Marisa sedang duduk di atas podium di aula mall elite jakarta. Ia menjawab semua pertanyaan yang diberikan untuknya. Ya, hari ini adalah hari yang sangat membuat marisa bahagia. Tepat hari ini ia berhasil meluncurkan novel perdananya.
"Mba marisa apakah cerita novel ini terinspirasi dari kehidupan pribadi?". Seseorang pengunjung berparas manis bertanya dan pertanyaan itu membuat marisa mengingat lagi hal yang sudah seharusnya dilupakan.
"Hmm.... Sebagai penulis yang masih sangat baru, sebagian kejadian yang ada di dalam novel adalah kisah nyata. Ada dari kisah pribadi dan dari pengalaman teman-teman saya". Jawab marisa sembari tersenyum melihat teman-teman marisa yang tersipu bahagia karena bisa menjadi inspirasi untuk Marisa.
"Baiklah saya rasa cukup pertanyaan yang di berikan. Kita lanjut ke acara berikutnya. Ya... Marisa akan menunjukan bakat lain dalam dirinya. Kita saksikan bersama dan beri tepuk tangan yang meriah untuk Marisa Pricia Anindyta......" Tutur MC yang kemudian di sambut tepuk tangan meriah dari penonton yang berkunjung.
Melewatkanmu di lembaran hariku
Slalu terhenti di batas senyumanmu
Walau berakhir cinta kita berdua
Hati ini tak ingin dan selalu berdusta
Melupakanmu takan mudah bagiku
Slalu ku coba namun aku tak mampu
Membuang semua kisah yang tlah berlalu
Di sudut relung hatiku yang membisu ku merindukanmu....
Harusnya ku tak melewatkanmu
Menghapuskanmu dari dalam benakku
Namun ternyata sulit bagiku
Merelakanmu pergidari hatiku...
Marisa terlalu meresapi lagu yang ia nyanyikan. Hingga membuat pandangannya tak wajar. Marisa melihat dia yang menjadi alasan Marisa membuat novel. Dia juga yang membuat marisa menyanyikan lagu ini. Hati marisa kembali terasa sakit. Tak seharusnya ia memikirkan dia di saat seperti ini.
🌸
Haii semua ini cerita pertama saya. Maaf ya kalo ceritanya masih gak terlalu bagus. Hope you enjoy 😊
Oyaa di tunggu kritik dan saran yang membangun ya guysss 😀
أنت تقرأ
Stillness
أدب المراهقينBelajar dari daun di musim gugur. Merski menua, menjadi semakin rapuh, kemudian menggugurkan diri. Ketika mulai berguguran manusia riang melihat keindahan. Namun tak pernah ada amarah ataupun benci tentang keadaan. Begitulah Marisa menjalani kehidup...
