Seungcheol POV
"Appa..."
Aku menoleh dan mencari-cari sumber suara itu dan disanalah suara itu berasal. Dari seorang bocah laki-laki yang kira-kira berusia tujuh tahun. Dia berlari kearahku sambil terus memanggil ku. Oh Tuhan. Aku merindukan mu nak. Begitu ia sampai di depanku, langsung saja kugendong tubuhnya yang mungil.
"Hai sayang. Appa merindukanmu. Sekarang anak appa sudah besar dan berat ya."
"Appa, Chan merindukanmu. Sangat merindukanmu. Kenapa appa tidak pernah mengunjungi Chan dan Eomma ?"
"Maafkan Appa ya Chan sayang. Dimana Eomma ?"
Aku menoleh kesana kemari untuk mencari keberadaan orang yang aku cintai. Dan disanalah ia berada tak jauh dari tempatku berdiri. Ia melihat interaksiku dengan Chan. Ia memandangku dengan sorot mata yang sarat akan kerinduan dan rasa haru. Kulihat matanya berkaca-kaca dan setetes embun meluncur ke pipinya yang mulus. Segera saja kuhampiri dia dan kupeluk erat tubuh yang lebih pendek dariku ini. Bahunya yang rapuh itu bergetar sambil kudengar isakan kecil lolos dari bibirnya. Kumohon berhenti sayang. Aku tak sanggup mendengarmu menangis seperti ini. Mataku ikut berkaca-kaca merasakan momen ini. Kerinduan yang kupendam selama ini tercurah saat ini juga.
"Aku merindukanmu Seungcheol-ah."
Seungcheol POV end.
*****
FLASHBACK ON
Kisah ini dimulai beberapa tahun sebelumnya. Pada hari itu, awan mendung sudah menggantung di langit sejak pagi. Matahari seolah malu untuk menampakkan diri dan enggan menjalankan tugasnya menghangatkan setiap insan di Kota Seoul. Tapi mendung di langit tak dirasakan oleh sepasang muda-mudi yang telah berada di mobil. Hari itu, mereka baru saja memulai kisah asmara. Seorang pria tampan nan gagah bernama Choi Seungcheol dan seorang pria manis bernama Jang Doyoon. Mereka masih bisa tertawa dan tersenyum bahagia membicarakan apa yang baru saja mereka lewati pada hari itu. Sampai sebuah tragedi akibat kecerobohan Seungcheol terjadi. Mobil yang mereka tumpangi hampir saja menabrak sebuah mobil lain kalau saja Seungcheol tak cepat menghindar dan menyebabkan mobil itu menabrak sebuah truk pengangkut barang. Dan mereka tak tahu bahwa sejak saat itu, semua tak lagi sama.
Seungcheol dan Doyoon membawa pria korban kecelakaan mobil itu kerumah sakit. Dalam perjalanan, pria yang baru saja mereka ketahui bernama Hong Jisoo itu terus menyebutkan satu nama dalam ketidak sadarannya.
"Jeonghan-ah," kata itu terucap seiring dengan lolosnya setetes air mata dari sudut mata Jisoo.
"Han-ah, mianhae. Saranghae." kemudian kesadaran Jisoo hilang sepenuhnya.
Sesampainya dirumah sakit, dokter langsung memeriksa keadaan Jisoo, lalu dari arah lorong terdengar suara ketuk kaki tergesa-gesa dari beberapa orang. Sampai saat itu tiba, kedua mata Seungcheol melihat objek indah yang tengah memperlihatkan ekspresi sedih dan terluka. Di depannya berdiri seorang pria cantik yang memakai tuxedo putih dengan rambut panjang sebahu berwarna cokelat.
Seungcheol sempat terpesona oleh si pria cantik, namun tak lama kemudian dokter yang memeriksa Jisoo keluar ruangan dan memberi berita duka. Jisoo terluka parah dan Jisoo tak dapat diselamatkan. Kemudian Seungcheol melihat bagaimana mata indah si pria cantik itu menjadi hampa dan kosong. Saat Seungcheol melihat ke dalam mata itu, hanya ada sorot mata terluka. Tubuh si pria cantik perlahan merosot kebawah dan terdengar isakan lirih namun menyakitkan lolos dari bibir indah itu. Jeonghan si pria cantik hancur perlahan secara mengenaskan.
"Jisoo-ya. Jisoo-ya, wae ? kenapa kau tega melakukan ini padaku. Kenapa kau meninggalkanku seperti ini ?" si pria cantik berkata seolah-olah Jisoo ada dihadapannya sekarang. Aku melihatnya, aku menyaksikan setiap tetes air mata itu menyeruak keluar dari mata indahnya.
"Jisoo kumohon. Kembalilah padaku." si pria cantik terus meracau berharap bahwa akan datang keajaiban dan sang kekasih akan hidup kembali.
"Jeonghan-ah,"seorang wanita tua terlihat memeluk si pria cantik sambil mengelus kepalanya. Jadi dia orang yang bernama Jeonghan. Si wanita tua terus mengelus kepala Jeonghan dan berharap Jeonghan akan sedikit tenang.
"Eomma. Jisoo sudah berjanji akan menemui ku di altar hari ini. Eomma." Si pria cantik terus meracau sambil menangis tersedu-sedu hingga suaranya parau dan tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Seungcheol dan Doyoon hanya mampu berdiri mematung disini. Suara pria cantik sangat menyayat hati.
Seungcheol mendengar tangis histeris dari Jeonghan. Ia berteriak meraung sambil memanggil nama Jisoo. Air mata tak dapat berhenti keluar dari kedua matanya yang cantik. Seungcheol bodoh. Bodoh bodoh bodoh. Kau telah membunuh dua hati yang saling mencintai.
"Mianhae. Mianhae. Mianhae. Jeongmal mianhae."
Seungcheol merasakan mata orang-orang disekitar melihat kearahnya dan Doyoon. Mereka mungkin bertanya-tanya siapa dua pria tampan yang ada di hadapan mereka sekarang.
"Aku adalah orang yang telah menyebabkan kecelakaan ini terjadi. Mianhae," Seungcheol berkata lirih sambil menundukkan kepalanya. Seungcheol berpikir bahwa ia akan ditampar atau bahkan dipukul oleh mereka. Tapi sampai beberapa saat ia tidak merasakan apapun. Saat Seungcheol mendongakkan wajahnya, hanya tatapan penuh luka dan kehancuran yang ia lihat dari si pria cantik.
"Mianhae, Jeonghan-ssi," ia menatap Seungcheol sesaat sambil terus meneteskan air mata. Terlihat pandangan si pria cantik kosong seakan tak ada siapapun di hadapannya sekarang. Sesaat kemudian ia berlalu dari hadapan Seungcheol dan masuk keruangan yang berisi jasad Jisoo. Terlihat seorang pria tua menghampirinya dan memegang pundaknya.
"Tidak apa-apa nak. Ini bukan salahmu. Ini semua adalah bagian dari takdir."
"Mianhae ahjussi. Jeongmal mianhae," Doyoon hanya mampu terisak dibelakang Seungcheol. Hari ini, Choi Seungcheol merasa bahwa ia telah menjadi seorang pembunuh.
Seungcheol tak pernah menyangka bahwa pada hari itu, ia akan memisahkan dua insan yang hampir terikat menjadi pasangan yang sah dimata Tuhan. Ya benar, Jisoo dan si pria cantik adalah pasangan yang akan menikah pada hari itu, dan Seungcheol telah menghancurkan segalanya.
Sejak hari itu, Seungcheol merasa menjadi orang paling kejam dan berengsek sedunia. Ia dan kedua orang tuanya telah mengunjungi kediaman Jisoo dan meminta maaf. ia bermaksud untuk bertanggung jawab dan bersedia apabila dituntut atas kematian Jisoo. Namun kenyataan bahwa keluarga Jisoo tidak menuntut apapun dari Seungcheol justru membuat ia semakin merasa bersalah. Seungcheol juga bermaksud untuk meminta maaf pada Jeonghan dan keluarganya tapi sangat sulit menemui Jeonghan.
Seungcheol sudah menanyai keluarga Jisoo dimana kediaman Jeonghan tapi mereka memilih untuk menyembunyikan semuanya. Mereka juga mengatakan bahwa setelah pemakaman Jisoo, Jeonghan dan keluarganya tidak pernah menghubungi mereka lagi. Selama seminggu ini ia terus mencari informasi keberadaan Jeonghan untuk meminta maaf secara langsung, tapi hasilnya nihil. Hingga tiba pada suatu hari dimana Seungcheol akan mengunjungi makam Jisoo. Saat itu Seungcheol melihat Jeonghan yang baru saja keluar dari komplek pemakaman, akhirnya Seungcheol mengurungkan niatnya untuk mengunjungi Jisoo dan mengikuti kemana Jeonghan pergi.
Setelah beberapa saat mengikuti Jeonghan, ternyata Seungcheol mendapati Jeonghan pergi ke tempat psikiater. Seungcheol terus mengawasi Jeonghan dan berusaha mencari tahu apa yang Jeonghan lakukan disana. Apakah ia sedang berkonsultasi ? setelah beberapa saat mencoba mencuri dengar pembicaraan jeonghan dengan seorang psikiater, akhirnya berhasil mengetahui sebuah fakta.
YOU ARE READING
Destiny
FanfictionCast : Yoon Jeonghan Choi Seungcheol Jang Doyoon Hong Jisoo, etc Warn : Yaoi, Romance, Hurt, Mpreg, OOC, Typo bertebaran, EYD berantakan, Ide pasaran, Alur tidak jelas dan membosankan. PROLOG "Aku adalah orang yang telah membunuh tiga jiwa dalam s...
