First

44 5 5
                                        

Adara Fredella POV

Kulihat hamparan rumput ini dengan tatapan kosong. Meski sangat banyak bunga dandelion indah yang bermekaran, kuhiraukan dan mencoba dengan sungguh-sungguh untuk mengabaikannya. Aku terus berjalan, berjalan, dan berjalan hingga aku sampai di tempat yang seharusnya telah kulakukan hal yang akan kulakukan saat ini. Hingga pada akhirnya aku sampai di ujung tebing yang terjal ini. Kulihat ke bawah, terdapat sangat banyak bebatuan runcing dibawah sana. Aku tersenyum dan menangis. Aku sampai di sini. Tapi aku takut melakukannya. Kulangkahkan kaki kananku ke udara, tapi aku masih tak ingin membuat bobot tubuhku terkumpul di kaki kananku yang sedang menginjak angin ini. Tangisku semakin keras.

Kurasakan angin yang bertiup kencang dari hadapanku. Seakan mereka meghapus air mata dari pipiku. Hingga pada akhirnya aku terdorong-terjatuh dan terbaring di rerumputan. Kepalaku sedikit sakit karena pendaratan yang mendadak ini. Aku terisak. Bahkan angin mengasihaniku. Betapa menyedihkannya hidupku ini. Padahal sudah sering kulakukan hal seperti ini, dan hasilnya tetap sama. Aku mendarat di tanah kerena hembusan angin yang kencang. Entah karena tubuhku yang terlalu ringan atau memang Tuhan sedang memohon agar aku tidak melaksanakan kegiatan bunuh diri ini.

Aku menatap langit dengan sendu. Kutahan tangisku dalam-dalam. Tapi Tuhan apa kau tau? Apa ada orang yang pernah merasakan kehidupan terburuk yang tak sadar pernah kau berikan? Seperti penyiksaan yang tak jelas alasannya sejak masa kecilmu, penghianatan sahabat yang paling kau sayang, dipermalukan di hadapan semua orang dan ditatap mencemooh, direndahkan dan bahkan hampir saja dilecehkan? Jawabannya ada, dan itulah diriku. Aku merasa sangat hampa dan terus-terusan berfikiran negative akibat semua perlakuan mereka. Apa aku sedih? Jawabanku adalah aku tidak mengetahuinya. Aku bahkan lelah dengan semua perasaanku ini. Hingga pada akhirnya aku selalu menyimpan semua emosiku agar tidak tampak. Kuharap aku menjadi transparan di dunia ini. Dadaku terasa sangat remuk jika memikirkan tentang kehidupanku secara terus-menerus.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan kemudian mengeluarkannya dengan berat.

Sungguh. Ini juga sebenarnya adalah keputusan yang paling sulit buatku. Tapi entah karena dorongan apa yang dapat membuatku berfikir untuk mengakhiri hidupku. Aku takut mati. Tapi aku juga takut untuk kembali ke kenyataanku yang nyatanya memang terasa sangat-sangat menyakitkan. Kadang memang aku hanya pasrah dan mengikuti alur. Tapi semakin aku mengikuti alur, aku malah terombang -ambing di bawah penyiksaan yang sangat mengerikan. Aku tahu aku lemah dan dengan mudahnya dapat dipermainkan oleh mereka. Tapi bisakah mereka melepasku hanya untuk sebentar saja? Kadang aku muak dengan mereka.

Pikiranku sungguh membuatku pusing. Banyak bagian di dalam otakku yang berdebat dan mereka selalu membuat kepalaku penuh dengan kata-kata yang tak masuk akal bagiku. Bahkan aku sendiri pun kadang bingung dengan apa yang kupikirkan. Ugh sekarang kepalaku mulai pusing lagi. Lebih baik kuputuskan sekarang juga. Aku tidak ingin menyesal lagi. Aku tidak ingin menyesal lagi pada saat mereka memperlakukanku seperti itu. Aku ingin pulang ke tempatku yang seharusnya. Mungkin sudah saatnya aku pulang ke sisi Tuhan. Meski aku tau jika bunuh diri adalah perbuatan dosa. Tapi aku tidak sanggup berada di dunia yang telah kau ciptakanmu-Tuhan. Mohon ampun pada hambamu dan aku mohon untuk menerimaku di sisimu.

Aku bangkit dan kembali pada posisi awalku tapi kali ini aku tidak melangkahkan kakiku lagi. Itu perbuatan konyol mengingat sudah beberapa kali ini aku terhembus angin. Kali ini aku berdiri tegap dengan sebatang bunga dandelion yang indah di genggamanku. Mungkin pernyataan ini agak konyol jika kalian dengar, tapi menurutku dandelion adalah bunga yang melambangkan harapan.

Aku menutup mataku lalu menjatuhkan diriku ke depan dan bergumam dengan sangat pelan"Aku ingin ada orang yang tulus mencintaiku". Kurasa ini adalah akhirnya.

"JANGAN!" Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak dari belakangku. Tepat pada saat aku akan terjatuh. Tapi entah mengapa aku mendapatkan dorongan agar aku berbalik dan melihat siapa yang berteriak. Ini keajaiban. Aku tak pernah merasa sesenang ini saat menyadari ternyata ada seseorang yang mengkhawatirkanku. Ah.. aku sangat senang. Tuhan terimakasih karena pada saat terakhirku engkau memberikanku rasa senang untuk diingat. Tapi aku telah memantapkan keputusanku. Itu bukanlah sebuah harapan yang kuat untukku tetap hidup.

Rather Die Than EmptyStories to obsess over. Discover now