Problem

57 8 7
                                        

Nama ku Neta Adiyanti Wijaya, aku anak Adi Wijaya dan Natalianti. Ibu ku sudah meningal satu tahun lalu pada saat umurku 16 tahun. Ibu ku meninggal karena serangan jantung saat mengetahui ayah ku selingkuh di belakangnya.

Aku menatap nanar jalan raya melalui balkon kamar ku. Begitu banyak orang yang berlalulalang tapi kenapa aku sendirian disini.

******

Ku mulai hari ku seperti biasa, menjadi gadis nakal, awut awutan, hobi membolos dan merokok.

Merokok adalah salah satu hobi ku. Mungkin di saat aku merokok aku bisa melepaskan beban ku bersama asap rokok yang ku hembuskan.

Taman belakang sekolah adalah tempat favorit ku jika sedang membolos. Jarang ada yang datang kesini karena taman ini sudah tidak terawat lagi. Hanya ada bangku tua yang sudah usang dan pohon rindang untuk tempat berteduh dari panas mata hari.

Ku hembuskan asap rokok memandangi langit biru hari ini begitu cerah namun berbeda jauh dengan hidup ku yang suram.

Ddrrtt,,,
Ddrrtt,,,
Ddrrtt,,,

kulirik ponselku yang menampilkan nama seorang yang paling aku hindari setelah kematian ibu ku  ya dia adalah ayah ku. ku geser tombol hijau untuk menjawab telfon ku.

"Halo" sapa ayah ku disebrang sana
"Hmm halo yah, ada apa tumben nelfon. Masih inget toh punya anak perempuan disini?" kata ku datar
"Kamu apa kabar sayang, ayah kagen sama kamu" terdengar ada nada ketulusan pada setiap kata yang ayah ucapkan.
"Penting buat ayah tau kabar aku!" ujar ku dan mematikan sambungan telfon dengan sedikit rasa kesal di hati ku.

Aku merasa sesak dan butuh pelampiasan untuk menyalurkan kemarahan ku. Kalian jangan heran kenapa aku seperti ini karna kehidupan ku sudah keras jadi aku sudah terbiasa. Aku melangkahkan kaki ku menuju kelas.

Ternyata disana ada yang sedang menceritakan tentang keluarga ku yang hancur berantakan. Tanpa digosipin juga semua orang udah tau kalo aku anak Broken home.

Dia adalah Laras sahabat ku dari smp. Kami bermusuhan karna Laras salah paham karena pria yang ia suka, suka kepada ku dan sejak itu kami bermusuhan tanpa tau apa masalah yang sesungguhnya.

Sekarang dia berada dalam masalah besar karena suadah membuat gejolak itu bakit lagi dan membutuh kan pelampiasan. Meskipun dia dulu adalah teman ku tapi aku tidak peduli lagi jika ini menyangkut tentang keluarga ku. Meski aku sedikit benci dengan ayah karna masalah perselingkuhannya tapi aku masih punya tanggung jawab sebagai anak kepada orang tuanya.

Kemarahan yang sudah dipuncak dan tadak bisa ku tahan lagi, ku tarik rambutnya hingga ia terset dan jatuh kelantai. Ia bankit dan membalas perlakuan ku dengan memukul tepat pada hidung ku hingga mengeluarkan cairan merah berbau amis.

Ku seka cairan itu dan tersenyum sinis pada Laras. Kulayang kan bogem mentah ku tepat pada perut Laras hingga ia limbung dan jatuh kelantai. Ku injak tangannya yang dapat aku pastikan itu, tulangnya remuk karna aku. Lalu seraya pergi meninggalkan ia yang lemah tak berdaya.

Teman teman ku bayak yang hanya menonton tanpa ada yang mau melerai pertarungan kami tadi.

Melihat Laras yang lemas tak berdaya melalui ekor mata ku. aku memutuskan mengambil tas ku lalu melangkah menuju parkiran.

Menyalakan mesin mobil dan melajukan menuju jalan raya. Jangan heran kenapa aku bisa keluar masuk sekolah ini sesuka hati ku. Karena sekolah ini milik ibu ku yang sekarang diambil alih oleh paman ku.

Aku melajukan mobil ku menuju bar yang selalu aku datangi jika aku sedang kalut.

Meskipun aku suka merokok, ke bar, dan berantem akan tetapi aku belum pernah menyentuh barang haram itu.

ProblemWhere stories live. Discover now