Pagi yang cerah menghiasi pagi ku yang selalu buruk ini apalagi kalau bukan karena penyakit dan orangtua ku yang selalu sibuk akan pekerjaannya bahkan hampir setiap hari aku tidak pernah melihat mereka dirumah. Yap, jika bukan bibi noni yang merawatku dan adikku mungkin rumah ini bisa jadi kapal pecah seketika karena kami biasanya bertengkar setiap hari hanya karena memperebutkan sesuatu.
Ohiya, perkenalkan namaku adalah sheila lebih lengkapnya lagi sheila salsabila amanda putri itulah nama lengkapku sedikit panjang bukan(?) tidak tapi memang benar - benar panjang, haha ..
Hari - hari yang kujalani setiap hari sangatlah sulit mungkin aku terlihat selalu tersenyum diluar tapi sebenarnya hati ku rapuh, teman - temanku .. Mereka tak tahu bahwa aku mempunyai penyakit karena aku tak ingin ada yang mengetahuinya hanya orangtuaku, saudaraku dan bibi noni lah yang tau karena aku tidak ingin terlihat lemah dihadapan sahabat - sahabatku yang sudah ku anggap seperti keluarga sendiri.
Sheila POV
Hari ini aku kembali lagi masuk sekolah seperti biasa setelah libur panjang selama 2 minggu ini, sekarang aku merasa senang karena bisa kembali sekolah lagi karena liburan ku tidaklah baik aku hanya menghabiskan liburan ku dirumah tidak kemanapun karena aku tau bahwa orangtua ku sangatlah sibuk.
"Heii .. " kejut seseorang yang sedang berada dibelakangku sontak aku sedikit terkejut karena dia sangat mengagetkanku.
"Yaakk, kau tidak ada cari lain selain mengejutkanku mini, kau hampir saja membuat jantungku ini seakan mau copot." ucapku dengan nada kesal.
"Aissh dasar alay, jika tidak dengan cara begitu mungkin kau akan melamun trus seperti tadi." Ucapnya dengan nada yang kesal juga.
"Aishh lupakan saja lebih baik kita masuk daripada kita akan terlambat masuk kelas lagipula ini adalah hari pertama kita masuk sekolah disemester dua sekarang, dan ingat jangan pernah mengagetkanku lagi atau kau akan mati." ucapku dengan tangan telunjukku yang sedang berada dileherku.
"Kau pikir aku takut dengan ancamanmu tentu tidak nona sheila, lekkk," ejeknya seraya meninggalkanku sendiri didepan pagar sekolah.
"Yakkk minii, tunggu aku awas kau ya lihat saja nanti," gumamku seraya mengejarnya yang sudah jauh meninggalkan ku.
Okee aku belum menceritakan siapa mini, mini adalah sahabatku saat sekolah menengah pertama dan sekarang kami masih satu sekolah lebih parahnya lagi kami satu kelas, rasanya senang bisa bersahabat dengannya karena dia adalah sahabat yang paling mengerti diriku dia adalah gadis yang sempurna. Hidupnya selalu saja penuh tawa dan senyuman karena ia mendapatkan orangtua yang begitu perhatian kepadanya rasanya iri melihat dia bahagia dengan kehidupannya walaupun dia menyebalkan tapi dia adalah sahabat terbaikku dan aku tak akan pernah mendapatkan sahabat seterbaik dia.
Akhirnya bel pulang pun berbunyi sontak membuat semua murid tertawa bahagia karena akhirnya mereka bisa pulang juga setelah menghadapi pelajaran yang begitu membosankan. Yap, begitulah sekolah kadang menyenangkan kadang juga membosankan tapi kita harus menerima itu semua, benarkan(?).
"Sheila, apakah kau mau mengerjakan tugas bersamaku(?) kumohon bantulah aku tugas matematika ini seakan membunuhku .. ini sangatlah susah sheil otakku saja seakan mau pecah melihatnya, kumohon bantulah aku," pinta mini dengan wajah memelasnya itu.
"Heii singkirkanlah wajahmu yang jelek itu, aku tak suka melihat wajahmu seperti itu kau seperti zombie yang sedang frustasi haha," ucapku dengan tertawa kecil disela - sela ucapanku.
"Yakkk aku sedang serius bukan malah bercanda, kumohon bantulah aku sheila,"
"Baiklah kalau begitu datanglah kerumahku jam4 sore ini, mengerti(?)," ucapku seraya menunjukknya.
"Okee kau memang sahabat yang terbaik sheila, aku menyayangi mu," kata mini seraya memelukku.
"Yakk lepaskan pelukanmu ini, kau membuatku jijik dengan pelukanmu ini," dengungku
"Aishh kau benar - benar tidak romantis sheila," ucap mini selagi melepaskan pelukannya.
"Sudahlah jemputanku sudah datang kalau begitu aku pulang duluan mini, jangan lupa kalau kau ingin ku ajarkan datanglah kerumahku jam 4 sore ini mengerti?," ucapku seraya meninggalkannya.
"Sipp boss," pekiknya seraya memberiku hormat.
Sheila POV End
Sheila akhirnya tiba dirumahnya yang cukup besar ini namun sangat di sayangkan bahwa orang yang tinggal disini hanya lah 4 orang yaitu sheila, adiknya joshua, bibi noni dan supirnya pak sudi.
Ketika sheila membuka pintu sheila terkejut melihat bibi noni yang duduk sambil memegang tas besar ditangannya itu.
"Apa yang bibi bawa itu? Apa bibi mau pergi meninggalkan ku dan joshua? Apa bibi benar - benar akan pulang kampung? Lalu bagaimana dengan kami bi?," ucap sheila sambil menangis.
"Bibi pergi tidak akan lama non, bibi akan pulang dalam waktu dekat jadi nona jangan khawatir bibi pasti akan kembali secepatnya kesini, bibi hanya pergi sebentar untuk menjenguk anak bibi yang sakit dikampung, tenanglah non bibi akan pulang," ucap bibi noni yang sekarang memeluk sheila.
"Bibi janji akan kembali kan? Bibi tidak sedang berbohongkan?," tanya sheila seraya melepaskan pelukan itu.
"Bibi berjanji bahwa bibi akan pulang non, sebelum bibi pergi bibi telah menyiapkan obat non untuk diminum begitu pula dengan makanannya dimeja belajar non sheila, bibi hanya berpesan kepada nona jangan telat makan dan jangan telat juga untuk meminum obat nona jagalah kesehatan nona, kalau begitu bibi pergi dulu nona sheila," ucap bibi noni seraya berjalan keluar dari rumah.
"Baik bi kalau begitu aku akan menunggu bibi, jagalah kesehatan bibi dan jangan lupa untuk kembali kesini lagi bi," pekik sheila dari kejauhan.
Dan kini bibi noni pun pergi meninggalkan sheila dan joshua adikknya walaupun joshua belum mengetahuinya karena joshua sedang berada ditempat kursusnya sekarang tapi sheila senang karena bibi noni sudah berjanji kepadanya bahwa bibi noni akan kembali.
Sheila POV
Aku mulai berjalan memasuki kamarku, kulihat dimeja belajarku sudah ada makanan dan obat yang harus ku makan. Yap, setiap harinya aku harus meminum obat ini karena demi kesembuhanku.
"Huffft .. Sampai kapan aku harus meminum obat - obatan ini trus rasanya ingin mati saja daripada harus meminumnya setiap hari," ucapku sambil menghela nafas panjang.
Akhirnya aku selesai makan dan meminum obat ku ini, rasanya lega sudah meminumnya setidaknya tak akan ada rasa sakit setelah meminum obat ini dan penyakitku tak akan kambuh tiba - tiba. Tiba - tiba bel rumahku berbunyi aku melihat jam kamarku ternyata sudah jam4 sore ini pasti mini.
Ting ..
Tong ..
"Iya tunggu sebentar .." Ucapku seraya turun menuruni tangga rumahku.
Dan ketika aku membuka pintu ternyata bukan mini yang datang melainkan ...
YOU ARE READING
Perfect Life
Teen Fiction"Aku hanya ingin hidup sempurna mungkin hanya itu yang ku inginkan hidup seperti layaknya orang normal tanpa harus ketergantungan dengan obat-obatan yang pahit ini." "Disini lah kisah ku dimulai aku adalah seorang gadis remaja yang berusia 15 tahun...
