan baik

     Setelah acara sakral dilangsungkan, malamnya Rara menemani Rasyid di kamar rumah sakit. Dilihatnya pria yang tengah fokus dengan beberapa berkas yang harus ia tanda tangani, yang beberapa hari tertunda karena dirinya yang jatuh sakit.

     Rara membantu menata kembali berkas tersebut menjadi tumpukan yang rapi. Dilihatnya tangan Rasyid yang sudah kosong dengan berkas, ia langsung menariknya dan mengenggam erat tangan Rasyid, sehingga mengalirkan sebuah kehangatan yang tiada tara. Mata Rara menatap lekat mata sang suami yang kini tengah menatapnya juga dengan lembut.

     "Kenapa?"tanya Rasyid yang melihat keanehan Rara.

     Rara menarik senyum manis dan menggelengkan kepalanya. "Nggak papa, emang nggak boleh kalo aku pegang tangan kamu?" Goda Rara sambil mempererat genggaman tangan Rasyid.

     "Modus ya kamu" Rasyid menarik hidung mancung Rara sampai berwarna merah.

     Gadis berkerudung merah itu mengelus ujung hidungnya yang memerah akibat Rasyid menarik hidungnya. Ia mencubit lengan Rasyid pelan, kemudian tawa keluar diantara keduanya.

     Rara mengalihkan kembali pandangannya pada Rasyid yang sedang mengelus lengannya. Rasyid membalas tatapan Rara dengan penuh pertanyaan. Ia tidak menyangka Rara adalah orang yang manja dan penuh perhatian, nyatanya ia selalu menunggu Rasyid sampai ia tersadar dan sekarang ia geli melihat wajah Rara yang polos.

     "Kamu kenapa Ra?" Tanya Rasyid. Ia bingung dengan sikap Rara yang tiba-tiba diam.

     Ada helaan napas panjang yang keluar dari Rara, ia menundukkan kepalanya dan mulai merenggangkan genggamannya. "Maaf" lirih Rara nyaris tak terdengar.

     Rasyid mengangkat sebelas aliasnya bingung dengan perkataan Rara. "Maaf?" Menirukan gaya bicara Rara dengan nada bertanya. "Untuk apa?"

     "Aku benar-benar minta maaf Rasyid atas kecelakaan yang menimpa kamu, seharusnya aku tidak menelponmu saat sedang menyetir. Maaf" Rara semakin menundukkan kepalanya, malu melihat wajah Rasyid.

     Rasyid mengangkat dagu istrinya dan menatapnya lekat. "Untuk apa minta maaf, jika semua yang terjadi sudah direncanakan oleh Allah. Apa kita harus menyalahkan Allah untuk hal ini?" Tanya Rasyid dengan tatapan yang tidak lepas dari Rara.

     Gadis itu menggelengkan kepalanya. Matanya masih tidak berani menatap Rasyid, padahal wajahnya sudah terangkat.

     "Yang perlu kita lakukan adalah menjalaninya dengan ikhlas, walau itu baik ataupun buruk untuk kedepannya. Intinya kita harus percaya dengan keputusan Allah" jeda Rasyid. Tangan Rasyid kini berpindah ke pipi Rara dan mengusapnya lembut, tatapan pria berbaju rumah sakit itu tidak beralih sama sekali.

     "Apakah kamu tau Ra, kenapa Allah menguji kita?" Tanya Rasyid penuh dengan kelembutan dan ketegasan.

     Rara memberanikan diri menatap prianya. Matanya berbinar saat menangkap sosok Rasyid dengan wajah penuh kehangatan.

     Rara mengangguk.

     "Karena Allah tau kita kuat menghadapinya..dan kita terpilih menjadi orang sabar" ucap Rasyid menarik senyum di sudut bibirnya.

     Air mata Rara mengalir deras tanpa aba-aba setelah mendengar perkataan yang tulus dari suaminya. Rasyid mengusap lembut pipi Rara yang sudah basah dengan air mata menggunakan kedua tangannya.

     "Bukan kesulitanlah yang membuat kita takut. Tapi ketakutanlah yang membuat kita sulit. Karena itu jangan pernah menyerah untuk mencoba, jangan katakan pada Allah 'aku punya masalah besar', tapi katakanlah pada masalah 'aku punya Allah yang maha besar'. Ali bin Abi Thalib, right?" Kata Rasyid seraya menghapus sisa butiran air mata Rara yang masih setia membasahi pipi tembam istrinya.

Ra&Ra[SPIRITUAL-01]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang