"Sungguh, tidak ada pengakuan yang jauh lebih sakit daripada ini."
Hari ini cuaca sedikit mendung.
Langit separuh biru, dan sisanya abu-abu. Duduk di taman dekat rumah sambil makan es krim strobery. Dua suhu berbeda di tubuh, dingin di mulut dan hangat di badan. Haehee mengenakan sweater tebal buatan ibunya. Hadiah ulang tahunnya yang ke 17. Oh, bukan hanya karena sweater tebal ini, badannya terasa hangat tatkala dia memandang sosok laki-laki tampan disampingnya. Lahap dengan es krim vanillanya.
"Tumben kau mengajakku jalan-jalan di taman sore-sore begini. Aku jadi tidak percaya kau tulus membelikanku es krim ini."
Wonwoo disampingnya, tetap fokus dengan es krimnya, tanpa menoleh dia menjawab, "Aku sering membelikanmu es krim, Nona Han. Dasar tidak tahu terimakasih!"
Haehee mengernyit dan memanyunkan bibir, "Sering kau bilang? Lebih sering aku yang membelikanmu es krim!"
Wonwoo hanya diam. Dia tetap saja fokus dengan es krimnya. Tidak biasanya dia begini.
Beberapa menit berlalu, keduanya hanya diam. Haehee terpaksa diam dan hanya makan es krimnya. Sampai es krimnya dan es krim Wonwoo habis pun, hening masih saja menguasai.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kuutarakan padamu."
Sebuah suara memecah keheningan. Wonwoo yang berbicara.
Haehee menoleh, mendapati Wonwoo sedang menatapnya serius setelah tadi hanya peduli dengan es krimnya, "Bicara apa? Wajahmu kelihatan serius sekali."
"Memang ini hal serius, Han. Aku sudah lama ingin mengutarakannya padamu tapi waktunya tidak pernah pas."
Mata berkedip, Haehee jadi ikut serius menanggapi, "Katakan saja sekarang. Pas atau tidak waktunya, daripada kau terus memendamnya dan membuat dadamu sesak. Kalau aku memang berbuat kesalahan padamu, kau katakan saja. Jangan kau pendam-"
"Aku menyukaimu."
Kalimat singkat itu meluncur dengan mulus. Entah kenapa suasana taman menjadi hening. Hanya terdengar semilir angin dingin yang membuat orang-orang disekitar menggigil. Namun kedua orang yang tengah duduk di bangku tamana itu tidak merasakannya. Terlebih lagi Haehee. Jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak untuk beberapa detik, baru kemudian berdetak cepat seterusnya. Dia terlalu kaget dengan kalimat Wonwoo barusan. Apalagi Wonwoo mengatakannya dengan wajah serius. Bagaimana dia bisa diam saja?
"Jeon-ah.."
"Selama ini aku.. tidak berani mengatakannya."
Wonwoo terus berbicara tanpa memberi Haehee kesempatan untuk menjawab. Bahkan untuk berkedip pun tidak.
"Aku terus melihatmu diam-diam dari jauh. Kau punya senyum yang manis. Aku suka caramu tertawa. Semua ini kurasakan sudah sejak setahun yang lalu. Tapi sungguh, untuk sekedar berjalan kearahmu saja aku tak berani."
Jantung Haehee makin berdegup kencang. Pikirannya kacau. Dia tidak bisa mencerna kalimat Wonwoo dengan jelas.
"Sekarang, pas atau tidak waktunya, aku benar-benar ingin mengutarakannya. Aku tidak mau lagi memendam ini. Aku tidak ingin lagi hanya memandangimu dari jauh. Aku ingin.. kau menjadi kekasihku. Maukah kau?"
Entah apa yang terjadi, seolah dunia ini berhenti. Tidak ada angin berhembus. Orang-orang seperti patung dengan berbagai pose. Satu-satunya hal yang didengar Haehee dengan jelas adalah detak jantungnya. Yang cepat dan keras. Selama beberapa detik dalam keheningan. Haehee tidak bisa menemukan suaranya. Seolah Haehee si cerewet berubah menjadi Haehee si pendiam.
Lalu pada detik ke 30, Haehee berhasil menemukan suaranya.
"Jeon.. kau.."
"Apa?"
Haehee mengernyit. Matanya sedikit menyipit memandangi ekspresi Wonwoo yang terlihat.. gembira?
"Bagaimana tadi Han? Apakah meyakinkan? Apa tadi kalimatku bagus?"
Haehee menelan ludahnya yang sejak tadi mengganjal di tenggorokan, "Ma-maksudmu?"
"Apa tadi pengakuanku bisa membuatmu percaya? Apa tadi bisa untuk meyakinkan seseorang?"
