Magelang, 19 Mei
Gelayut mendung menyambut saat perlahan bus antar kota yang kutumpangi memasuki area kedatangan Terminal Drs. Prayitno Kota Muntilan. Sesekali halilintar menimpa disertai gemuruh petir yang tiba-tiba berkilat. Ah, sepertinya langit menjanjikan turun hujan, keluhku dalam hati. Berharap hujan tidak turun sebelum aku sampai rumah. Atau setidaknya sampai seseorang yang menjemputku datang. Dengan gontai kuraih ransel dan berjalan keluar menuruni undakan bus. Angin dingin menampar seketika. Kontan mengirimkan gigil di seluruh tubuh.
Kuhirup udara sejuk kampung halaman yang hampir empat tahun ini kulupakan. Betapa kurindukan suasana ini. Ego remaja yang tinggi membuatku mengambil keputusan pendek: MERANTAU KE IBU KOTA. Meninggalkan kota kecil ini, orang tuaku, juga cinta yang bersemayam dalam hati. Ah, gadis itu bagaimana kabarnya kini? Mungkinkah dia masih sendiri?
Sejuta pertanyaan bermunculan dalam benakku yang tak bisa berhenti berfikir. Sambil berjalan menyusuri lorong terminal, pikiranku mulai menambahkan satu dengan satu. Mencoba mengingat kenangan yang dulu pernah terjadi di tempat ini. Kenangan tentang aku dan dia... Tentang gadis itu...
Sedikit nyeri di dada saat aku memaksa membuka kotak kenangan. Kotak berdebu di pojok ruangan di sudut tergelap pikiranku itu tak pernah sedikitpun tersentuh dalam empat tahun ini. Rasanya belum mampu aku mendengar nada-nada sumbang sonata kehidupan cintaku dengan gadis manis berambut ikal sebahu itu...
----
Aku mengenalnya dua belas tahun lalu, di upacara penyambutan siswa baru di sebuah sekolah menengah pertama favorit di kotaku. Umurku saat itu 12 tahun dan dia 11 tahun. Seperti kebanyakan cerita cinta, tidak ada yang istimewa di awal perjumpaanku dengannya. Kami berpapasan di gerbang depan, dan sepertinya dia tidak menyadariku. Pertemuan kedua dan selanjutnya juga tidak jauh berbeda. Kami berpapasan dan dia masih tidak menyadariku. Dan entah kenapa, hal itu membuat sedikit rasa jengkel muncul di hatiku. Belum pernah ada seorang gadis yang --meskipun aku tahu dia tidak sengaja-- menafikkan eksistensiku. Baiklah, bukan bermaksud sombong, tetapi hei, dengan reputasiku sebagai salah satu anggota kesebelasan sepak bola --ekstrakulikuler favorit, di mana saat kau menjadi bagian di dalamnya, otomatis popularitas akan datang padamu-- juga kontur wajah yang --kata ibuku-- cukup menawan, sepertinya hal itu tidak mustahil.
Karena dia selalu tidak mengacuhkanku, membuatku ingin mengenalnya. Ya, gadis itu menjadi orang asing pertama yang aku ingin kenal di sekolah ini. Dan sepertinya itu tidak mudah.
Dari beberapa teman semenjak sekolah dasar gadis itu --yang kebetulan satu kelas denganku, saat pembagian kelas, dia mendapat kelas paling pojok. 7.6, sementara aku 7.3-- aku mencoba mengorek informasi tentang gadis itu. Gadis manis berambut ikal yang setelah kuperhatikan betul memiliki mata bulat indah, bagian wajah yang menurutku paling menarik darinya.
Dia bernama Na, salah satu pemegang rangking 40 besar ujian pendaftaran. Tipikal murid kesayangan guru-guru. Penurut, tidak banyak bicara, dan cerdas. Ya, cerdas. Dia masih bisa mempertahankan prestasinya meski dia tidak pernah belajar. Gadis itu... Ah... Entah kenapa desir halus muncul di dada ketika aku mengingatnya. Aku menyukainya. Tidak... Aku harus mendapatkannya sebelum orang lain. Bukan karena latar belakang prestasinya, tetapi karena sesuatu lain yang aku sendiri tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Sebuah rencana terbit di benakku.
***
"Kau menyukainya, bukan? Gadis bernama Na itu. Kudengar seorang kakak kelas juga menyukainya." Seorang karibku sejak sekolah dasar menepuk bahuku, membuatku yang tengah asik memperhatikan laku Na dari balik jendela kelasku, terlonjak.
"Kau ini, bikin kaget. Bosan hidup, ya?" Aku mendengus. "Kau tadi ngomong apa? Kakak kelas naksir Na?"
Dari sudut mata, aku melihat cengiran tercetak sempurna di bibir Bagus, karibku itu. "Ya. Kau belum dengar kabar, ya? Gosipnya mereka berpacaran. Kau tahu Achi anak 8.5 itu kan? Nah, kulihat mereka sering berangkat dan pulang bareng."
Tak sadar, jemariku terkepal mendengar perkataan Bagus. Panas tiba-tiba menjalar di sekujur tubuh.
Achi? Tidak akan aku biarkan dia mendapatkan gadisku.
--tbc--
