Prolog

681 30 11
                                        

Namaku Alya Gemintang Rasya. Cukup dengan memanggilku Alya atau hanya Al. Jangan mengira aku ini adalah perempuan yang terkesan feminim atau semacamnya. Hilangkan hal itu dibenak kalian. Rambutku sebahu dengan warna hitam legam, tak ada bandana, jepitan atau aksesoris lain yang menjelma di rambutku. Pakaian favoritku adalah kaos polos berwarna peach dan sebuah kemeja kebesaran yang menjadi bungkusan pada tubuhku. Aku lebih tertarik dengan short jeans ketimbang yang lainnya. 

Sekarang aku tengah berada di bawah pohon kamboja yang sedari tadi sudah cukup melindungi ku dari sengatan terik matahari. Sama seperti dia yang sudah melindungiku hampir setengah dari hidupku dan hidup yang lainnya. Makamnya tampak rapih dan indah. Entah, sampai kapan mataku terus bergulir air mata. Mungkin kalian beranggapan bahwa percuma bukan, menangisi seseorang yang telah tiada, toh mereka tidak mungkin dapat bangkit kembali dan memberikan kalian sehelai tisu, setelah itu berusaha menenangkan dengan hangat.

Ini bukan soal tentang penyesalan ataupun cinta sejati yang tak terbalas. Sore ini aku belum bisa menceritakan semuanya. Entah, apakah hatiku sudah siap untuk menceritakan ini kepada kalian. Ini semua tentang dia. Kisah yang dimulai dengan dia yang tidak diinginkan lahir oleh orangtuanya, tentang dia yang sering dipukuli, dicubiti, dan dirotan oleh ibunya, jika tak mampu membawa uang yang banyak sehabis mengamen di sekitar ibukota, tentang dia yang mendapat hantaman oleh preman-preman yang menagih setoran, tentang dia yang tidak beralas kaki saat panasnya aspal yang berhasil membuat kedua kakinya melepuh hebat, tentang dia yang menjadi orang asing dimuka bumi ini.

Sampai kami semua menemukan dia. Dia yang selalu mendamaikan. Tak pernah sekalipun seorang laki-laki itu mengeluh tentang hari-harinya. Dia enggan bercerita sesekali ditanya oleh kami. Hanya tersenyum lebar dengan mata menyipit, dan oh iya, lesung pipitnya yang kecil. Sungguh manis. Tak pernah kawanku yang satu ini menanyakan saran atau ide tentang apa yang harus ia lakukan demi kelangsungan hidupnya, dan ia enggan untuk diberi.

Dia, yang selalu mendamaikan, menenangkan, menengahi, menjahili, dan mencintai. Hal ini sama dengan bunga tulip yang mungkin kalian sering jumpai di sekitar taman kota. Mereka indah dan harum. Sehingga tak jarang orang menyukainya, bukan? , dan dengan semaunya mereka mencabuti tanpa izin permisi dari Yang Maha Pencipta. Kesimpulannya adalah jika ada seseorang yang begitu baik dan penyayang di sekitar kita, maka tak segan-segan Tuhan akan mengambilnya pula dengan maksud melindungi-nya dari tangan-tangan yang berusaha menyakitinya. Jika ditanya siapa orangnya, jelas dia.

Ini bukan kisahku. Ini tentang dia

CARLOStories to obsess over. Discover now