WAVING GOODBYE

181 7 0
                                        

Angin sore masih membawa kehangatan tatkala gemerisiknya udara yang memecah helai rambut sepunggung milik perempuan berkemeja warna aprikot, dia duduk di sana sementara pandanganku yang semula membuyar, tetiba tertambat kepadanya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Angin sore masih membawa kehangatan tatkala gemerisiknya udara yang memecah helai rambut sepunggung milik perempuan berkemeja warna aprikot, dia duduk di sana sementara pandanganku yang semula membuyar, tetiba tertambat kepadanya.

Mataku membelai tubuhnya dari atas-ke bawah, begitu sebaliknya. Dia duduk dengan dada mengimpit tepi meja bersama sebuah buku bersampul biru lembut. Entah judul buku apa yang tengah dibacanya, hingga sedari tadi tak jua mengacuhkan hilir mudik pengunjung ruang penuh aroma kopi robusta.

Telah beberapa kali suara desisan air panas mengucur dan masuk ke wadah venti atau mungkin lebih kecil.

Aroma rebusan biji kopi bercampur gurihnya cokelat dan manisnya karamel menyeruak dan terhirup oleh semua pemilik hidung yang menghuni bangku-bangku tertata kasual sedemikian rupa. Gelegak tawa sesekali meriuh, namun lagi-lagi perempuan di sebelah jendela besar itu tetap bergeming, seolah apatis dan asyik dengan dunianya sendiri.

Pamdanganku turun dan beralih menjamah kepada kaki jenjang perempuan yang rupanya memiliki betis indah, sedang menyilang dan beberapa kali pula ujung peep toenya diketuk-ketukkan pada permukaan lantai. Akan tetapi tak ada suara tercipta dari sana, hanya tawa bergegar-gegaran bak menciptakan keriuhan tersendiri.

Sekali ini kudekati dia seraya membawa latte dalam wadah venti dan menuju ke meja perempuan yang masih asyik dengan dunianya.

Tak butuh waktu lama aku telah duduk di hadapannya. Namun, lagi-lagi dia tak jua mengacuhkan kehadiranku. Sampai akhirnya aku mengetuk meja yang kemungkinan dapat menjangkau penglihatannya. Dan benar saja perempuan itu terusik lalu menurunkan buku bacaannya yang tampak berjenis novel romansa klasik karya Charlotte Brontё.

Perempuan yang kini tengah menatapku heran tampaknya masih menyukai hal-hal yang kuketahui hingga sejauh dulu. Perempuan berparas manis dengan senyum mengesankan itu memberi perhatian penuh kepadaku.

Tatapannya bak baru menemukan sesuatu yang terkesan hilang dari kehidupan dia. Dan itu, aku. Oh benarkah? Kurasa begitu apabila bisikan gila yang amat mengganggu ini masih berharap rasa yang sama dari perempuan yang sama pula, Villa.

Perlahan Villa menutup bukunya dengan tidak mengalihkan pandangan dariku, ini momen langka setelah hampir bertahun lama dia tak menatapku dengan binar bak siraman cahaya purnama. Aku mulai melantur.

"Galih?" desisnya dan dia mendengus geli bercampur mimik yang menyatakan seperti baru saja melihat keanehan dunia mucul di hadapan dia, dan itu aku. "Benar ini kamu?"

Kepalaku sudah seperti robot, kaku dan mengangguk. Honestly my heart could't stop racing being unable to control it. I'm alaways finding it hard to breath everytime she staring to me.

WAVING GOODBYE (COMPLETED)Where stories live. Discover now