I do, regret..

51 9 2
                                        

Biar kuberitahu dirimu sebuah cerita tentang diriku.

Tentang aku, temanku, dan dia.

Dia adalah seorang wanita yang kucintai, dia adalah wanita yang membuat cerita ini terjadi. Tapi aku tidak bisa seenaknya menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi diantara kami, karena pada dasarnya cerita ini terjadi sepenuhnya karena ulahku.

Ya, cerita ini tentang aku, seorang lelaki bodoh yang dengan bangganya mengorbankan perasaan nya dan bertingkah menjadi seorang pahlawan demi temannya agar temannya bisa bersama dengan wanita yang dia cintai.

Tapi satu yang luput dari pikiran ku saat itu, aku lupa wanita yang kukorbankan itu pun memiliki hati, dia memiliki perasaan, dan perasaannya adalah kepadaku. Aku sengaja mengabaikan perasaannya karena keegoisanku kepada diriku sendiri.

Cerita ini dimulai saat delapan tahun yang lalu, saat itu hubungan ku dan wanita itu berakhir karena kesengajaan yang kulakukan, aku sengaja menjadi orang lain, menjadi lelaki yang menyebalkan, pembohong, pemarah, dan yang lebih parah, aku terang-terangan berkata bosan kepadanya.

Semua itu semata-mata hanya karena aku terganggu atas perhatiannya yang berlebihan, dia terlalu possessive dan over-protective terhadapku. Aku benar-benar terganggu, sungguh dia tidak lebih dari hanya wanita yang merepotkan dan membosankan.

Lalu, setelah hubungan kami berakhir, tiba-tiba aku mulai merindukannya, aku mulai kesepian tanpanya, dan yang penting aku sadar aku salah karena telah menyia-nyiakan wanita sepertinya.

Aku ingin kembali padanya.

Tapi aku bingung.

Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya, aku melihat dia bersama temannya, dan yang kini kutahu adalah dia berubah, dia tidak lagi menjadi wanita pendiam, dia menjadi orang yang lebih terbuka dan memiliki banyak teman, tentu saja dia memiliki teman laki-laki.

Aku cemburu, sungguh aku tidak suka melihatnya terlalu berteman dengan orang lain, aku tidak suka dia dekat dengan orang lain.

Hingga tiba-tiba dia mengirimkan sebuah pesan kepadaku, mengatakan bahwa dia masih menyayangiku, tapi aku yang terlalu egois malah menganggap itu sebagai angin lalu. Aku ingin dia merasakan sakit seperti saat aku cemburu melihatnya dengan lelaki lain.

Dan setiap beberapa hari setelah itu, dia jadi lebih sering mengirimkan pesan kepadaku, dia sangat terbuka dengan perasaannya.

Kuakui dia jauh lebih berani daripada diriku, sebagai wanita dia berani mengungkapkan perasaannya padaku. Tapi aku tidak pernah puas hingga membuatnya menunggu.

Setelah hampir dua tahun lamanya, dan dia akhirnya dekat dengan sahabatku, sahabatku ini malah jatuh cinta dengannya.

Ya, dia jatuh cinta pada wanita yang kucintai, sehingga kisah cinta segitiga itupun dimulai.

Wanita itu menyadari apa yang terjadi dan lebih sering memberikan sinyal bahwa dia masih mencintai diriku. Dia jadi lebih sering mengirimkan pesan kepada ku.

Aku senang akan hal itu, tapi aku sadar diri karena temanku juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Tapi wanita itu tetap bersikeras untuk memperbaiki hubungan kami.

Aku sangat tidak nyaman terhadap sahabat ku akan sikap terbuka wanita itu, kupikir, jika selama hampir dua tahun ini dia masih mencintai, berarti dia memang benar-benar mencintaiku, hal itulah yang membuatku berani bermain-main dengan perasaannya.

Aku mulai terang-terangan mendekatkan dia dengan temanku, ya, aku menjodohkan mereka. Kupikir itulah jalan terbaik, sahabatku benar-benar mencintai dan berharap banyak pada wanita ini. Lebih baik aku mengalah saja karena wanita ini sudah terlalu sering kusakiti dan aku tidak tega membiarkannya lebih lama lagi.

I Do, Regret.. Where stories live. Discover now