Part 1 Tragedy

44 4 3
                                        

"Hoaaaaaaaaam."
Mata bulat Tifa perlahan-lahan terpejam. Kepalanya mulai terantuk-antuk, menandakan bahwa dirinya-dengan perlahan- jatuh tertidur.

Dalam hitungan detik, Tifa sudah berada di sebuah taman yang indah. Tifa terpana melihat keindahan taman itu. Taman itu mirip seperti taman-taman yang ada di negeri dongeng. Rumputnya hijau. Banyak bunga beraneka warna tumbuh di sekitar taman itu. Kupu-kupu berwarna-warni pun turut serta mempercantik taman itu.

Di tengah-tengah taman, ada seekor kuda putih yang sedang meminum air segar di danau yang berada di tengah-tengah taman tersebut. Tifa menghampiri kuda putih yang tampak sangat cantik di matanya itu. Ia mengelus kuda putih itu. Rambutnya, badannya, terasa sangat halus dan terawat. Saat Tifa tengah asik menganggumi kuda putih itu, sebuah benda keras menghantam kepalanya. Tifa memejamkan matanya lalu mengaduh. Kepalanya terasa sangat sakit.

Saat Tiva membuka matanya, Bu Avo-guru Sejarah di sekolahnya-sudah berdiri di depannya sambil berkacak pinggang. Sedang apa dia di sini?
"Enak banget ya neng tidurnya," sindir Bu Avo. Terdengar kekehan dari sekitar Tifa.
Tifa yang masih setengah sadar, memandang sekeliling. Terlihat teman-teman sekelasnya yang sedang memandangnya geli. Kenapa dia berada di kelas? Bukannya tadi dia sedang berada di taman? Tifa mengerutkan keningnya bingung. Apa sih yang sebenarnya terjadi?
"Heh!" Sentak bu Avo membuat Tifa kaget. "Malah bengong lagi! Sana kamu keluar cuci muka dan kalau sudah sadar sepenuhnya, baru kembali lagi ke sini!"
Walaupun masih bingung, Tifa bangkit berdiri dan sesuatu jatuh dari atas kepalanya. Tifa mengamati benda itu lalu mengambilnya. Penghapus papan tulis. Kenapa ada penghapus papan tulis yang terjatuh dari atas kepalanya?

"OH!" Mata bulat Tifa membesar, teringat sesuatu. Rupanya tadi Tifa jatuh tertidur di tengah pelajaran Sejarah. Pelajaran Sejarah tadi memang sangat membosankan. Belum lagi semalam dia tidur kemalaman karena harus mengerjakan beberapa tugas sekolah yang selalu ia kerjakan dengan sistem SKS alias Sistem Kebut Semalam. Alhasil ia pun sangat lelah dan mengantuk. Taman yang tadi dilihatnya itu adalah mimpi. Saat Tifa jatuh tertidur, Bu Avo melemparnya dengan penghapus papan tulis dan mengenai puncak kepalanya. Pantas saja kepalanya berdenyut menyakitkan.

Tifa lalu nyengir ke arah Bu Avo yang sedang menatapnya galak. Kaki Bu Avo menghentak-hentak, seperti tidak sabar menunggu Tifa keluar kelas karena sudah mengganggu proses belajar mengajarnya.
Dengan segera, Tifa mengembalikan penghapus papan tulis ke tangan Bu Avo, sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, Tifa langsung berlari ke luar kelas.

Setelah sampai di luar kelas, Tifa menghembuskan nafasnya lega. Tifa mengetuk-ngetuk kepalanya merasa sangat bodoh.
"Lo bego banget sih Tif. Bisa ketiduran sampe amnesia gitu lo lagi di kelas."
Tiba-tiba seseorang memegang tangannya, menghentikan kegiatan Tifa memukul-mukul kepalanya sendiri.
Sesosok lelaki berkulit putih, bersih tanpa jerawat, tersenyum ramah kepadanya, membuat matanya yang sipit seakan terpejam.
"Lo bakalan tambah bego kalo misalnya lo masih ngetokin kepala lo kayak gitu," ujar lelaki itu membuat Tifa nyengir garing. Rupanya lelaki itu memperhatikannya. Tifa jadi malu sendiri.
"Eh iya, gue nggak tau kalo ngetokin kepala bisa bikin tambah bego," ujar Tifa sambil melepaskan tangannya dari lelaki yang tak ia kenali sebelumnya itu.
Lelaki itu tertawa. "Gue bercanda lagi. By the way, lo lucu banget sih."
Dia pun segera berlalu masih sambil tersenyum. Tifa mengernyitkan dahinya, bingung. Tapi setelah itu, Tifa menggedikkan bahunya, lalu segera ke toilet untuk membasuh mukanya sebelum terkena lemparan penghapus papan tulis karena Bu Avo masih menatapnya galak dari dalam kelas.

^O^
"Tifaaaaaaaaaa!"
Tifa membalikkan badannya. Keru memanggilnya. Teman sekelas sekaligus ketua kelasnya di kelas sepuluh IPS satu.

Sambil terengah-engah, ia menyerahkan kertas yang seperti formulir. Tifa memandang formulir itu bingung. Untuk apa Keru memberikan ini padanya? Tifa sedang tidak ingin mendaftar apapun saat ini.

