Intro: Saffron

29 2 6
                                        

Kata siapa jatuh cinta itu nyenengin?
Kata siapa jatuh cinta itu nyakitin?

Bukan. Bukan keduanya.

Jatuh cinta itu bingungin.

Nggak percaya?

Sekarang coba kutanya, apa yang  kalian rasain kalau lagi suka sama seseorang dan kenapa kalian bisa suka sama mereka?

Mungkin sebagian dari kalian bakal jawab deg-degan, speechless atau karena dia baik, tenang, kalem, gaul, kekinian, ganteng, cantik.

See? Nggak ada jawaban yang pasti menjurus pada satu alasan pasti karena intinya hanya tentang jatuh cinta bukan pada penyebabnya. Karena cinta itu jatuh pada siapapun yang bahkan nggak pernah bisa kita prediksi. Dia nggak akan pernah membiarkan kita berpikir sejenak saja--secara rasional--untuk memikirkan alasannya saat benar-benar mencintai seseorang.

Masih nggak percaya?

Sekarang coba lihat aku! Andini Setyaning Putri. Meski cuma sekeretaris OSIS dengan tubuh standard yang bisa dibilang nggak seksi-seksi amat, aku punya cukup banyak hal yang disukai. Baca novel dan komik, teater, lihat anime, berfantasi--yang ini bahasa kerennya ngelamun, dan Anugrah Kusumaning Ati--eh, maksudku Kusuma Narendra.

Dia benar-benar anugrah dalam hidup seorang gadis biasa-biasa aja sepertiku. Berprestasi di bidang olahraga, nol dari segi akademik, ganteng--menurutku, soalnya kata temen-temen dia tuh biasa aja. Anugrah juga baik. Aku bilang kayak gitu bukan karena suka sama dia tapi aku pernah lihat sendiri waktu pulang sekolah. Dia satu-satunya orang yang berhenti di depan seorang tante yang motornya lagi mogok di persimpangan dekat sekolahan. Setelah ngobrol bentar dia pergi berlawanan arah dari rumahnya dan balik ke tante itu sambil bawa dua botol bensin eceran.

Aku terenyuh, padahal biasanya hati ini berdesir pas liat filemnya Shahrukh Khan sama Kajol doang. Tapi Anugrah menjadi sebuah pengecualian hanya beberapa minggu setelah kami dinyatakan masuk kelas yang sama di XI IPS 2.

Apa sih yang istimewa dari Anugrah? Mungkin menurut kebanyakan orang dia bukan siapa-siapa, hanya anak ingusan yang lebih suka keringetan sambil mukul atau nendang bola daripada dengerin guru di kelas atau bisa jadi cuma seorang yang mewarnai dunia anak nakal di sekolah mengingat seringnya dia bolos.

Tapi aku termasuk seseorang yang berpikir lebih dalam mengenai dirinya meski aku hanya teman biasa dan bukan sahabat yang bisa mendengar keluh kesahnya setiap saat. Buatku itu cuma semacam pengalihan dari dunianya yang yaaah mungkin bisa dibilang kurang menyenangkan.

Eits, nggak bermaksud mau jadi cewek sok tahu di awal pertemuan ya, cuma emang itu yang kurasain setelah beberapa bulan sekelas dengan dia dan beberapa teman akrabnya.

Kalau saja kalian ingin tahu, aku akan sedikitmenceritakan sebuah situasi yang hampir sama antara aku, Anugrah, dan teman-temannya. Kami sama-sama anak dari keluarga yang bisa dibilang tidak utuh. Aku hidup bersama seorang ibu dari pernikahan ayahku yang kedua setelah ibu meninggal dua tahun. Mereka, ada yang hidup hanya dengan ayah dan seorang adik karena ibunya yang meninggalkannya, ada yang tisak diurus ayahnya setelah mempunyai keluarga baru dengan istri kedua, sedangkan Anugrah lebih beruntung dari kami karena orangtuanya masih lengkap hanya saja dia tidak mendapat kasih sayang cukup dari mereka.

Tidak semua teman atau pun guru tahu itu dan aku merasa sangat bahagia saat dia mau bercerita tentang itu setelah aku memaksa Anugrah dan teman-temannya untuk belajar bersama karena mereka terancam tak naik kelas karena absen dan ulangan-ulangan yang sudah banyak mereka lewatkan.

Bukan maksud cari perhatian juga sih. Awalnya aku hanya merasa sayang dengan potensi Anugrah yang belum terlihat oleh guru. Kebanyakan dari mereka selalu melihat nilai akademis saja untuk memberikan prediksi apakah dia layak dibilang pandai. Meski dalam olahraga dia menonjol, tetap saja semua itu akan tertutupi saat nilai Matematika atau Ekonominya di bawah rata-rata. Yah, walaupun kuakui Anugrah memang sangat bebal dalam bidang akademik karena saat menghitung dua kali tiga dia menjawab lima, bukannya enam. Tapi dia juga berhak mendapat apresiasi lebih atas dia sukai dan banggakan.

Anehnya, justru aku merasa semakin menyukainya saat itu. Kupikit itu salah satu dari banyak hal di diri Anugrah yang bisa membuatku tertawa karena selain baik dan tidak terlalu banyak bicara, sebenarnya dia anak yang pandai membuat lelucon dengan celetukan spontannya.

Dia selalu membawaku pada sesuatu yang baru. Pada banyak hal yang tidak pernah terpikir olehku sebelumnya. Pada sebuah rasa aneh, seperti musik campursari, dan degupan jantung yang cepat hanya karena mendengar suara besarnya bertanya, "Ndin, tugasnya dikumpulin ke siapa?" dan membuatku tercekat begitu saja kala itu. Tanpa tahu kenapa.

Anugrah itu ibarat sebuah hari. Dialah saffron-nya fajar dan senja. Penerang kehidupan--kehidupanku. Menjadi satu-satunya orang yang pengen kulihat bahkan waktu masih sisiran di kamar sebelum berangkat sekolah dan satu-satunya orang yang wajahnya melekat di pikiranku saat bel pulang sekolah berbunyi sebagai tanda berakhirnya satu hari istimewaku bersamanya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 02, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Love is a ColourStories to obsess over. Discover now