"Raisa! Bangun.Cepet mandi! Kamu masih mau sekolah apa engga sih?" teriak Mama dari luar kamar yang berhasil merusak mimpi indah cewe yang bisa dibilang kebo ini. Kebiasaan Mama ya gini, teriak-teriak biar dua anak remajanya itu bangun.
"Aduh maa! Suruh kak Geri duluan aja deh yang mandi, " seru Raisa yang kembali meringkuk dibalik selimut yang membuatnya nyaman dan enggan untuk pergi mandi dan bersentuhan dengan air yang dingin di pagi hari.
"Aduh! Kalian berdua ini! Cepat mandi atau duit jajan kalian berdua mama kurangin!"
Mendengar ucapan mama yang akan memotong duit jajannya, Raisa segera berlari mengambil handuk dan membuka pintu kamarnya. Begitu juga dengan Geri yang kebetulan kamarnya didepan kamar adiknya itu segera berlari keluar dengan muka bantalnya. Mama yang sedari tadi berdiri ditengah-tengah lorong kamar langsung menjewer telinga mereka berdua
"Aduh maa kok Ica di jewer sih, sakit tau ma!" seru Raisa yang sudah terbiasa memanggil dirinya dengan Ica. Ia berteriak kesakitan begitu juga dengan Geri yang sifatnya sama dengan adiknya itu.
"Kalian berdua ya, sama aja. Giliran soal duit jajan langsung melek matanya, " omel Mama yang masih betah menjewer kedua anaknya itu, agar mereka jera untuk selalu bangun telat dipagi hari, yang membuatnya harus berteriak dan mengancam mereka.
"Kak Geri nih ma. Kan dia mandinya lama tuh, ngalahin cewe. Harusnya dia yang mandi duluan, " ucap Raisa sambil menunjuk Geri
"Eh enak aja lo. Kok lo nyalahin gue. Jelas-jelas lo tuh yang bangunnya lama. Kan gara-gara lo gue telat kemaren, " balas Geri mencoba membela dirinya dari tuduhan adiknya itu. Raisa selalu menyalahkan Geri di dalam hal apapun.
"Kalian ini yaa! Malah saling nyalah-nyalahin. Udah cepet mandi sana! Udah jam berapa ini, " seru mama sambil mencubit pinggang kami berdua.
"Iya maa Ica mandi!" teriak Raisa segera berlari ke dalam kamar mandinya.
"Iya ma Geri juga mandi kok!" teriak bang geri juga.
Raisa segera turun setelah siap memakai seragam SMA nya dengan membawa peralatan MOSnya yang sudah 2 hari ia kenakan, dan berhasil membuat dirinya tampak seperti orang gila baginya, namun kenyataannya dirinya tetap telihat manis. Ia segera berlari menuju meja makan dan segera menyantap roti bakar dan susu coklat hangat kesukaannya secara terburu-buru.
"Ica! Kok kamu makannya gitu. Cewe gak boleh makan kayak gitu!" Omel mama, yang kaget saat melihat anak bungsunya itu makan dengan tergesa-gesa .
"Tuh kan ma. Mama bisa ngeliat sendiri siapa selama ini yang paling lelet, " kadu Geri yang ternyata sedari tadi sudah siap sarapan. Kali ini ia bisa membuktikan ke Mamanya bahwa ia tidak salah soal adiknya yang super lelet itu.
"Is, apaan si bang. Lo kayak gatau cewe aja gimana rempongnya" balas Raisa mengelak agar ia tidak kena omel Mama lagi. Telinganya sudah mulai panas dengan omelan Mama.
"Yadeh. Cepetan! Ini udah jam berapa. Malah upacara lagi hari ini, " teriak Geri yang sudah duduk di motor Harley kesayangan papa yang dititip ke Geri setelah Papa wafat. Papa wafat saat Raisa duduk di kelas 1 SMP. Papa terkena tembakan dari pencuri yang berusaha ia tangkap saat ia sedang bertugas sebagai Polisi. Papa tidak tertolong karena pelurunya pas mengenai jantungnya. Semenjak itu cuma Mama sendiri yang merawat kita berdua yang dibantu sama Nenek kalau sedang berada di Bandung
. ...................