Se-seseorang katanya?
"Aku berencana menyatakan perasaanku pada Han Hyemi. Kau tahu dia kan? Pemain piano di sekolah kita? Tahu?"
Waktu kembali berjalan. Orang-orang sudah tidak menjadi patung lagi. Langit yang tadinya setengah mendung menjadi benar-benar mendung. Rasanya, sebentar lagi akan ada hujan. Bukan hanya hujan dari atas sana. Tapi juga dari mata seseorang.
"Ja-jadi kau tadi.."
"Ya. Aku mencoba mengatakannya padamu. Apakah kalimatku bisa meyakinkannya. Kau tadi benar-benar percaya kan? Wah.. kira-kira dia besok bisa seyakin dirimu tidak ya?"
Sesak. Dada Haehee benar-benar sesak. Jantungnya tetap bedetak cepat. Bukan karena bahagia, tapi kecewa. Bagaimana bisa Wonwoo melakukan ini padanya? Kenapa dia lakukan ini? Hatinya bukan mainan. Dia bukan kelinci percobaan kan? Tidak seharusnya Wonwoo melakukan ini. Dia.. dia terlanjur senang. Dia terlanjur melambung tinggi. Sangat bahagia ketika kalimat Wonwoo tadi terdengar jelas di telinganya. 'Aku menyukaimu'.
Aku juga menyukaimu. Aku mencintaimu.
Haehee bingung dengan situasi yang terjadi. Dia masih ingin berpikir positif. Dengan senyum dipaksakan dia berkata.
"Jeon.. tadi itu kau serius atau.."
"Serius? Tentu saja kalimatku serius. Aku benar-benar ingin mengutarakannya pada Hyemi besok. Apa kau pikir tadi aku..." Wonwoo memotong kalimatnya di tengah untuk tertawa, "Mana mungkin aku mengatakannya untukmu. Lucu sekali, Han. Aku menyukai Han Hyemi. Bukan Han Haehee."
Jatuh. Haehee benar-benar telah dijatuhkan dari langit. Jatuh ke jurang paling dalam di bumi ini. Saking dalamnya dia sampai tidak tahu bagaimana cara untuk kembali ke atas.
Sakit. Ya sakit. Hatinya sungguh sakit. Tidak pernah dia merasakan hal yang seperti ini sebelumnya. Rasanya seperti hatimu di cabik-cabik.. salah salah, hatinya bukan lagi dicabik, tapi di potong-potong, dan di buang di tempat sampah.
"Aku menyukai Han Hyemi, Nona Han. Bukan kau. Kau sahabatku. Mana mungkin aku menyukaimu. Aku tidak menyangka kalau kalimatku tadi benar-benar meyakinkanmu."
Haehee hanya diam. Sementara Wonwoo masih saja bicara tentang Han Hyemi-nya.
"Sudah. Lupakan soal kalimatku. Sekarang menurutmu, apa aku pantas bersama dengan Hyemi?"
Kau lebih pantas membuangku.
"Dia cantik, Han. Dia juga pandai bermain piano. Dia benar-benar tipeku bukan?"
Lalu apa gunanya selama ini aku les piano selain untuk menyenangkanmu, Jeon Wonwoo..
"Aku harus mengatakannya besok. Kau mau membantuku tidak?"
Setelah membuatku begini, kau masih ingin meminta bantuanku, Jeon?
"Kira-kira aku harus belikan apa, ya?"
Dua titik air mata jatuh bersamaan. Mengenai tangan Haehee yang ada dipangkuannya.
"Han.. besok kau-"
Haehee berdiri dari duduknya. Berusaha menutupi air matanya yang menggenang, dia memalingkan muka.
"Aku pulang."
Berjalan dengan terburu-buru. Secepat mungkin berusaha menjauh dari Jeon Wonwoo bodoh yang telah menjadikannya kelinci percobaan.
Haehee terus berlari. Tidak memperdulikan teriakan Wonwoo dari kejauhan. Setelah lumayan jauh dari posisi Wonwoo tadi, hujan turun begitu derasnya. Membuat langkah Haehee terhenti.
Berdiri di tengah jalan sepi sambil disuyur hujan. Sekarang dirinya-hatinya.. benar-benar telah hancur. Hatinya telah mati. Perasaannya telah mati.
ESTÁS LEYENDO
Confession
FanfictionDia akan mengingat ini. Satu hari penuh dengan kesedihan yang tak terbendung. Satu hari dimana dia merasa bahagia di awal, dan bersedih untuk seterusnya. Apa salahnya sampai semua ini terjadi padanya? Apakah dia telah berbuat dosa besar sampai Tuhan...
