Erase

5.2K 223 4
                                        

Gadis bersurai hitam dengan potongan sebahu itu kembali berlari, bukan berlari seperti para atlet marathon demi memperebutkan sebuah gelar, melainkan lari dari kenyataan yang kian melarakan hati sekaligus raga.

[...]

Buku merah maroon itu kembali terbuka, dengan halaman pertama yang semanis gula kapas. Tertoreh tinta penuh kebahagiaan dari gadis yang kini terus termenung dengan atensi terpusat pada serentetan kata penuh makna di hadapannya.

Jung Soojung mencintai Kim Jongin. Aku selamanya mencintaimu, Jong.

Kim Jongin mencintai Jung Soojung.
Sama, apapun yang terjadi, aku akan terus mencintaimu, Jung.

Warna yang terlukis di atas kanvas mungkin akan mudah memudar, sama halnya dengan perasaan sang Adam. Namun bagaimana dengan si Hawa yang menorehkan tiap kertas di hatinya, dengan sebuah tinta permanen, yang tidak akan mampu terhapuskan meski dirinya memohon sebagaimana pun juga.

Perlahan Soojung membalik lembaran nyaris kusam tersebut. Masih dengan sebuah ekspresi yang sama, memandang datar meski semua tahu ia menyimpan lara yang teramat dalam.

Di batas halaman selanjutnya tersemat sebuah daun kering yang kini kecoklatan. Soojung tersenyum. Ini merupakan daun pengingat, pengingat di mana ukiran nama mereka berdua terlekat di sebuah pohon yang berbeda dari lainnya. Pohon dengan daun yang kini digenggam Soojung, daun lebar berjari dua.

[...]

Sinar matahari yang cerah mengiringi langkah seorang pemuda berkulit tak secerah kebanyakan Asia di negara kelahirannya itu. Hal ini tidak bertanda buruk, kulit tan-nya itu justru berhasil memikat berpuluh-puluh hati, termasuk Soojung.

Langkahnya terhenti tatkala menemukan sesosok yang mampu membuat bibirnya terangkat untuk sekedar membentuk lengkungan senyum menawan. Kali ini bukan gadis bersurai hitam sebahu dengan tatapan mata yang tajam melainkan seorang gadis lain dengan setelan denim dan surai cokelat, potongan sedikit lebih panjang serta mata kecil yang tampak terus tersenyum.

"Seulgi"

"Ya, Jongin"

"Kita jalan?"

"Tentu saja"

Tampak sepasang kekasih itu berjalan beriringan, dengan jari-jari yang ditautkan tanpa rasa bersalah sedikit pun.

[...]

Semua berlangsung terlalu cepat, Jongin yang berhasil menghapuskan tiap-tiap torehan, tiap-tiap goresan Soojung di hatinya. Meninggalkan Soojung yang juga terlalu cepat, cepat dalam mengetahui bahwa Jongin berhasil menghapus semua kenangan mereka. Meski diam, dirinya memberontak, amarah dan segala macam pilu beraduk menjadi satu, membentuk suatu bendungan air mata. Yang bahkan ketika ia memaksa pun, tak kunjung berhenti mengalirkan pilu.

Ya, tepat di pagi hari saat Jongin menyematkan jemari panjang ramping berwarna karamelnya dengan jemari ramping dan mungil milik Seulgi. Kala itu, satu sosok Hawa lain turut menyaksikan secara terperinci satu per satu romansa kedua kekasih tersebut. Melihat dengan ekor mata di balik lensa hitam, dengan surai sepenuhnya tertutup Bape keluaran terbaru.

Converse hitamnya dipaksa berbalik. Meninggalkan jejak-jejak kepedihan yang untungnya masih berpijak, di muka bumi yang kala itu nampak runtuh di netra Soojung.

[...]

Sebuah pagi di awal Desember, diiringi turunnya butir-butir kapas putih rapuh yang dinamai Salju. Bertentangan dengan putih dan dinginnya salju, secangkir penuh Espresso pekat terduduk di sebuah meja. Melekat dengan novel romansa yang tengah naik daun kala itu.

Gadis itu merapatkan coat berwarna krem miliknya, dengan telapak menggenggam erat Espresso, berharap kehangatan tersalur dengan sendirinya. Kepulan asap beradu di atmosfer kala gadis itu meniup asap dari permukaan cangkir, membiarkan aroma Espresso pahit menyeruak ke seisi ruangan yang masih terlalu sepi.

Gadis itu membalikkan halaman buku, menata baik runtutan kata dalam atensi hazelnya. Tersenyum kala menemukan untaian kalimat yang berhasil menerbangkan ragam kupu-kupu dalam benaknya. Memilah beberapa untuk disimpan sebaik mungkin dalam memorinya.

"Jung Soojung? Apa buku itu tampak lebih menyenangkan dari lelakimu?"

"Kau berlebihan, sungguh. Kapan kau sampai?"

"Sekitar lima menit yang lalu, memandangi lekat gadis yang saking terobsesinya dengan buku tebal itu sampai tidak mendengar tapak kakiku."

"Oh ayolah aku minta maaf. Kau harus coba membaca buku ini, menakjubkan."

"Lebih baik aku menghabiskan uangku untuk Bubble Tea."

"Tidak sehat. Ayo kita pergi, Oh Sehun."

Kaistal CollectionStories to obsess over. Discover now