"Tuh kan dek, kita telat lagi! Malah udah mulai upacara lagi, "
"Ya maaf kak, kan gue juga baru murid baru disini. Gue belum kebiasa, "
"Yaudah deh, sini tas lo, " Geri sudah tau apa yang harus ia lakukan saat dalam keadaan telat seperti ini. Ia juga pernah telat sebelumnya. Adit lah yang mengajari nya untuk memanjat pagar samping sekolah. Meskipun Adit anggota OSIS. Ia mahir dalam hal seperti ini.
"Nih, " Raisa mulai bingung apa yang akan Geri lakukan. Ia tidak mengira bahwa hari ini mereka akan telat lagi. Sudah cukup kemarin mereka kena hukuman. Namun, kemarin Geri tidak memanjat pagar seperti saat ini. Kemarin mereka masuk melalui gerbang utama. Itulah yang membuat Raisa heran.
"Sekarang sini tangan lo. Cepet! Ntar ada guru lagi, "Raisa menuruti perkataan Geri. Ia segera meraih tangan Geri yang kini sudah berdiri di atas tembok yang cukup tinggi itu. Dan untung saja ia bisa memanjatnya. Meskipun agak repot karena rok SMA yang saat ini ia kenakan.
"Ayo lompat, " teriak Geri yang suudah berada dibawah sambil membentangkan tangannya yang siap menangkap adiknya itu.
Buk! Raisa berhasil mendarat diatas badan Geri.
"Aduh ca! Gila sakit banget tangan gue. Jangan-jangan patah tangan gue lo buat, " ucap Geri sambil meringis kesakitan
"Kak.." Raisa terdiam saat melihat seseorang di balik badan Geri
"Liat nih! Memar tangan gue lo buat, "
"Kak.."
"Apasih ca?"
"It.. Ittt.. Ituu, " tunjuk Raisa ketakutan. Geri yang heran ngeliat adiknya ketakutan pun menoleh ke belakang. Dan kaget saat melihat Pak Wono yang sudah melotot ke arah mereka berdua. Pak Wono terkenal sebagai guru yang paling tua dan paling sangar di SMA Krisna Bandung. Kalau lo ketemu sama dia terus senyum, senyum lo bakal dibalas dengan sinisan, kalo lo ngomong 1 kata di pelajaran dia, lo gabakal keluar dari kelas idup-idup. Pokoknya dia sangar banget deh!
"Mampus! Dek lari!!" teriak Geri sambil menarik tangan Raisa,
"Hoy!! Khalian mau khemana! Jhangan lhari khalian!" teriak pak Wono dengan logat bicaranya yang unik
"Anjir! Tua tua cepet juga larinya gila, " ucap Geri yang masih menarik tangan Raisa agar adiknya itu bisa berlari lebih cepat.
"Kak.. Hosh.. Hosh.. Kak Geri.." ucap Raisa yang tiba-tiba melambat dengan mukanya yang sudah pucat. Nafasnya tidak teratur. Bajunya sudah basah dengan keringat. Matanya berkedip secara perlahan. Seakan akan ia ingin pingsan
"Raisa! Asma lo kambuh?! Inhaler lo mana?" ucap Geri panik. Raisa sudah mengidap asma sejak ia kecil. Walau Geri selalu dibuat kesal oleh adiknya itu, namun ia selalu panik jika asma Raisa kambuh. Ia sudah berjanji kepada ayahnya untuk selalu menjaga Raisa.
"Gue.. Hosh.. Hosh. .. Gabawa, "
"Duh dek.. Sini lo naik ke punggung gue, "
"Hoy! Bherhenti khalian, " teriak pak Wono yang tiba-tiba datang dan dengan cepat berlari ke arah mereka
"Iya pak. Saya nyerah. Tapi pak adek saya jangan dihukum ya pak, bawa dia ke UKS pak, tolong. Asma nya kambuh, "
"Yasudhah! Cephat khamu angkhat dhia khe u-kha-es!" Bentak pak Wono dengan muka sangarnya yang kini memerah entah karena kelelahan berlari atau karena muak dengan perlakuan Geri dan Raisa yang sudah dicap nakal meski Raisa masih anak baru.
-------------
First!! Hope you guys like it ya☺️
Media : Andira Azzahra as Raisa
YOU ARE READING
YOU?
Teen FictionCopyright © 2013 by riyandarevanolin. Dilarang memperbanyak, menjiplak, menyontek ide cerita, menyalahgunakan, dan mempublikasikan cerita ini dalam website apapun atau bahkan dalam bentuk buku. Jika menemukan cerita yang persis dengan cerita ini, ha...
