Empty

902 55 55
                                        

Kau pergi meninggalkan senyum yang cerah.
Aku akan merindukanmu sepanjang hidupku.

*****

Aku memandangi langit malam yang kejam.
Penyesalan ini melukaiku. Apakah ini yang kau inginkan?

Hatiku yang dulu kau genggam, kini memiliki duri yang tertancap cukup dalam. Apakah itu jejak yang kau tinggalkan?

Perlahan-lahan sepertinya duri ini akan membunuhku.
Kesakitan ini membuatku semakin tidak dapat melupakanmu.

"Aku akan baik-baik saja, kau juga akan baik-baik saja"

Jika kau mengatakan itu kemudian pergi, kau pikir aku akan baik-baik saja?

Aku benci angin karena meniupkan namamu.
Aku benci bulan karena menampakanmu.

Temanku melihatmu kemarin. Dan tanpa alasan, aku marah ketika dia bilang kau baik-baik saja.

Bagaimana bisa kau baik-baik saja setelah kita berpisah?
Semudah itukah kau melupakanku?

Terkunci dalam kenangan lama kita, malam ini adalah malam ketika aku merindukanmu tanpa alasan yang jelas.

________________

Kembali teringat, saat dimana senyuman manismu itu, hanya kau berikan untukku. Aku merasa seperti orang yang paling bahagia di Dunia ini.

Bagaimana tidak? Lihat dirimu, tak jarang aku berpikir bahwa kau terlalu sempurna untuk bersamaku.

Rasanya, setiap kali aku menatap mata hitammu, aku tersesat semakin jauh dalam labirin cintamu. Semakin aku mencari jalan keluar, semakin jauh aku tersesat.

Tidak, ini bukan sihir, aku yakin ini perasaan indah yang orang sebut 'cinta'. Tak ada satupun bagian dirimu yang tak aku suka. Aku begitu menggilaimu. Aku harap kau tidak keberatan akan hal itu.

Oh hey, apa kau ingat? Malam dimana jemari kita saling bertautan, sambil membisikan kata cinta, kau menyandarkan kepalamu dibahu ku.

Malam itu bulan bersinar terang sekali. Aku rasa, bulan juga bisa merasakan kebahagian yang sedang aku rasakan.

Angin malam yang bertiup pelan, terus mengusik rerumputan hijau disekitar kita. Saking heningnya malam itu, aku bisa mendengar deru nafas mu.

Hhh, hanya mendengar deru nafas mu saja, aku sudah sangat sulit mengontrol debaran ini. Terserah saja kalian mau menganggapku gila, maniak, atau apapun itu. Yang perlu kalian tahu, gadis di sampingku ini, sudah terpaku, menancap dalam hatiku.

____________________

Kau berkata, kita akan bersama-sama tak peduli apapun yang terjadi.
Kau berkata, kita akan bersama-sama saat kita bahagia dan saat kita bersedih.

****

Aku mencarimu di bawah cahaya bulan yang menerangiku.
Aku mencarimu. Aku tak tahu dimana dirimu.
Malam ini aku masih tak mengerti tentang cinta.

Aku rindu saat pertama kali bertemu denganmu.
Semakin waktu berlalu, semakin kau mengenalku. Dan akhirnya hanya kekecewaan yang kau dapat.

Aku terlalu kasar saat itu.
Aku tak tahu kau akan benar-benar pergi.
Tanpa sadar, aku yang emosional, menyebabkan kita berpisah.

Aku ingin menjadi baik untukmu, tapi ini sulit. Ku tak bisa berubah.
Aku tahu kau masih mencintaiku.
Kau tahu bahwa tak akan ada yang bisa mengerti aku seperti dirimu.

Masih terngiang ditelingaku, suara tawamu dan juga obrolan tak penting saat telpon tengah malam.
Sekarang aku tak dapat mendengar semua itu lagi.

Aku mendengarkan sebuah lagu yang selalu kita dengar bersama-sama.
Lagu yang terdengar menggambarkan kerinduanku padamu.
Tak terasa air mataku menetes. Selain aku jahat, ternyata aku juga lelaki yang lemah.

________________

Bisa kah ku putar waktu? Bertemu denganmu memulai semuanya dari awal? Berjanji padamu, bahwa semua berubah? Memeluk mu dengan lembutnya saat kau terguncang?

Tak peduli jika harus mengorbankan semuanya. Aku harus bertemu denganmu. Semakin lama, aku semakin menyesal, akhirnya tersiksa bersama sakit yang ku buat sendiri.

Aku berjalan di taman kota yang gemerlap. Semua terlihat bahagia saat ini. Bohong jika aku tak memikirkanmu yang seperti udara.

Dimana kau saat ini? Tidak kah kau juga merindukanku?

Jikalau kita berjumpa lagi nanti, maukah kau kembali tersenyum seperti dulu? Jikalau kita dekat lagi nanti, akan kah perasaan yang dulu pernah singgah, kembali tumbuh dalam hatimu?

Setelah waktu berlalu, faktanya semua begitu berharga. Kerusakan apa yang terjadi pada pikiranku, hingga memperlakukanmu dengan kasar?

Terlalu egois, aku hanya memikirkan kebahagianku. Melupakan seorang pendamping, yang paling mengerti jalan pikiranku.

Aku tahu, aku terlalu bodoh. Salahkan aku, bencilah aku. Tak apa, asal aku bisa menemui lagi.

Apakah kita harus tetap begini? Tidak bisa bertemu satu sama lain diakhir? Mau kah kau bicara lagi padaku? Katakan bahwa kau mencintai ku? Aku tahu itu pemikiran yang bodoh, tapi.. Tak ada salahnya kan, jika berharap?

****

Gesekan ranting pohon serta dedaunan yang diterpa angin terdengar seperti melodi yang indah, tetapi sangat menyakitkan di telingaku. Terdengar seperti sebuah jeritan hati setelah aku kehilanganmu.

Melody Nurramdhani. Namamu selalu memenuhi kepalaku. Tanpamu aku pengecut, semua orang memandangiku dengan kasihan.

Berjalan sendiri dijalan ini, aku merasa kosong. Hatiku kosong. Kekosongan seperti sebelum bertemu dengamu.

Kepalaku sakit dan aku merasa kebingungan. Aku takut jika diriku akan seperti dulu dan aku takut melihat diriku yang semakin lemah.

Tanpamu udara di sekitarku menjadi berat. Aku mohon. Malam ini saja. Bertemulah denganku. Untuk yang terakhir kali pun tak apa.

Dyo Maulana Djuhandar.


..:: FIN ::..


up? FF baru ini, akhirnya MeLids, MeLids-an

Bukan, bukan karya Jek loh,

Ini hasil kolaboresion bareng dps888

Adeknya Jek tuh :v (jay,mainngakuinadeklo)

Dia yang ngasih ide pertama, ntabz lah pokoknya!

Gimana-gimana? Semoga feelnya dapet.

Gak berharap banyak, cuma Vote Comment dan Saran saja,

Gracias! (:

EmptyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang