PROLOGUE
KEDAI itu sekilas tampak klasik. Dengan kayu dan warna cokelat yang mendominasi. Kesan high class tetap melekat pada kedai kopi itu.
Dinding - dindingnya dicat dengan warna cokelat tua dan putih tulang, lantainya pure menggunakan pualam. Pilar - pilar kokoh di sudut - sudut kedai pahat dengan teliti. Tepat di sudut kedai, seorang wanita dalam setelan kemeja putih duduk. Di hadapannya, ada secangkir espresso dengan asap yang sedikit mengepul.
Meja itu cukup terpencil dari meja - meja lainnya. View yang diperoleh juga lebih menarik dari yang lainnya. Dari kaca yang membentang lebar, hamparan kebun bunga mawar terlihat menawan. Apalagi saat hujan. Saat -saat di mana tanah terlihat becek, tanaman terlihat segar.
Wanita berkemeja putih itu seorang psikiater. Dia pecinta keheningan, seperti namanya, Hening. Tempatnya bekerja tak jauh dari kedai kopi itu, sekitar dua kilometer dari sini, rumah sakit swasta itu terlihat.
Seorang waiter menghampirinya dalam balutan pakaian hitam - putihnya begitu Hening memanggilnya. Waiter itu tersenyum sopan, memperlihatkan buku menu pada Hening.
"Red Velvet lagi, nona?" Tanya waiter itu. Hening menggeleng pasti.
"Kurasa, kali ini aku akan memesan Blue Velvet." Katanya. Waiter itu diam.
"Aku sedang mencoba melupakan. Pindah haluan dari dirinya ke yang lain. Seperti kini, dari Red Velvet ke Blue Velvet. Meski kurasa itu sulit." Terangnya. Waiter itu diam. Mematung. Kemudian kembali tersenyum ramah.
"Selamat berjuang kalau begitu." Waiter itu melenggang. Meninggalkan Hening yang diam.
Diam - diam wanita itu tersenyum. Bergumam, "Semoga saja."
-&-
YOU ARE READING
RED VELVET
RomanceDia pergi. Untuk selamanya. Salahkan aku, kenapa terjebak dalam cinta yang rumit, terlebih dengan pasienku sendiri.