"Besok dikumpulin," perintah Keru.
"Ini apaan?" tanya Tifa bingung.
"Formulir," jawab Keru datar. Tifa balas memandang Keru sama datarnya.
"Gue bingung bukan bego," kata Tifa sebal. "Ini formulir apaan?"
"Oke. Lo emang bego," ujar Keru kejam membuat Tifa memukul bahu Keru sekeras yang ia bisa. Keru mengelus bahunya yang terasa sakit sambil meringis kesakitan. "Lo ngga inget kalo setiap murid kelas sepuluh di sekolah ini harus ikut Introduction Camp?"
"Ohhhhhh gitu," Tifa mulai paham. "Jadi ini formulir pendaftarannya?"
"Iyap. Dan lo harus ngumpulin ini besok," kata Keru membuat Tifa mengangguk-angguk mengerti.
"Oke deh!" Seru Tifa sambil mengacungkan jempolnya. "Kalo gitu gue balik dulu ya."

Tifa membalikkan badannya, lalu berjalan ke arah gerbang, bermaksud untuk pulang.
"Tif!" Panggil Keru lagi membuat Tifa menoleh. "Formulirnya cuma satu! Jangan sampe kotor, jangan sampe ketinggalan!"
Tifa mengacungkan jempolnya. Pertanda mengerti.

Sekarang Tifa sedang berada di halte bis yang penuh sesak khas anak pulang sekolah. Sambil menunggu bis 605, bis yang biasa ditumpanginya saat pulang sekolah, ia pun membaca formulir yang baru saja diberikan Keru tadi.

Terdapat tulisan besar-besar 'Introduction Camp' di kop formulir tersebut. Introduction Camp adalah acara kamping yang diadakan untuk anak kelas sepuluh di SMA Citra Harapan. Ini adalah acara yang wajib diikuti seluruh siswa kelas sepuluh SMA Citra Harapan. Kenapa wajib? Karena menurut Pak Pardi-kepala sekolah SMA Citra Harapan, ini adalah sarana untuk saling mengakrabkan diri.

Introduction Camp juga bukan acara sembarangan. Acara ini bisa membuat salah satu murid yang tidak ikut mendapat potongan nilai sebesar tiga puluh persen per mata pelajaran. Dashyat kan? Diskon harga mungkin terdengar menyenangkan, tapi kalau diskon nilai? Tifa yang nilainya termasuk kategori pas-pasan tidak mau hal ini terjadi pada dirinya.

Formulir Introduction Camp juga dibuat secara pas-pasan. Menurut kabar, formulir pendaftaran ini digunakan untuk menilai seberapa besar tanggung jawab siswa terhadap hal-hal kecil. Selain itu, Pak Pardi adalah salah satu duta lingkungan hidup. Ia tak mau membuang-buang kertas. Karena satu lembar kertas dibuat dari sebatang pohon. Pak Pardi ingin mengabdikan dirinya sebagai kepala sekolah yang peduli lingkungan. Atau dengan kata lain, Pak Pardi mau pamer ke semua siswa-siswi SMA Citra Harapan kalo dirinya adalah duta lingkungan hidup lewat cara ini.

Tak berapa lama, bis yang ditunggu Tifa datang juga. Tifa hendak memasukkan kertas itu ke dalam tas nya. Saat hendak memasukkan kertas itu, tiba-tiba sesosok bapak-bapak bertubuh besar menabraknya sehingga kertas itu jatuh ke tanah. Dengan panik, Tifa mencoba meraih kertas itu. Tapi kerumunan org di belakangnya yang datang berdesak-desakan membuatnya kesulitan, sehingga tubuh Tifa yang mungil terdorong kesana kemari.

Tifa pun akhirnya terjatuh karena tidak kuat menahan bobot tubuhnya yang tidak seberapa. Demi bisa mendapatkan kertas itu, ia pun akhirnya merangkak ke arah kertas itu. Tapi kertas itu bergerak semakin jauh karena beberapa orang dengan tidak sadar menendang kertas itu.

Tifa semakin panik. Ia berusaha untuk mengambil kertas formulir itu sekeras yang ia bisa. Tifa hampir berhasil menggapainya, ketika angin meniupnya.
"Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!" Teriak Tifa histeris.
Angin pun akhirnya menerbangkan kertas itu ke tengah jalanan. Tepat saat kertas itu mendarat, bis 605 berjalan dan langsung melindas kertas itu.

Tifa menghampiri kertas itu dengan lemas, tidak sadar bahwa dia sedang berada di jalan yang penuh lalu lalang kendaraan. Tapi Tifa sudah tidak perduli lagi.

Kertas itu sudah sangat mengenaskan. Jejak kaki dan jejak ban bis mengotori kertas itu. Selain itu kertas itu sudah sangat lecek dan robek di beberapa bagian.

Tifa berlutut. Dengan tangan gemetar, ia meraih kertas itu. Tifa merasakan matanya berkaca-kaca. Hancur sudah nilainya. Hancur sudah tahun-tahun pertamanya di sekolah. Hancur sudah masa depannya. Gara-gara sebuah kertas. Dan bagaimana cara dia mengumpulkan formulir itu besok? Tifa merasakan kepalanya pusing.
^O^

Tbc....

***
Ini pertama kalinya nulis cerita di wattpad. Aku udh sering sih nulis cerpen, cerbung dan semacamnya, tp itu dulu. Sekarang udh agak kaku hehe mohon kritik dan sarannya. Smg setelah nulis lagi selanjutnya, tangannya udh ga kaku lg. Ditunggu part 2 nya^^

Cinta Segi RibetWhere stories live. Discover now