Aku menatap sinar sang surya yang menyerap di korden kamarku di hari yang tak ingin kujalani....
" ANDIKA! CEPET NTAR TELAT! " teriak seseorang yang bunyinya berasal dari lantai bawah rumahku. Pasti itu suara ibu.
" Iya, iya bu, aku udah selesai! " sahutku.
Aku menyimpan data game onlineku yang kumainkan semalam suntuk dan mematikan daya komputerku. Aku tidak rela hasil jerih payahku hilang. Aku langsung mengganti baju dengan seragam putih abu-abuku tanpa mandi dan rutinitas lainnya. Maklum, aku bukan seorang lelaki yang sedang mencari cinta. Jadi, untuk apa berdandan di pagi hari? Aku sudah merasa cukup tampan dengan wajah bergadangku ini.
Aku menyisir rambut ikal yang akan menjadi sasaran percobaan guru BK yang katanya, pernah magang di salon kecantikan dengan tanganku. Tapi, siapa peduli? Dapat cukur gratis di sekolah itu tak buruk juga. Kuambil ransel hitamku dan kutaruh buku-buku sembarang yang berada di jangkauanku. Yah, hanya sebagai isian tasku belaka. Tak lupa game console dan handphone yang menjadi barang wajibku. Haah, menuruni tangga dengan badan lengket memang menyebalkan. Ditambah lagi semua itu harus kulakukan pada pagi hari.
" Dika, sarapan dulu. Masih jam enam lebih lima belas menit. " kata ibu dengan nada mengejek.
Sial. Aku selalu kena tipuan ibu. " Kamu tadi malem main game ya? Tahan sampe jam berapa? " tanya Alika, kembaranku. Iya, Andika yang super malas ini punya kembaran. Alika itu pintar dan orangnya ulet, kuakui itu semua. Tapi, aku paling gak rela dia selalu menang tanding di battlefield. Syukur, dia gak pinter olahraga. Prakteknya di lapangan benar-benar nol besar!
" Sampe ibu nyuruh cepetan... Arghh! Padahal bentar lagi aku ngelawan bossnya level 45! " jawabku pelan, aku takut ibu mendengarnya. Bisa- bisa saluran internetku dicabut ibu lagi. Alika menatapku dengan sinis. " LOL! Lama amat? Aku udah level 67, kapan nyusul? " Aku mendengus kesal. Sial, dia benar benar menjatuhkan martabatku sebagai seorang laki-laki!
" Akan kuingat bayang-bayangmu dan akan kubalas nanti! Lihat aja! " gerutuku dalam hati.
Tin tin!! Suara klakson mobil menggema di depan rumah. Mobil hitam mengkilap terparkir sempurna di depan gerbang rumahku. Pak Satrio sudah menunggu kami dengan jas rapi dan rambut klimis ciri khasnya. Aku dan Alika berpamitan dan mencium tangan ibu.
"Hati-hati ya nak, belajar yang rajin." Ucap ibu.
- to be continued-
Hai readers! Makasi udah mau baca tulisanku ya! Semoga bisa mengisi waktu kosong kalian~~ ditunggu lanjutannya ya ♡
snow_akira
