Eternal (n) "existing forever; valid for all time"
---
Billeta membenci kaum Alvori bukan tanpa alasan yang jelas.
Mahkluk yang mengaku sebagai pelindung manusia itu nyatanya sudah merenggut Ibunya...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Seluruh kaum Alvori, kaum penjaga meninggalkan kastil Eternal dengan kabut putih di antara mereka. Dengan kepala yang tertunduk dalam dalam seraya kembali mengenang sosok Aleon, sosok penjaga yang dikabarkan lenyap setelah serangan mendadak di bumi.
Aleon sudah ditugaskan turun ke bumi untuk menjaga seorang gadis indigo sejak lama. Dan selama itu pula, dia mendapatkan hatinya disana.
Aleon jatuh cinta pada manusianya.
Petinggi Eternal sudah bolak balik memanggilnya untuk membicarakan masalah terlarang ini, memintanya untuk berhenti tapi sepertinya Aleon sudah jatuh terlalu dalam.
Sampai pada hari ini, Hans si penguasa Eternal mengumumkan bahwa Aleon sudah gugur dalam tugasnya, begitu pula dengan gadisnya yang tewas karena kehabisan darah setelah penyerangan misterius.
"Ada sesuatu yang salah di Eternal."
Adniel menoleh ke sisi kanannya kemudian hanya membalasnya dengan senyum kecil. "Pasti berat bukan karena Aleon adalah sahabatmu yang lain-"
"Tidak," potong Pethron tiba tiba. Langkah penjaga itu berhenti mendadak bersamaan dengan matanya yang berubah menjadi merah menyala. "Dia menghubungiku. Aleon menghubungiku sebelum ia lenyap."
"Apa?"
"Dia meminta tolong padaku. Dia mengatakan sesuatu yang aneh tentang Eternal. Penjahat sesungguhnya ada disana. Hans membunuhnya-"
"Omong kosong!"
Pethron menarik bahu Adniel dan menyentaknya keras saat lelaki itu hendak berlalu dari hadapannya. "Kau sahabatku bukan, Adniel?"
"Aku tidak mengerti maksudmu." Adniel berusaha menjaga suaranya, mengalihkan pandangannya dari tatapan Pethron yang dengan perlahan berubah.
"Adniel, tidakkah kau mengerti tentang perkataanku tadi?"
Adniel tanpa sadar mulai mengeratkan cengkraman pada jubab biru gelapnya yang menjuntai ke tanah, berusaha mati matian untuk menghalangi kepalanya mendongak lebih tinggi.
"Ayo kita kumpulkan pasukan untuk melengserkan Hans dari jabatannya. Aku tahu ada yang salah darinya sejak Aleon ditugaskan turun ke bumi." Pethron, si penjaga dengan jubah yang sama kembali berbisik.
"Ke-kenapa kita harus melakukan itu?" tanya Adniel akhirnya. Suaranya berpadu sempurna dengan bibirnya yang gemetaran.
"Karena Hans adalah Lagon. Jika kita berhasil melengserkannya, jabatan tertinggi kaum Alvori itu akan ada di genggaman kita."
Kali ini Adniel gagal mempertahankan kepalanya untuk terus tertunduk. Dan seperti yang ia takutkan, ia malah mendapati sosok Pethron yang mendadak asing baginya.
Ini jelas bukan Pethron yang seratus tahun lau menyambut kehadirannya di pintu kelahiran kastil Eternal.