Part 1

240 8 1
                                        

This is my first story on wattpad. Hope you guys enjoy it. Please comment if u find this story. I will not continue if there is no respond from readers hehehe.

-----------------

Matahari masih tampak malu menunjukkan diri di ujung timur. Disaat seperti ini, beberapa orang masih memilih untuk tidur.

"Bu, itu di meja udah ada sarapan. Jangan lupa makan sebelum berangkat kerja ya bu" Adena mendekati ibunya yang sedang membereskan kamar.

"Iya nak. Nanti kamu pulang jam berapa? Ndak usah kamu ke rumah Bu Rahmah lagi Dena. Kamu langsung pulang saja kerumah ya nak" ucap Bu Siti kepada anak sulungnya.

"Tergantung, kerjaan Ibu di rumah Bu Rahmah udah beres atau belum. Kalo belum aku mau kesana. Hehe" Dena berbicara dengan nada yang lembut namun seperti mengatakan pernyataan final tanpa meminta tanggapan atau jawaban dari ibunya.

"Bapak mana bu? Udah ke kelurahan?" Tanya Dena pada Ibunya.

"Pokoknya ndak usah nak. Kasian kamu capek. Kerja kuliah kerja lagi terus pulangnya mesti bantu ibu.

Ndak usah nak. Bapakmu tadi diminta datang lebih awal untuk menyupiri pak lurah ke bogor" jawab bu Siti.

Mendengar perkataan ibunya Adena hanya tersenyum sembari ber 'oh' ria. Dalam pikirannya berkecamuk berbagai hal. Ayahnya ke bogor lagi pertanda akan pulang larut. Kasian ayahnya sudah beberapa hari ini pulang malam terus. Dilihatnya kamar Dimas adik satu-satunya yang masih duduk di bangku SMP. Dimas masih terlelap. Segera ia pastikan bahwa kebutuhan keluarganya pagi ini sudah terpenuhi. Makanan, teh panas, rumah yang bersih. Matanya menyapu seluruh rumah memastikan detil-detil kecil tidak ada yang terlewati. Rumah ini terlihat sederhana, sangat sederhana namun sekali orang melihatnya akan tau bahwa rumah ini dibersihkan dan dirawat dengan baik. Untuk mempersingkat waktu Adena pamit kepada ibunya untuk berangkat kerja.

Adena menjadi salah satu pekerja lepas di salah satu gedung perkantoran di daerah Jakarta Pusat. Ia bertugas untuk membersihkan beberapa lantai di gedung tersebut dari pukul 05.00 sampai pukul 07.30. Karena setiap jam 10 pagi dia harus menghadiri kuliah dan jarak antara gedung tempatnya bekerja dengan kampusnya memakan waktu yang cukup lama.

Selain bekerja sebagai petugas kebersihan Adena juga bekerja sebagai jurnalis lepas disalah satu surat kabar ternama di Indonesia.
Berbagai pekerjaan yang dia tekuni tidak lain tidak bukan untuk membantu meringankan beban kedua orangtuanya terhadap pendidikan ia dan adiknya.

Hari ini merupakan hari perkuliahan terakhir sebelum memasuki minggu tenang untuk ujian tengah semester. Dena berkuliah di salah satu kampus negeri ternama di Indonesia dan mengambil jurusan ilmu komunikasi. Pagi ini jam 10.00 merupakan jadwal untuk matakuliah komunikasi budaya dan dalam perjalanannya menuju kelas ia berpapasan dengan seseorang yang ia kenal betul sedari masih SD dulu. Ya, laki-laki itu adalah Reza Afsyandi Soetomo. Kakak kelasnya sedari SD, SMP dan SMA serta merupakan seniornya di kampus.

Semenjak SD ia dan Reza sudah bersekolah di sekolah yang sama. Hal itu karena biaya sekolahnya di tanggung oleh orangtua Reza yang notabene adalah atasan ibunya lebih tepatnya majikan ibunya. Ya benar, orangtua Adena sudah bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluarga Soetomo, suami Bu Rahmah yang tidak lain adalah Ibu Reza sejak 15 tahun yang lalu. Keluarga ini baik dan sangat mengutamakan pendidikan. Tidak hanya pendidikan anak-anak mereka saja namun juga pendidikan orang-orang di sekitarnya. Adena merupakan salah satu orang yang beruntung karena hingga ia kuliah biaya pendidikannya ditanggung oleh keluarga Soetomo.

Sepintas mata Adena melirik ke arah lelaki yang saat ini berada di pikirannya. Orang yang dilihatnya hanya menatap lurus kedepan, namun tiba-tiba memalingkan mukanya sehingga mata mereka bertemu.

Laki-laki itu tidak menyapa. Selalu begitu semenjak pertama kali mereka bertemu. Tidak ada ekspresi apapun yang terpampang di wajahnya. Seulas senyum terukir di bibir Adena yang disambut oleh aksi buang muka oleh lelaki tersebut.

'Dia ga lihat kayaknya atau lupa sama muka gue' batinnya dalam hati. Tidak terhitung berapa kali dia mengucap kalimat itu dalam hati semenjak pertama kali mereka bertemu. Tidak pernah ada interaksi maupun komunikasi berarti antara Adena dan lelaki itu.

Terbayang ketika masa SMP sewaktu ibu dan ayahnya belum mampu untuk membeli rumah dan mereka tinggal di kamar pembantu di rumah keluarga Soetomo. Adena selalu membantu menyiapkan bekal Reza, meskipun ia tahu tak pernah sepatah katapun keluar dari mulutnya. Adena yang berpapasan dengannya ketika sedang membersihkan kamar Reza, namun tidak pernah ada sepatah katapun. Sejak belasan tahun yang lalu. Tidak pernah tercipta komunikasi antar mereka berdua.

Aku ada :)Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora